Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 01 Desember 2019

Nekowa Utara

Minggu, 01 Desember 2019 14.10 No comments



Terdengar suara ketukan di pintu ruangan. Aku melihat ke arah pintu. “Ya, silakan masuk!”

“Permisi, Pak.” Gadis berbaju hijau cerah itu membuka pintu ruanganku. Oh, rupanya Rani. Sekretaris pribadiku.

“Iya Mbak Rani?” tanyaku.

“Izin menyampaikan, Pak. Baru saja ada SK dari Pak Bupati. Untuk Bapak.” kata Rani sambil melangkah masuk ke dalam ruangan. 

“Selamat atas jabatan barunya, Pak.” kata Rani sambil menyerahkan surat keputusan tersebut. Aku membaca sekilas surat keputusan yang diserahkan Rani. Aku sudah menduga cepat atau lambat hari ini akan tiba. Tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan ketidakpercayaanku. 

“Janggut Merlin!” aku mengumpat, tapi hanya dalam hati.

***

Pulau Anasoang adalah salah satu pulau terbesar di negara kepulauan ini. Diberi nama Anasoang, karena kalau dilihat di peta, sementara pulau-pulau lain tidak memiliki bentuk yang beraturan, kalian akan melihat pulau ini sangat mencolok karena bentuknya yang mirip dengan anak soang yang sedang berjalan. Tahu soang kan? Angsa itu lho. Dan Kabupaten Nekowa Utara ini masuk Provinsi Anasoang Tenggara. Jadi kalau di peta, ia terletak di bagian kaki sebelah kanan dari Pulau Anasoang. 

Dulu, sebelum jamannya otonomi daerah, Nekowa Utara masih jadi satu bagian dari Kabupaten Nekowa. Kabupaten Nekowa ini wilayahnya luas sekali. Hampir seluruh bagian kaki kanan di Pulau Anasoang ini masuk wilayah Kabupaten Nekowa. Makanya dulu, jadi Bupati Nekowa itu sudah seperti jadi seorang raja kecil. Bagaimana tidak, wilayahnya saja sudah hampir sama dengan wilayah satu provinsi, ditambah lagi dengan kekayaan alam mineral tambang yang jadi komoditas unggulan. 

Oh iya, Pulau Anasoang terkenal sebagai pulau penghasil nikel. Lebih-lebih lagi wilayah Anasoang Tenggara. Nikel banyak dicari oleh orang-orang karena ia adalah mineral yang punya sifat tahan karat. Nikel, jika dipadukan dengan besi, krom, dan logam lainnya, dapat membentuk baja tahan karat, atau yang lebih sering kita kenal sebagai stainless steel

Penduduk asli Nekowa, yang berasal dari suku Bayau, menyebut nikel sebagai bato rangi, atau batu dari surga. Mereka menganggap mineral nikel adalah pemberian Tuhan yang diturunkan langsung dari langit tanpa perantara, tertanam di balik selimut kerak bumi untuk memberikan energi kehidupan kepada penduduk Nekowa. Uniknya, nikel memang betul-betul berasal dari langit. Ia jatuh ke bumi sebagai meteorit. Nikel banyak ditemukan sebagai komponen dalam meteorit besi, dan menjadi komponen pembeda bagi meteorit dengan mineral lainnya. Meteorit yang berhasil mencapai permukaan bumi, terkikis dengan berlalunya ratusan hingga ribuan tahun cuaca, hingga ia ditahbiskan untuk membaur menjadi bukit, gunung, dan bebatuan di punggung ibu bumi.

Wilayah Kabupaten Nekowa yang dulu sangat luas, membuat daerah-daerah yang berada jauh dari pusat kota kurang mendapatkan perhatian pemerintah kabupaten. Termasuk daerah-daerah yang menjadi wilayah blok-blok tambang nikel seperti bagian utara Nekowa. Wilayah Nekowa Utara sudah seperti ampas pembangunan. Sebuah ironi bahwa sementara eksploitasi tambang di sini dilakukan dengan sangat masif, tidak ada kompensasi setara yang diberikan kepada masyarakat setempat. Misalnya perbaikan jalan kabupaten yang rusak parah oleh lalu lintas truk-truk tambang yang sangat padat, atau sarana kesehatan yang memadai sementara banyak masyarakat menderita ISPA karena harus menghirup debu-debu angkutan tambang sehari-hari. Di sisi lain, luasnya wilayah juga membuat masyarakat harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk keperluan pengurusan administrasi yang berhubungan dengan pusat pemerintahan kabupaten.

Oleh karenanya, setelah penerapan otonomi daerah, maka pada tahun 2003 dilakukan pemekaran daerah yang membagi Kabupaten Nekowa menjadi tiga wilayah yang lebih kecil, yaitu Kabupaten Nekowa dan dua daerah otonomi baru yang bernama Kabupaten Nekowa Selatan dan Nekowa Utara. Pak Tukadsa, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Nekowa, ditunjuk menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Nekowa Utara sekaligus pelaksana teknis Bupati untuk sementara hingga pelaksanaan pemilihan kepala daerah pertama Kabupaten Nekowa Utara yang rencananya baru akan dilaksanakan di tahun 2006. Sementara aku ditunjuk sebagai Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, melanjutkan karirku di bidang yang sama ketika masih di Pemda Kabupaten Nekowa. 

Dalam suasana euforia lahirnya kabupaten baru, aku ingat sekitar bulan November tahun itu, bertepatan dengan momen hari raya lebaran, aku mengajak Pak Tukadsa, atau yang akrab kupaggil Pak Kad, berkunjung ke Kampung Lowa, yang terletak di tepi Pantai Wapal. Kampung Lowa adalah wilayah yang banyak dihuni warga Suku Bayau, berupa rumah-rumah panggung di tepi laut, kampung asal keluarga besar istriku, Mar’amah. Ayah Mar’amah sekaligus mertuaku, Tuan Koiba, adalah tetua Suku Bayau yang tinggal di Kampung Lowa. 

“Kami orang Bayau ini Pak, bisa dibilang adalah anak kandung samudera. Laut sumber penghidupan kami, ia yang mewarnai jiwa kami,” kata Tuan Koiba sambil bercengkerama dengan kami di sisi rumah panggung yang langsung menghadap ke arah laut. 

“Kalau orang-orang barat itu mau bikin film superhero Aquaman, alih-alih berkiblat ke atlantis yang cuma mitos, suah pasti harusnya dia orang Bayau. Hahaha,” selorohku berusaha mencairkan suasana. Tapi, memang betul, fisik orang-orang Bayau seperti beradaptasi hingga mereka bisa menyelam tanpa peralatan apapun untuk jangka waktu yang cukup lama. Kadang aku suka mencermati leher istriku untuk mencari-cari barangkali ia sudah tumbuh insang.

“Memang, tapi bukan di laut merah seperti ini,” sambil memandang ke arah laut lepas, Pak Tukadsa kemudian berujar. Pandangannya tertuju pada warna air laut di hadapannya yang mulai berwarna kemerahan. 

“Masyarakat Kampung Lowa sekarang mayoritas bekerja di tambang nikel blok Lowa. Ada yang menjadi buruh kasar, sopir truk, operator alat berat tambang, atau sekedar buruh pengambil sampel ore nikel untuk diteliti. Walau begitu, kesejahteraan masih minim. Walaupun sedikit, paling tidak ada pemasukan, jika dibandingkan dengan mempertahankan profesi lama sebagai nelayan,” kata Tuan Koiba.

“Yah, kecuali keluarga Tuan Koiba dan sepuluh orang saudara kandungnya, Pak Kad. Keluarga kami sangat setia pada warisan leluhur, hidup dan mengabdi di laut,” aku menambahkan. Meskipun aku bukan orang asli Suku Bayau, namun aku bisa merasakan tekad yang semisal gemuruh ombak lautan di hati para Suku Bayau pelestari tradisi.

“Tambang nikel blok Lowa yang konsesinya dipegang oleh PT Wagai memang mesti ditertibkan praktiknya, Tuan Koiba,” kata Pak Tukadsa. 

“Betul Pak, tempo hari, ada riset dari NGO yang sampai ke Dinas. Katanya, untuk mengantisipasi pencemaran laut, perusahaan tambang harus membangun bak penampungan air guna mengatur sirkulasi air limbah olahan nikel. Kalau tidak, limbah tambang bisa berbahaya buat ekosistem laut karena mengandung logam berat. Karena PT Wagai tidak mengacuhkan hal ini, akibatnya bentos dan plankton yang jadi makanan ikan ikut tercemar kadar logam sisa tambang nikel” kataku. 

“Tidak heran tangkapan ikan kian hari kian menurun drastis jumlahnya. Tidak ada ikan yang betah hidup di habitat yang sumber makanannya tercemar,” kata Tuan Koiba menyetujui argumenku.

“Sepertinya, masyarakat luas punya harapan yang sangat besar pada pemerintahan kabupaten baru hasil pemekaran ini,” kata Pak Tukadsa.

“Selain itu, kalau bukan karena lebaran, sehingga tambang dan truk-truk angkutnya diliburkan untuk seminggu ini, pasti Pak Kad tidak bisa menghirup udara sebersih sekarang ini. Hari-hari kami berselimut debu,” kata Tuan koiba.

“Kami mengerti, Pak,” ujar Pak Tukadsa kemudian. Sambil tersenyum. Aku bisa melihat ketulusan itu di raut wajahnya. Ketulusan untuk memberikan harapan baru bagi masyarakat Nekowa Utara.

Kami sudah berkeliling ke hampir seluruh wilayah Nekowa Utara sepanjang tahun ini. Melalui pertemuan-pertemuan pribadi seperti ini, kami ingin menularkan semangat kepada seluruh masyarakat Nekowa Utara, kalau segala hal tentang pemekaran ini bukan tentang kami. Tapi tentang kita semua sebagai manusia-manusia, yang berbagi kenangan masa kecil, menyambung hidup ketika dewasa, dan beristirahat di usia senja, sebagai bagian tak terpisahkan dari bumi Nekowa Utara ini, apapun ras mereka.

Berat sekali beban harapan masyarakat yang saat ini harus ditanggung Pak Tukadsa. Aku tahu Pak Tukadsa berniat maju pada kontestasi pemilihan kepala daerah 3 tahun mendatang. Menjadikan dirinya martir, menanggung segala apapun konsekuensi politik demi membawa Nekowa Utara ke masa depan yang lebih baik bagi seluruh elemen masyarakatnya. 

***

Nekowa Utara memasuki babak baru dalam sejarahnya tepat pada tanggal 2 April 2006. Setelah menjalani proses yang cukup panjang dari konsoldasi mesin politik, masa kampanye, dan pemilihan langsung, pada akhirnya Pak Tukadsa dilantik sebagai Bupati Nekowa Utara hasil pemilihan kepala daerah langsung pertama. Ia memenangkan dengan telak kontestasi pilkada ini mengalahkan pasangan calon yang berlatar belakang himpunan pengusaha muda, atau kau boleh menyebutnya sebagai himpunan pemilik tambang. Pendekatan yang dilakukan secara telaten oleh Pak Kad kepada masyarakat akar rumput Nekowa Utara membuahkan hasil.

Aku menyaksikan sendiri pidato pelantikannya disambut gegap gempita oleh para nelayan suku bayau di Kampung Lowa. Dalam pidatonya itu seakan-akan Pak Kad sedang menabuh genderang perang, "Akan saya tertibkan perusahaan tambang perusak lingkungan!"

Hatiku ikut bergemuruh. Semilir angin perubahan ternyata tidak membuatmu menggigil karena dingin yang menusuk kulit. Justru sebaliknya, ia terasa hangat. 

***

Izin Usaha Pertambangan PT Wagai habis per tanggal 2 April Tahun 2010. Dengan kewenangan sebagai Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Nekowa Utara, tanpa ragu aku menolak usulan perpanjangan izin usaha pertambangan yang mereka ajukan. Kebetulan pemerintah pusat baru saja memberlakukan peraturan pemerintah nomor 23 tahun 2010 yang mengatur pemberian syarat izin tambang. Sudah jelas praktik yang dilakukan PT Wagai selama ini tidak patuh pada persyaratan lingkungan yang diatur dalam peraturan pemerintah tersebut.

Namun, pada hari senin pekan berikutnya, pak Kad yang kini telah menjadi Bupati meneleponku. Ia mengundangku untuk bertemu di rumah dinasnya sore ini.

Di meja tamu sore itu kami berbincang. Ada kebekuan di wajah Pak Kad. Kebekuan yang aneh. Sama seperti beberapa bulan terakhir.

“Kudengar kau menolak perpanjangan izin tambang PT Wagai.” kata Pak Kad.

“Memangnya kenapa Pak?” tanyaku.

“Kau beri izin sajalah” kata Pak Kad memotong keherananku.

“Pak bukankah kita sudah sepakat untuk…”

“Kamu sudah paham kan Dana Bagi Hasil yang diberikan Pemerintah Pusat kepada Kabupaten kita ini bergantung pada seberapa besar pembayaran royalti oleh Perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah kita itu. Toh, semuanya untuk kebaikan masyarakat Nekowa Utara kan. Aku bisa memperbaiki jalanan yang rusak karena tambang sebagai gantinya. Sudahlah!” kata Pak Kad.

“Tapi Pak. Ini bukan melulu soal uang. Ini kesejahteraan hidup warga mas....”

“Sudah, aku mau besok kau setujui permohonan perpanjangan izin usaha mereka” Pak Kad menutup pembicaraan kami sore itu.

***

Dan di sinilah aku sekarang. Pak Kad baru saja memindahkanku menjadi Kepala Perpustakaan Daerah Kabupaten Nekowa Utara karena aku bersikukuh menolak perpanjangan izin pertambangan PT Wagai. Dari jendela di ruangan baruku ini aku bisa melihat di kejauhan laut merah Pantai Wapal. Lambang dari kegagalanku dan pupusnya perjuanganku selama ini. Siang itu aku memandanginya sambil menelepon Mar’amah, istriku.

“Halo, Abah,” kudengar suara istriku menjawab dari ujung telepon.

“Halo,” jawabku. Lalu hening sejenak.

“Amak sudah makan siang?” tanyaku memecah keheningan.

“Sudah dong Abah,” aku mendengar nada ceria istriku di ujung telepon. Meski begitu, aku tetap bisa menangkap kegetiran di balik perkataannya itu. Aku tidak bisa mengabaikannya. 

Semenjak Pak Kad mencederai komitmennya kepada masyarakat Suku Bayau, istriku seolah menarik diri dari keluarganya. Ada perasaan bersalah yang teramat sangat, mengingat bagaimana kami dahulu meyakinkan warga kampung Lowa juga suku-suku Bayau di tempat lain untuk mendukung pencalonan Pak Kad. Nyatanya, aku pun keheranan bagaimana Pak Kad bisa berubah seratus delapan puluh derajat dari Pak Kad yang berkunjung ke Kampung Lowa tahun 2003 silam. 

Namun, setiap kali pulang ke rumah sebisa mungkin aku tidak menampakkan kekhawatiran ataupun kemuraman ini di hadapan Mar’amah. Kalau aku sebagai kepala keluarga sedikit saja menampakkan kegundahan di air mukaku, apa istriku tidak makin terbenam dalam kesedihannya?

“Wa’alaykumussalam warahmatullah,” kami mengakhiri pembicaraan kami yang singkat melalui telepon siang ini. Namun tiba-tiba teleponku kembali berdering.

“Halo Pak Wala. Selamat siang. Bagaimana kabarnya?” Pak Wala adalah Kepala DInas Kehutanan Kabupaten Nobu, sebelah utara Kabupaten Nekowa Utara. 

“Kabar baik Bos,” setelah bertukar kabar ia mulai menjelaskan maksudnya meneleponku.

Rupanya, Gubernur Anasoang Tenggara meminta Bupati Nobu dan Bupati Nekowa Utara untuk memberikan rekomendasi izin usaha eksplorasi secara backdate kepada PT KCCorp. Perusahaan tambang yang berafiliasi dengan konsultan politik Gubernur Anasoang Tenggara dalam pemilihan kepala daerah yang lalu. 

Hal ini terkait dengan aturan di Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 yang terbit tahun lalu dan mensyaratkan proses lelang untuk dapat memperoleh wilayah izin usaha pertambangan (WIUP). Gubernur tidak suka dengan persyaratan lelang tersebut dan akan makan waktu lama bagi PT KCCorp untuk mendapatkan Izin usaha jika melalui lelang. Maka ia mencoba mengakali prosedur di UU tersebut dengan merekayasa seolah-oleh pemberian izin usaha eksplorasi nikel yang diberikan kepada PT KCCorp terjadi di tahun 2009, dengan melakukan backdate pada semua dokumen pendukung, termasuk rekomendasi Kabupaten Nobu dan Kabupaten Nekowa Utara.

Permasalahan timbul karena blok yang akan dikuasakan kepada PT KCCorp adalah blok Lowa yang saat ini dikonsesikan ke PT Wagai, sekaligus mencaplok sedikit wilayah hutan lindung Kabupaten Nobu yang memang berbatasan dengan Blok Lowa. Gubernur Anasoang Tenggara sengaja memilih wilayah yang menabrak dua kabupaten agar kewenangan menerbitkan izin pertambangan ada di pemerintah provinsi.

“Memangnya sudah ada surat keputusan Menteri Kehutanan tentang alih fungsi hutan lindung?” tanyaku.

"Kau lupa ya, Menteri Kehutanan kan orang Matahari Baru. Satu partai mereka itu!"

"Saus tartar!" aku mengumpat dalam hati. Sebegitu rapinya rencana orang-orang ini, hingga semuanya telah tersaji lengkap di atas nampan berwarna perak. 

"Lalu bagaimana pendapat Takri? Kau sudah menghubunginya?" Takri itu nama Kepala Dinas baru yang menggantikanku.

"Hahaha..Kau bercanda? Mantan orang Inspektorat itu kan cuma fasih ngomong soal kasus pegawai yang selingkuh atau cerai. Mana ngerti dia soal kasus begini. Rejeki nomplok, baru menjabat seumur jagung, sudah dihadapkan masalah serumit ini."

"Aku lebih ingin tahu bagaimana pendapatmu?" lanjutnya.

Aku tidak serta merta menjawabnya. Namun aku bergumam dalam hati, “berhadapan dengan tentakel oligarki, kau butuh nasihat apalagi, selain mulailah kalian menenun bendera putih lalu mengibarkannya tinggi-tinggi?” 

Diam-diam aku memang menyadari bahwa kekecewaan itu perlahan-lahan mengubahku menjadi seorang yang sinis. Tapi jujur saja, aku agak ngeri melihat bagaimana dua kawanan serigala akan saling memangsa seperti ini.

***

Akhir tahun 2018. Aku berjalan menyusuri bibir pantai Wapal bersama istriku Mar’amah. Tuan Koiba, mertuaku, baru saja meninggal kemarin lusa karena infeksi saluran pernapasan akut. Aku terdiam memandangi pantai Wapal yang beberapa tahun silam jadi dermaga bagi nelayan-nelayan suku bayau. Yang tersisa kini hanya bangkai-bangkai perahu nelayan yang teronggok seperti fosil. Para penyelam tangguh itu telah menyerah pada gigitan taring kebutuhan ekonomi dan kini bekerja di smelter-smelter pengolahan nikel. Pemerintah pusat melakukan moratorium ekspor nikel untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri. Kudengar Uni Eropa berang. Jelas saja, mereka kehilangan salah satu sumber nikel ore yang harganya miring.

Saat ini Pak Kad sedang menjalani sidang terkait suap PT Wagai kepada Bupati terkait perpanjangan izin tambang tahun 2010 silam. Gubernur Anasoang Tenggara justru sudah lebih dahulu mendekam di penjara atas kasus perizinan tambang kepada PT KCCorp. Komisi Anti Rasuah (KAR) nampaknya sedang mencoba memandangi lekat-lekat sengkarut praktik perizinan tambang nikel di Pulau Anasoang. Mereka bekerjasama dengan BPKP mengawal langsung Kasus Gubernur Anasoang Tenggara, juga kasus Pak Kad.

Dari fakta di persidangan itu aku jadi tahu kalau Pak Kad mempertahankan status quo praktik pertambangan bukan semata-mata alasan keberlangsungan ekonomi daerah. Seperti yang seharusnya aku sadari, orang baik seperti dia pada akhirnya berlutut menerima suap dari pengusaha tambang. Bagaimana tidak, ia memang butuh uang untuk memberikan kontribusi pada partai politik yang mengusungnya di pilkada. Aku terlalu naif dengan berpikir kalau partai politik adalah kendaraan yang bisa melaju tanpa bahan bakar apa-apa kecuali ideologi. 

Diseretnya Pak Kad ke meja hijau bukan berarti permasalahan lingkungan di Nekowa Utara telah tuntas. Sementara laut yang memerah di Pantai Wapal makin pekat. Debu yang menyelimuti Kampung Lowa kian tebal dari hari ke hari. Lalu kapankah keadilan itu akan menampakkan batang hidungnya?


0 Chirping sounds:

Posting Komentar