Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 02 November 2018

Aircrash: Antara Rekomendasi Investigator dan Kebijakan Regulator

Jumat, 02 November 2018 04.21 No comments
Ada kabar yang cukup menarik sebagaimana diberitakan oleh Kompas, bahwa dalam investigasi atas penyebab jatuhnya pesawat Lion Air penerbangan JT 610 di Perairan Tanjung Karawang, NTSB dan Boeing akan turut serta di dalamnya. 

Sumber: Kompas
Melihat rekam jejak NTSB dalam melakukan investigasi atas beragam kecelakaan pesawat yang pernah terjadi di seluruh dunia, seperti diabadikan oleh National Geographic dalam serial dokumenter Air Crash Investigation, cukup optimis bahwa kasus ini akan terurai dengan apik. Setidaknya selama ini, dengan dukungan data yang memadai NTSB punya kemampuan analisis yang mengagumkan untuk menemukan akar permasalahan sesungguhnya dari setiap kecelakaan pesawat. Termasuk kemampuan merangkai informasi dengan berangkat dari data yang terlihat acak, namun ternyata menjadi kunci dari sebuah kecelakaan pesawat. Data manifes penumpang, misalnya. Siapa yang tahu?

Lalu di akhir investigasi, NTSB lumrahnya memberikan rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh pengambil kebijakan. Jika hasil investigasi misalnya menunjukkan penyebab kecelakaan ada di prosedur operasional penerbangan, maka diformulasikan usulan kebijakan terkait prosedur standar tertentu untuk diformalkan. Lain halnya jika penyebab kecelakaan adalah permasalahan teknis seperti desain pesawat, maka NTSB merekomendasikan perubahan desain pesawat kepada produsen pesawat serta maskapai pengguna pesawat sejenis, dengan tidak lupa meminta agar regulator memastikan rekomendasi tersebut dijalankan oleh produsen juga maskapai terkait tadi.

Bagaimanapun, pada akhirnya bola tindak lanjut atas rekomendasi NTSB kembali bergulir kepada regulator. Kalau tidak? Ada baiknya berkaca pada dua kasus kecelakaan pesawat buatan McDonnel Douglas tipe DC-10. Kedua kecelakaan pesawat tersebut intinya disebabkan oleh desain pintu bagasi yang buruk. Desain pintu bagasi tersebut mengakibatkan adanya dekompresi ketika pesawat sedang terbang di angkasa. Dekompresi ini pada akhirnya mampu membuat lubang besar di kabin pesawat, dan tentu saja, melontarkan para penumpang keluar pesawat.

Kecelakaan pertama pesawat DC-10 menimpa maskapai American Airlines dengan nomor penerbangan 96 pada pertengahan tahun 1972. Saat itu, penerbangan ini tengah mengangkut 67 orang penumpang, ketika tiba-tiba terjadi goncangan dalam pesawat seolah baru saja terjadi ledakan. Pramugari yang selamat sempat memberikan kesaksian bahwa ia menyaksikan ada satu lubang besar dalam kabin pesawat. Beruntunglah, penerbangan kali itu dipimpin oleh pilot yang handal. Sang pilot dalam kondisi kritis tersebut mampu membawa pesawat untuk kembali ke bandara. Seluruh penumpang penerbangan ini pun selamat. NTSB segera turun tangan melakukan investigasi atas insiden ini, dan menemukan permasalahan pintu bagasi tersebut. NTSB merekomendasikan perbaikan desain pesawat kepada McDonnel Douglas selaku produsen pesawat, dengan FAA bertanggung jawab memastikan implementasi perbaikan tersebut dilaksanakan.

Nahasnya, tidak sampai dua tahun sejak kecelakaan yang menimpa American Airlines 96, di awal tahun 1974 kembali terjadi kecelakaan serupa pada pesawat DC-10 yang kali ini menimpa Turkish Airlines dengan nomor penerbangan 981. Bedanya, tidak seorang pun penumpang maupun kru pesawat selamat dalam kecelakaan ini (zero survivor). Penyebabnya sama persis, dekompresi oleh karena desain pintu bagasi yang buruk. McDonnel Douglas pun harus menghadapi tsunami tuntutan hukum pasca kasus ini. Dan dalam salah satu pembelaannya McDonnel Douglas menyalahkan FAA karena tidak menerbitkan airworthiness directive pasca kecelakaan American Airlines. Alih-alih, FAA pasca kecelakaan American Airlines justru bersepakat dengan McDonnel Douglas untuk mengamini kesulitan atas modifikasi desain bagasi pesawat tersebut, dan akhirnya menyetujui perubahan minor pada desain pintu bagasi pesawat sebagai alternatif. Yang tentu saja, solusi alternatif ini adalah bom waktu, karena tidak menyelesaikan permasalahan apapun terkait desain pintu bagasi pesawat DC-10.

Bola dalam tindak lanjut atas kecelakaan pesawat ada di genggama
n regulator. Inilah pentingnya regulator mempertahankan independensinya dari berbagai macam kepentingan dalam percaturan bisnis maskapai penerbangan. Semoga.

0 Chirping sounds:

Posting Komentar