Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 10 Juni 2018

Suramadu

Minggu, 10 Juni 2018 02.53 No comments
Perjalanan dari bandara Juanda ke rumah tadi, kami diantar oleh driver taksi bandara yang berasal dari madura. Hampir saya tidak percaya bapak driver ini orang madura karena beliau bicara bahasa jawa krama inggil fasih sekali. Apalagi sebelum menjalani profesi saat ini di surabaya, beliau sempat malang melintang selama 7 tahun menjadi supir angkot di kota seribu angkot alias buitenzorg. Dengan unggah ungguh sebagus itu, dugaan saya bapak ini adalah alumni pondok.

Menjadi driver taksi bandara di Juanda, seringkali beliau dapat order mengantar penumpang hingga ke ujung Madura, Sumenep atau Pamekasan misalnya. Nah karena bapak driver ini asli Pamekasan, alias orang tua dan sanak keluarganya banyak bermukim di sana, kesempatan mengantar penumpang ke daerah sekitar kampung halaman jelas tidak akan disia-siakan tanpa menyempatkan diri bersilaturrahim. Kesempatan-kesempatan seperti inilah yang agaknya saya tangkap membuat beliau merasa ayem menjalani profesinya saat ini, jika dibandingkan petualangannya mbabat alas di bogor dulu.

Jika mau ditelisik lebih jauh lagi, maka tidak dapat dipungkiri bila konektivitas Pulau Madura dengan saudara seprovinsinya di Pulau Jawa ini adalah andil dari didirikannya Jembatan Suramadu. Jembatan yang menjadi jembatan terpanjang di Indonesia ini, mampu menggantikan fungsi kapal feri yang dulu menjadi satu-satunya alternatif moda transportasi untuk keterhubungan kedua pulau. Fyi, waktu balita dulu saya pernah diajak Bapak naik kapal feri nyeberang ke Madura ini, dan hasilnya Ibu di rumah jadi kzl karena aing pulang dalam keadaan geliseng kaya ubin bengkel, ngahaha. Lha sekarang, kalau situ niat iseng sekadar ingin mbolang dari surabaya ke madura terus balik lagi, naik motor aja jadi, asal kuat bayar dan kuat menahan arus angin laut biar ndak terpental miber waktu nyetir.

Konektivitas, bagi wilayah ekonomi berbasis kepulauan, tak pelak memang hal yang tidak bisa ditawar pentingnya. Isu ini pernah diangkat oleh Eiichiro Oda melalui karakter bernama Tom si manusia ikan, ketika ia mengisahkan petualangan topi jerami di pulau Water 7. Water 7 adalah pulau di perairan Grand Line dengan komoditas perekonomian utama berupa konstruksi kapal.

Malangnya, pulau yang mengingatkan kita pada kota Venesia di eropa ini, harus menelan keganasan perairan Grand Line berupa Aqua Laguna, badai besar tahunan yang membawa ombak ganas raksasa. Ganasnya Aqua Laguna mampu menaikkan level permukaan air laut di pulau Water 7 setiap tahun hingga pulau ini terancam musnah terbenam sebagaimana legenda Atlantis. Aqua Laguna juga menghajar habis-habisan perekonomian Water 7 oleh karena transportasi kayu dari pulau lain sebagai bahan utama produksi kapal turut tersendat. Akhirnya, enam dari tujuh galangan kapal yang menjadi ujung tombak perekonomian Water 7 harus tumbang. Kecuali satu, yakni galangan kapal milik Tom si manusia ikan, Tom's Workers.

Tom's Workers bertahan dengan satu mimpi besar: konektivitas antar pulau. Ia ingin merancang sebuah moda transportasi alternatif, untuk menggantikan kapal yang mudah tumbang jika diterjang Aqua Laguna. Tom, bersama kedua murid pekerja di galangan kapal miliknya, Cutty Flam dan Iceberg, ingin menciptakan kereta api yang mampu melaju kokoh menembus ganasnya Aqua Laguna. Sebuah kereta api yang melaju di atas air! Tom bersikukuh menekuni mimpinya ini dengan nafas terengah-engah sembari menahan desakan dari pemerintah dunia yang terus merongrongnya karena dianggap punya catatan kriminal sebagai pembuat kapal laut milik Roger, sang raja bajak laut. Oleh karena Tom sadar, jika keterhubungan antar pulau tidak segera diupayakan, maka Water 7 juga pulau-pulau di sekelilingnya akan tumpas begitu saja oleh sebab kelesuan ekonomi, bahkan sebelum dilumat tenggelam oleh Aqua Laguna.

10 Juni 2018 ini, tepat 9 tahun sejak Jembatan Suramadu dulu diresmikan oleh Pak SBY. Tepat di tahun politik 2009 yang menjadi masa transisi menuju dua periode pemerintahannya. Yang baik tetaplah baik, dan kini jembatan ini menjadi infrastruktur monumental tidak hanya karena kemampuannya menjembatani pulau dan pulau, namun juga mendekatkan hati dan hati~

#TerimaKasihPakBeye

0 Chirping sounds:

Posting Komentar