Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 07 November 2013

Dua Peluru, Beruntai Rindu

Kamis, 07 November 2013 21.20 No comments
pic: http://deviantart.net

Genap sudah aku menorehkan guratan yang ke seribu tujuh ratus. Tersenyum. Jika dadaku adalah gunung vulkanik, maka para penduduknya sudah mesti mengungsi. Iya, mereka semua mesti mengungsi. Rindu-rindu yang membuncah itu. Kamu mau menampungnya? Haha, kamu. Mengingat kata itu senyumku kian ringan. Bersabar ya sayang, waktunya segera tiba.

*** 

Hari ini pun aku makan nasi basi lagi. Opsir-opsir keparat itu. Uang-uang dari pemerintah mereka tilap ke dalam perut-perut yang makin buncit. Aku rindu masakanmu. Masakan yang malu-malu tanggung itu, antara keasinan atau kemanisan. Haha, demi menjadi ratu di rumah kecilku, dan kamu mau memaksa diri belajar memasak. Meski aku ingat bagaimana gagapnya kamu mengupas kentang dan merajang wortel. Atau bagaimana bisa kamu menukar–demi Tuhan!–gula dengan garam. Membuat tempe terasa manis dan sambal terasi membuat dahi mengrenyit saking asinnya.

Salahku sendiri jatuh cinta padamu. Maka yang keluar dari bibirku cuma pujian dan kecupan di pipimu yang merona malu itu. Haha. Bukan apa-apa, semua usahamu yang lugu itu cukup membuat laki-laki tak punya masa depan sepertiku merasa istimewa. Sambil tersenyum aku menoreh guratan ke seratus lima puluh di dinding. Aku rindu.

*** 

Aku teringat, malam itu barangkali untuk terakhir kalinya aku mengantar Juwita ke depan kelab malam Morobungah. Yah, setelah sebulan menikah denganku dia memutuskan untuk menyudahi pekerjaan yang menumpas raga dan batin itu. Ia sudah tidak tahan berpura-pura tersenyum genit setiap kali dicolek bajingan-bajingan mabuk itu, katanya.

Aku sudah nyaris berbalik ketika aku mendengar suaranya yang manja. Memanggilku. Aku menoleh.

“Aku sayang kamu,” katanya. Dengan senyum malu-malunya yang paling manis sedunia itu.

Aku tidak berkata apa-apa. Agaknya untuk beberapa menit detak detik waktu dalam duniaku membeku. Malam itu aku jatuh cinta kepadamu. Untuk yang kesekian kalinya. Malam ini semua memori itu terputar begitu saja. Sembilan ratus guratan di dinding. Di ruang pengap tempat opsir-opsir yang merangkap jadi anjing suruhan Don menyayat sekujur tubuhku untuk kesekian ratus kalinya. Aku mati rasa. Melarikan diri pada kenangan masa indah bersamamu. Sungguh kaulah seorang. Bidadari yang kan selalu kukenang.

 *** 

Aku tahu Don tidak akan tinggal diam pada pembunuh putra semata wayangnya. Diamante, lelaki tanggung kekanak-kanakan dengan rambut bawang itu adalah putra mahkota yang digadang-gadang kelak mewarisi dinasti mafia berikut seluruh roda bisnis bawah tanah Don. Gagal menyudahi nyawaku dengan tangannya sendiri sebab aku keburu menyerahkan diri, ia kirim uang panas pada jaksa penuntut beserta seluruh rantai yudikatif yang memproses hukumanku, memastikan aku tidak akan tinggal hidup. Hasilnya sudah jelas, aku dianugerahi vonis mati dengan tuduhan yang dibuat-buat.

Aku tidak peduli kalian hendak membenarkanku atau tidak dalam perkara ini. Di malam naas itu Diamante dan kroco-kroconya bersarang di Morobungah, tempat Juwita bekerja. Juwita membawakan minum buat mereka. Sambil dituangkan minum, mulailah tangan-tangan kurang ajar itu menjamahi tubuh Juwita. Awalnya seperti biasa ia cuma menanggapi ketololan ini dengan senyum penuh keterpaksaan. Kesabarannya habis ketika Diamante yang mabuk langsung memeluk tubuh Juwita. Juwita berontak. Diamante makin kurang ajar. Serentak ia renggut botol minuman yang dapat ia jangkau, dan menumpaskannya ke kepala Diamante. Kepala congkaknya terluka parah.

Anak buah Diamante berang. Dihempaskannya tubuh Juwita ke arah meja yang dipenuhi gelas. Sebagian dari mereka segera menarik senapan. Sejurus belasan selongsong peluru berjatuhan, dengan salah satu proyektil bersarang di jantung Juwita. Jantung yang mendetakkan cintaku dan Juwita.

Para pengecut itu segera beranjak meninggalkan kelab. Membawa bos muda mereka yang telah hancur martabatnya di tangan Juwita yang tak lagi bernyawa. Ia sama sekali tak takut pada jeratan hukum. Bisnis bawah tanah yang jadi tambang emas Don bisa membeli segalanya.

Dia boleh membeli hukum dari para aparat laknat. Tapi tidak dariku. Berbekal kemampuan spionase amatiran, dalam satu kesempatan aku berhasil memojokkan Diamante. Aku bukan dewa yang maha pengampun. Kepala Diamante pun terpisah dari badannya. Mata dibayar kepala.

*** 

Maka di sinilah hidupku berakhir. Di hadapan regu eksekutor legal yang hakikatnya tidak lebih dari jagal-jagal belian Don. Ketika mereka menawariku untuk mengenakan kain penutup wajah selama eksekusi berlangsung, aku segera menolaknya. Aku hendak mengirimkan senyum kemenangan pada mafia renta itu. Dan kepada Juwita.

Setidaknya aku ingin beruluk pesan. Akankah sampai? Bahwa sekalipun tak bersama, rasa ini kan tetap selalu ada, hingga waktunya, hingga tiba waktunya. Terindah.

“Waktunya tiba, sayang..” gumamku lirih di antara desingan peluru.


–inspired from Calvin Jeremy - Terindah http://www.youtube.com/watch?v=PN7XAfYm3S8

0 Chirping sounds:

Posting Komentar