Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 17 Februari 2012

Mpit Nah

Jumat, 17 Februari 2012 15.03 , , No comments
Kebetulan malam itu saya lagi nyeruput kupi di warkop Cak Lontong. Istri saya yang paling unyu, lagi ngambek di rumah, jadi saya nyelintung keluar malam itu. Tiba-tiba Pak Kyai Mendhem, yang beberapa bulan terakhir jadi agak kondang dan gaul dengan banyak kawula elit politik, nepuk pundak saya. Saya cuma bisa ndingkluk, enggeh-enggeh saja. Lalu beliau duduk, mesen kopi, terus nyulut rokok. Mungkin istri beliau juga lagi ngambek di rumah, hehe..

Tiba-tiba, beliau ngendika, “He mas, Sampiyan tahu, Kanjeng Nabi dulu dakwah sampai berdarah-darah itu, cuma iseng saja. Nggak guna sebenarnya.”

“Loh, sek, sek, Kyai, kulo ndak faham ini Kyai..”

“Orang Arab Jahiliyah dulu, mereka menganut millah Ibrahim. Jadi Tuhannya Allah juga.”

“Tapi mereka kan menyembah berhala tho Kyai..”

“Kementhus sampiyan itu, sok tau. Sampiyan baca itu Al Qur'an, surah Az Zumar ayat 3, orang quraisy bilang soal berhala-berhala mereka, 'kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'. Berhala-berhala itu cuma wasilah, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tuhan jagat raya, bagi mereka tetep Allah, brur..”

“Oh, jadi mereka itu aslinya ndak apa-apa ya, Kyai, ndak musyrik ya, Kayi?”

“Hush, bilang musyrik, musyrik, ente wahabi yo?”

“Waduh, ampun Kyai, kulo fakir ilmu Kyai, ampun..”

“Terus juga, Kanjeng Nabi itu mendakwahi para ahlul kitab, Yahudi Nasrani. Buat apa coba nak pikir? Sangat tidak mengajarkan kerukunan antar umat beragama!”

“Waduh, ngopo tho maksudnya Kyai?”

“Aduh, sampiyan itu masih muda, mesti iqro’, yang semangat baca buku yo. Masa’ gini aja ora mudheng!”

“Hehe..”

“Sampiyan musti faham filsafat perennial, agama-agama itu, ada level eksoterik, dan ada level esoterik. Level eksoterik, itu kulitnya yang kita lihat ada macam-macam agama, islam, kristen, yahudi, zoroaster, hindu, budha, syi’ah, ahmadiyah, bahkan agama jahiliyah arab dulu! Tapi di level esoteris, semua manusia sama-sama berislam, berserah diri kepada satu Tuhan.”

“Oh, gitu tho Kyai..”

“Lho iya tho. Lha terus nantinya lewat filsafat perenial ini, pencarian akar-akar bangunan epistemologi dari teologi inklusif tidak berhenti pada ditemukannya ulitimate reality, namun dapat diresap lebih dalam lagi, yaitu kita mengalami pengalaman mistik spiritual sendiri berupa penyatuan diri, manunggal dengan Tuhan..”

“Ooo..”

“Jadi kalo kata di buku itu, hanya melalui perpektif filsafat perenial yang bersifat transhistoris, penganut teologi inklusif itu dimungkinkan, untuk mencapai okumenisme otentik, abadi dan perenenial, walau hal tersebut hanya dapat dijalani secara esoterik (batini) karena memang harmoni agama-agama hanya dapat dicapai dalam ‘langit ilahi’, bukan dalam ‘atmosfir bumi.’ Jadi tidak perlu itu kita dakwah ke umat agama lain, makanya saya bilang kan, dakwah Kanjeng Nabi dulu itu iseng..”

“Wah, saya ampun lah Kyai, bisa meledak kepala saya kalo ngobrol yang berat-berat macem barusan. Awkawk...”

“Nah, terus yang terakhir ini. Kanjeng Nabi dulu pake mengkritik ribanya orang Yahudi segala, kolot betul Kanjeng Nabi itu, padahal sekarang, lihat, dengan riba negara punya instrumen moneter untuk menghadapi inflasi. Iya tho? Itu kan maslahat buat ummat.”

“Oh, begitu tho, Pak Kyai. Jadi Kanjeng Nabi itu iseng.”, kataku sambil manggut-manggut. Heran.

Aneh juga Pak Kyai malam itu. Lalu coba kudekatkan hidungku ke Pak Kyai, mencoba mencium barangkali ada bau alkohol, ternyata ya tidak. Sejurus aku baru sadar penampilan Pak Kyai yang sangat parlente malam itu, mbois betul. Baju koko sederhananya diganti hem plus dasi dan jas mirip eksmud. Celana nggantungnya menjelma jadi celana Gucci. Kupluk putih lusuhnya sekarang ganti peci nasional yang kinclong. Oh, benar ternyata Pak Kyai ini memang sedang mabok!

0 Chirping sounds:

Posting Komentar