Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 17 Februari 2012

Dari Buletin Jum'at..

Jumat, 17 Februari 2012 15.09 No comments
Uraian singkat ini saya nukilkan dari buletin Jum'at Al Furqon Edisi Tahun ke-6 Volume 11 No. 3 yang kebetulan sedang membahas tema mewaspadai keyakinan ingkar takdir. Ini saya kutipkan bagian wasiat dan penutup di buletin itu. Insya Allah ada penjelasan yang cukup mengena mengenai takdir, yang di beberapa pertemuan terakhir sering menjadi pertanyaan mengganjal bagi beberapa ikhwah. Monggo disimak, semoga bermanfaat.. :)

***

oleh: Abu Usamah Hafidhullah

Dahulu Wahb bin Munabbih rahimahullah, seorang imam tabi'in pernah mengatakan, "Aku mencermati takdir, lalu aku pun bingung. Kemudian kuulangi lagi dan aku bingung lagi. Maka aku yakin bahwa orang yang paling paham dengan takdir adalah orang yang sangat bisa menjaga lisannya, sedangkan orang yang bodoh terhadap takdir adalah yang selalu mempermasalahkannya." 1
Imam ath-Thahawi rahimahullah juga mewasiatkan, "Qadar adalah rahasia Allah SWT terhadap makhluk-Nya. Tidak ada satu pun yang sanggup menerawangnya, baik malaikat yang dekat maupun nabi yang disuruh. Memperdalam dan selalu membincangkannya merupakan jalan kehinaan, tangga kehampaan dan melampaui batas. Maka berhati-hatilah selalu dari masalah itu dengan selalu memikirkan, meneliti dan merasa was-was. Karena sesungguhnya Allah telah menutup celah ilmu takdir dari makhluk-Nya dan Dia melarang mereka untuk mencarinya sebagaimana difirmankan. (Q.S. Al Anbiyaa’: 23)2 maka siapa saja yang bertanya, “Mengapa Allah melakukan ini?” berarti dia telah menolak putusan Al Qur’an. Dan barangsiapa yang menolak hukum Al Qur’an maka termasuk orang yang ingkar. " 3

Ibnu ad-Dailami rahimahullah pernah mengadu kepada Ubay bin Ka’ab ra, “Sungguh dalam diriku ada sesuatu tentang masalah takdir (kurang sreg), maka kabarkan kepadaku sebuah hadits semoga Allah SWT berkenan menghilangkan hal itu dari diriku.” Beliau berkata, “Seandainya Allah SWT mengadzab seluruh penduduk langit dan bumi maka Allah tidaklah menzalimi mereka. Seandainya pula Allah SWT merahmati mereka semua, maka rahmat-Nya tetap lebih baik daripada amal mereka. Dan seandainya engkau punya sebongkah emas sebesar Uhud kemudian engkau sedekahkan di jalan Allah SWT, niscaya Dia tidak akan menerimanya sebelum engkau mengimani takdir dan bahwasannya apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset, dan apa saja yang terhindar darimu tidak akan pernah menimpamu.4 Seandainya engkau mati bukan dalam keyakinan ini niscaya engkau akan masuk neraka.” Lalu aku (Ibnu ad-Dailami) menemui Ibnu Mas’ud ra, Hudzaifah bin al-Yaman ra, dan Zaid bin Tsabit ra semua berpendapat sama. 5

Dan yang terakhir adalah wasiat dari Nabi saw ketika beliau menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau neraka. Maka sebagian sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah saw, apakah kita tidak bersandar pada catatan tersebut saja dan tidak usah beramal?” maka beliau berwasiat, “Beramallah, karena setiap kalian akan dimudahkan menurut takdir awal penciptaannya. Barangsiapa yang termasuk pemilik kebahagiaan maka akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang yang berbahagia, sedangkan siapa saja yang termasuk orang-orang yang celaka maka ia akan dimudahkan beramal dengan amalan orang yang celaka.” Lantas beliau membacakan ayat 5-10 dari surat al-Lail. 6

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (Q.S. AL Lail: 5-10)

Wallahu a’lam..

------------------------------------------------------------------------------------------------

1 Syarh ath-Thahawiyyah: 70, tahqiq Ahmad Syakir

2 “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (Q.S. Al Anbiyaa’: 23)

3 Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah: 249, tahqiq al-Albani

4 Ingat kembali hadits Jibril tentang islam, iman, dan ihsan. Salah satu arkanul iman (rukun iman) adalah mengimani takdir baik dan buruk.

5 HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykah: 115)

6 HR. Al-Bukhari: 4949 dan yang selainnya.

0 Chirping sounds:

Posting Komentar