Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Senin, 10 Oktober 2011

Mbijuk

Senin, 10 Oktober 2011 02.07 No comments

http://2.bp.blogspot.com/-4UQTI3kpZHk/TmDhECSjnoI/AAAAAAAAFrY/myvtoSBEdYk/s400/Black_Briar_Sabin_Mirror_Mirror_on_The_Wall.jpg
image: http://amypagnotta.blogspot.com

Penghulu, muasal dari segala dosa boleh agaknya dinisbatkan pada satu hal, bohong. Ragam rupa dusta, mbijuk istilah jawa-timurannya. Membohongi batin, membohongi diri, sampai membohongi khalayak. Bagi yang sudah sampai kisah tentang terusirnya iblis dari surga, tentu mafhum bahwa sang azazil, utama terusir oleh dua perkara. Sombong dan dengki. Jika boleh kita sibak lebih dalam lagi, kita akan menjumpai bahwa kedua perkara ini lahir dari satu rahim yang sama, yaitu dusta. Dan memang kebohongan itu begitu halus, sampai banyak orang yang menyangkanya sebagai bisikan kalbu....

Sombong adalah tentang berbohong dengan mengatakan kepada diri sendiri, bahwa dirinyalah, makhluk yang paling mulia, paling suci, paling top. Pula dengki, adalah juga tentang berbohong dengan membisik kepada dirinya sendiri bahwa tidak mungkin, orang lain itu, bisa lebih baik, lebih utama dari dirinya. Begitu, dan uniknya, pada akhirnya dengan dusta pulalah iblis membuat Adam dan Hawa mendekati syajaratul khuldi, hingga keduanya diturunkan ke bumi, ke rumah angkara.

Seperti perkataan ulama, bahwa sejatinya dosa-dosa itu terkunci dalam sebuah ruangan, sementara kebohongan adalah kuncinya. Dosa seseorang, dimulai dari tipuan terhadap kalbunya sendiri. Membohongi hati. Membohongi nurani, nur, cahaya kalbu yang sejatinya menjadi fithrah untuk menunjuki manusia pada jalan yang benar. Saat manusia hendak membuat dosa, maka pada awalnya nurani yang masih bersih itu dielus-elus, ditenangkan dulu, diyakin-yakinkan. Ah, ini boleh, sekali-sekali, bujuknya.

Lalu sluman slumun slamet dilakukanlah perbuatan dosa itu. Dan rupanya berkat istidraj dari Gusti Allah, maka tidak terjadi apa-apa pada manusia itu. Berpikirlah manusia, ah, habis berbuat dosa juga baik-baik saja. Maka jadi gemarlah manusia makan lombok dosa, ibaratnya. Pedes, diulang terus, sebab nikmat rasanya. Terus menerus dilakukan, belum akan berhenti kalau belum sampai mulas perutnya.

Amar ma’ruf, nahi munkar, adalah dua terminologi yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Artinya menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah daripada yang munkar. Ma’ruf, jamak dimaknai sebagai perkara yang berkebaikan, sebagaimana munkar, dimaknai sebagai keburukan.

Namun secara etimologi, kita melihat bahwa kata ma’ruf, dalam bahasa arab memiliki asal kata ma’arif, yang artinya terkenal. Dan munkar, dalam akar katanya di bahasa arab, berarti asing, tidak dikenal. Maka apa? Seolah-olah kita mendapat isyarat, bahwa perkara yang ma’ruf, adalah perkara yang dikenal oleh hati, menjadi fithrah kalbunya. Sementara perkara yang munkar, adalah perkara yang asing bagi kalbunya, tidak masuk SOP, kalau bahasa manajemen. Namun ya kembali, semua pun kembali lumrah karena dusta.

Hati yang murni adalah mufti. Istafti qalbak, kata Kanjeng Nabi. Tanya hatimu, jika kita ingin mengenali rupa kebajikan dan dosa. Sebab memang sudah wataknya jika hati tidak pernah sulaya. Tentu dengan catatan, kalau hati itu sendiri belum kasulayan. Sejatinya kebajikan, masih kata Kanjeng Nabi, adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan meragukan hati, sekalipun, banyak orang memberi fatwa yang membenarkanmu.

Ada sebuah hadits yang cukup masyhur, bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah yang suci. Maka ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Bahwasannya memang, apa yang sekian lama membuat semua perkara ini menjadi sedemikian pelik adalah manakala kebohongan itu mengambil rupa sebuah dogma.

Dogma telah membuat apa yang sejatinya haq, dan apa-apa yang sejatinya batil, menjadi larut saja ke tengah-tengah masyarakat. Sampai pada puncaknya, terciptalah kegamangan sosial dalam sebuah cara pandang yang kita kenal sebagai relativisme. Dan jika kalbu yang murni adalah cermin, maka dogma seperti poster lelaki ganteng yang ditempel ke cermin. Hingga dalam setiap refleksinya, manusia itu akan merasa ganteng, seironis dan semengenaskan apapun kondisi rupanya saat ini.

Maka dengan musabab itulah, Tuhan menurunkan kitab suci ke tengah-tengah umat. Sebagi furqan bagi hati-hati yang telah terlalu pekat didustai oleh pakem adat istiadat, yang melanggengkan nina bobok manusia dalam kekhilafannya. Tuhan hendak berdialektika dengan hati yang telah terlekat pada dogma. Manusia dipulangkan kembali, pada kebenaran hakiki yang dikehendaki Tuhan, yang dirindu nuraninya.

Maka satu-satunya hal yang idealnya dilakukan oleh manusia saat ini, adalah berusaha mengecilkan debit keran kebohongannya. Menutup pintu air kebohongan kita, sedikit, demi sedikit. Namun, seperti saya bilang tadi, bukan perkara yang mudah untuk mengenali kebohongan-kebohongan itu. Maka setidaknya kita mesti mulai, belajar menaruh peduli pada kebenaran. Kebenaran dari sekecil apapun hal yang terjadi.

Berhenti berbuat salah, berarti berhenti membohongi hati, bahwa apa yang salah, tetaplah itu selamanya salah, sekalipun itu dilakukan secara berjamaah, bahkan jikapun itu telah distempel sah oleh kyai paling mumpuni. Berhentilah bersikap pluralis. Sebab itu sama saja membohongi nurani kita, dengan berbicara bahwa kebenaran absolut tidak mungkin ada, kebenaran absolut telah lama mati! Kalau begitu lalu apa yang membedakan antara kita dengan Friedrich Nietzsche, yang mengatakan bahwa Tuhan telah mati?

Monggo, bebarengan kita haturkan do’a, semoga rahmat Allah menuntun kita untuk mengenali kejujuran sejati yang dikarep, dikehendaki oleh nurani kita, dan dikehendaki Tuhan tentu saja. Yang utama juga, semoga saya dilindungi Gusti Allah, dari berbohong kepada panjenengan semua, bahwa dengan omongan ini seakan-akan saya adalah orang yang sudah mencapai khayangan. Naudzubillah.

0 Chirping sounds:

Posting Komentar