Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 09 September 2011

Potret Taman dan Monopoli

Jumat, 09 September 2011 21.33 No comments
http://2.bp.blogspot.com/_ZRzcHohjAfs/SgOnDN8IUsI/AAAAAAAAACI/whC6kz3rfrg/s320/8+manfaat+monopoli.jpg

“..Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui..” (Q.S. Al Ankabuut: 64)

***

Sudah lama cukup lama tak berkabar rupanya. Kau tahu, sampai saat ini kau masih bisa melihat orang tua itu setia menyatu sebagai bagian dalam taman ini, Taman Namuh. Ya, dia pak Tua Jenkins. Entah sekali waktu kau barangkali akan mendapatinya sedang tercenung di atas bangku batu taman–namun bukan sebagai batu yang bertengger di atas batu lainnya, seperti ungkapan terkenal dari filsuf Yunani kala menerangkan kaidah filsafat, yah, kau kenal Pak Tua Jenkins bukan si tua yang dungu. Atau juga barangkali kau melihatnya sedang ndodok syahdu memandangi bayangan yang terbentuk di permukaan air telaga. Atau yang paling sering tentu saja, kau akan melihatnya mengobrol abstrak bersama pemuda tanggung itu, ya, Zarwan, seperti malam separuh purnama ini.

“Lihatlah, Zarwan, asik sekali bocah-bocah itu bermain,” kata Pak Tua Jenkins. Zarwan melihat ke arah bocah-bocah berusia sekitar 4 atau 5 tahun yang berlarian sambil terkekeh-kekeh. Ia heran, hari sudah semalam ini, masih juga ada anak yang bermain-main di Taman Namuh. Anak-anak kecil itu, salah satu dari mereka, yang tampak lebih besar dari anak satunya, membawa mainan pesawat yang terbuat dari gabus, dan diikat dengan benang untuk dibawa sambil berlari. Dan anak yang satunya, tentu saja mengejarnya. Zarwan diam-diam tersenyum kecil. Ia teringat bahwa karena sekedar permainan anak kecil dapat bertarung sebegitu rupa.

“Bicara soal bermain, kau pernah main monopoli, Zarwan?”, tanya Pak Tua Jenkins, sembari membuka keran air taman.

“Yah. Waktu masih bocah dulu aku sering memainkannya. Ya, meski lebih banyak dibohonginya ketimbang menangnya,” ujar Zarwan sambil melemparkan satu dua kerikil kecil ke dalam telaga. Ia memang punya kesenangan pribadi mengamati lingkaran-lingkaran yang saling terbentuk di permukaan air oleh lemparan kerikilnya itu membuat permukaan telaga pemantul cahaya, yang semula datar tenang menjadi bergelombang.

“Khh..Hahhah,” Pak Tua Jenkins tertawa pendek, yang sebenarnya dengan kaca mata hitamnya itu, tawanya barusan membuatnya mirip bos mafia, hanya saja ia tak punya pistol. Senapan hanya pembuat seni sekali ledak yang tak menarik baginya, sama seperti bom. Berbeda dengan pena dan kesusastraan, katanya. Yang bisa meruntuhkan benteng dari generasi ke generasi, sekalipun benteng itu dibangun lagi, dan dibangun lagi setiap kali runtuh, terlepas dari telunjuk-telunjuk apologi yang seringkali menudingkan stigma hipokrisi atasnya. Yah, mungkin itulah dosa besar para pengoceh kopong berjubah intelektual, yang acapkali lahir dalam pengasingan gilasan dunia. Orang-orang semacam ini biasanya berpikir, bahwa sikap menggerutunya bisa membuatnya sedikit berarti di mata masyarakat. Namun, yang terjadi justru membuat wacana intelektual dan ruh intiqad jadi makin tabu, karena masyarakat jadi makin skeptis, bahkan bersikap antipati.

Zarwan bergegas membuntuti Pak Tua Jenkins yang berlalu pelan menyerak dedaunan kering. Ia paham, basa-basi bukan tipikal Pak Tua Jenkins. Ia tentu menyimpan, ibaratnya, bulir padi yang bernas, dalam setiap ucapannya, sekecil apapun itu. Diam-diam Zarwan melirik ke luar taman, dan ia masih bisa merasakan denyut nadi dunia dalam agama materialisme yang ia anut. Dia lihat sekelompok buruh pabrik berseragam biru tua yang berjalan lesu, tampak dengan wajah kelelahan baru pulang bekerja semalam ini, sekalipun saat ini adalah minggu malam, atau malam senin. Hari yang kalau tidak salah selalu diberi warna merah di tiap-tiap kalender, bahkan mungkin juga termasuk di kalender perusahaan mereka. But they’re not taking a day off. Well, money never sleep, young man!

“Sebenarnya, Zarwan, kalau kau mau memahami pola pikir para kapitalis itu, banyak-banyaklah kau main monopoli.” kata Pak Tua Jenkins tiba-tiba. “Hidup kapitalis itu, Zarwan, memang tak ubahnya seperti permainan monopoli,” Pak Tua Jenkins lalu diam dan menarik nafas sejenak, “dan sebenarnya Qadar Allah, tak pernah luput campur tangannya. Ibarat dadu yang digulirkan tiap pemain, mana boleh sang pemain meminta mata dadu sekehendak udelnya? Sekalipun kalau menang, kebanyakan mereka sama juga seperti Qarun yang hidup di zaman Nabi Musa, berkata dengan pongahnya, hei, inilah buah kepintaran saya!” Zarwan tersenyum.

“Hei Zarwan, coba ceritakan bagaimana taktik yang dapat dilakukan seorang pemain dalam permainan monopoli?” Pak Tua Jenkins mengajukan pertanyaan.

“Yang paling utama, jika ingin menguasai keadaan, kita mesti melakukan salah satu dari dua strategi ini, yang ya, kalau bisa dua-duanya malah bagus. Yang pertama merebut semua sektor, kalau di permainan itu ya jelas, utilitas dan transportasi.” Kata Zarwan. Pak Tua Jenkins menyimak.

“Atau yang kedua, strategi investasi, kita membangun infrastruktur yang tidak sekedar memadai tapi juga mesti sangat tangguh. Yang pasti, kita harus berusaha agar kita mempunyai benteng finansial yang kokoh dengan memiliki cadangan kas sebanyak mungkin, dengan kedua cara itu” kata Zarwan.

Mereka berhenti sebentar. Pak Tua Jenkins memungut sebuah batu berukuran sedang, dan menggenggamnya sambil berujar, “Ofensif dan defensif dalam dunia kapitalis. Itulah yang baru saja kau ceritakan Zarwan. Yah, aku tahu itu istilah yang kuciptakan sendiri, kosakata dari orang tua yang kolot, khahah.”

“Mereka dapat bertindak sangat ofensif, dengan berusaha memegang kendali di sebanyak mungkin sektor. Atau berlaku defensif, seperti kau katakan, berinvestasi secermat mungkin, dan mengokohkan infrastrukturnya,” kata Pak Tua Jenkins sambil melemparkan batu yang dipungutnya tadi ke telaga.

“Mesin uang yang tangguh. Kas adalah raja. Begitu teori manajemen keuangan,” kata Zarwan.

“Semua itu, Zarwan, dilakukan untuk mempertahankan eksistensi mereka dalam percaturan bisnis, kekayaan mereka. Tidak ada jalan tengah jika kau ingin bertahan hidup, sebab kau tahu ini adalah permainan yang hanya mengenal dua kosakata sebagai ujungnya,” kata Pak Tua Jenkins.

“Menang atau kalah. Menaklukkan atau ditaklukkan. Itulah bara yang tak pernah padam dalam sekam dada para kapitalis. Benar begitu, Pak Tua Jenkins?”, ujar Zarwan.

“Khahahh.. Kau tahu, Zarwan, aku hampir berpikir kalau yang kau katakan di awal tadi tentang lebih sering ditipu ketimbang menang dalam permainan monopoli itu cuma bualan basa-basi yang pasi.”, kata Pak Tua Jenkins sambil mengarahkan wajah coolnya dalam kacamata hitam itu dan tersenyum ke arah Zarwan. Zarwan hanya meringis.

Mereka kembali berjalan. Sementara salah satu bola lampu taman di dekat mereka terlihat berkedip, sudah waktunya ganti lampu. Dan kedua anak yang tadi bermain-main, baru saja dijemput ibunya. Seorang ibu muda yang mengenakan jilbab taplak warna hijau pudar. Wajahnya amat teduh, sudah bisa dibaca karakter ibu muda, atau mbak itu, yang tenang pembawaannya. Rupanya kedua anak kecil tadi menunggu ibunya yang berbelanja di pasar swalayan seberang jalan, sambil bermain-main di Taman Namuh. Mungkin kedua anak kecil tadi ditinggalkan bermain di taman agar tidak minta dibelikan yang macam-macam kalau ikut masuk ke pasar swalayan. Diam-diam Zarwan berpikir, meninggalkan anak-anak kecil itu bermain di Taman Namuh, apa ibu muda tadi tidak takut kalau anaknya hendak diculik Pak Tua Jenkins yang gaya penampilannya nyata-nyata mirip preman residivis, ahlul penjara. Zarwan terkekeh dalam hati.

“Dia sudah kenal denganku, Zarwan,” yap seperti biasa, orang tua ini keluar lagi ilmu nujumnya, ia bisa membaca perasaan Zarwan. “Itu Mbak Mae, Ponakan Almarhum Kyai Gesang. Kau ingat Kyai Gesang kan, yang pernah kuceritakan padamu itu?” kata Pak Tua Jenkins, lalu melambai ke arah Mbak Mae dan meringis memamerkan beberapa gigi kuningnya yang tersisa dimakan usia. Mbak Mae cuma tersenyum kecil, lalu bergegas pergi.

“Ia janda Zarwan, lebih dari setahun lalu suaminya syahid. Jadi ya, sekarang ia yang mesti jadi tulang punggung keluarga,” kata Pak Tua Jenkins. Zarwan tercenung. Kasihan juga Mbak Mae, di jaman seperti ini, dia mesti menjalani emansipasi yang selama ini diteriakkan oleh kaum feminis, tanpa menuntut, namun justru dituntut oleh takdir. Yap, ia mesti menjadi ibu, sekaligus turun bekerja selayaknya bapak untuk menjemput rizki bagi dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil.

“Sebentar.. Ngomong-ngomong apa kau ingat masa iddah janda yang ditinggal wafat suaminya, Zarwan?" tanya Pak Tua Jenkins tiba-tiba.

"ee.. di Al Qur'an, 4 bulan 10 hari kan, Pak Tua Jenkins? Ada apa?" tanya Zarwan.

"Berarti sudah lewat masa iddah kalau kau mau nikah dengan Mbak Mae, Zarwan. Toh usia kalian juga setara,” kata Pak Tua Jenkins sambil terkekeh. Mulai lagi orang tua ini, pikir Zarwan. Zarwan cuma menggaruk-garuk kepala, tapi kalau bisa sebenarnya dia ingin juga menjitak kepala sesepuh taman yang jahil itu. Bercanda, tentu saja.

“Haha, kita lanjut Zarwan. Sekarang, coba katakan, ketakutan terbesar atas apa yang mendorong para pemain monopoli mesti melakukan kedua strategi itu?” sambil terus berjalan Pak Tua Jenkins kembali mengajukan pertanyaan untuk memancing Zarwan.

“Tentu saja belitan hutang sebagai hasil dari arus kas yang tidak seimbang. Sumber utama kebangkrutan mereka,” tukas Zarwan.

“Itulah, Zarwan. Independensi dan hutang, kalau boleh kulakukan generalisasi, keduanya seperti bini tua dan bini muda. Kebanyakan mana bisa berdampingan?” kata Pak Tua Jenkins. “Jatuhkan lawanmu ke dalam hutang kalau kau ingin membuatnya bangkrut dan bertekuk lutut, tapi sebisa mungkin jangan sampai kau berkeliaran di seputar jurang hutang itu! Itulah aturan main dalam kapitalisme global, dalam ekonomi politik!”

“Haha, ya, Pak Tua Jenkins, kau benar. Jujur, aku jadi teringat satu hal. Coba kita ibaratkan ada dua pemain monopoli dan bank. Kalau kita mau mengarahkan mata kita ke politik ekonomi global, entah mengapa ketiga oknum itu malah mirip negara adidaya, negara berkembang, dan IMF,” kata Zarwan. Pak Tua Jenkins tersenyum.

“Yang paling parah, Zarwan, kalau permainan itu sampai membuat seorang manusia amnesia, kalau lawan bisnisnya itu adalah juga manusia. Bahkan bisa jadi orang itu juga lupa kalau dia sendiri adalah manusia,” kata Pak Tua Jenkins.

“Haha, ya, dalam permainan monopoli, sangat menyenangkan melihat ketika hutang mulai merapatkan lilitannya pada lawan main, lalu di saat yang sama ada kartu chance yang ia tarik, dan isinya, katakanlah lawan mainnya itu juga mesti membayar tagihan rumah sakit yang juga memukul kasnya. Kebangkrutan lawan, kesenangan kami, itulah aturan main di dunia kapitalis. Yang penting lawan keok, persetan pada perasaan,” kata Zarwan.

“Khahahh.. Ironisnya semua gontok-gontokan itu cuma permainan, Zarwan. Sama saja seperti monopoli,” ujar Pak Tua Jenkins sambil tersenyum. Zarwan mengangguk mafhum.

“Hahah, kau benar juga, Pak Tua Jenkins. Kalau dipikir-pikir, setelah kita menjadi big boss, dan lawan kita tertendang sebangkrut-bangkrutnya sampai jadi pengemis katakanlah, selanjutnya, apa yang akan kita lakukan?”, kata Zarwan.

Langkah Pak Tua Jenkins lalu berhenti. Lalu ia diam, senyap sesaat, seperti mengalah sejenak pada para jangkrik yang sedari tadi kalah saing oleh obrolan mereka. Lantas ia berkata, “Entahlah, Zarwan, kau tahu aku bukan kapitalis, kan? Dan jujur saja, aku juga tidak yakin para kapitalis itu punya jawaban..” Lalu Pak Tua Jenkins tersenyum ke arah Zarwan. Dan sejurus mereka tertawa. Bersama rembulan separuh purnama di atas sana.

“..Sebab itulah ada agama dari Tuhan, Zarwan. Sejatinya ia memerdekakan manusia dari penjajahan bara dalam sekam dadanya..”

0 Chirping sounds:

Posting Komentar