Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Senin, 08 Agustus 2011

Untuk ALAYY...

Senin, 08 Agustus 2011 13.46 No comments
http://sopyan23.files.wordpress.com/2011/06/dinar-dirham_nusantara.jpg

“elu mau jadi apa entar, coi?”

Pastilah setiap kita punya cara yang berbeda untuk menjawab pertanyaan itu, pertanyaan yang ditanyakan bahkan sejak jaman kita masih TK, jamannya kita masih bisa tertawa-tawa sementara kekuasaan Pak Harto di ujung tanduk. Macam-macam jawaban kita. yang sekilas lalu pernah saya dengar, ada yang, oh, ingin menjadi direktur jenderal pajak, pemeran utama dalam pelaksanaan APBN. Atau ingin mejadi Gubernur BI, sang pemegang tampuk kekuasaan moneter. Mungkin juga Menteri Keuangan, yang kata Undang-Undang menjadi pengelola fiskal. Ha, atau jadi Ekonom sekaliber Milton Friedman, sampai dapat nobel. Atau mungkin ngikut bu SMI, jadi direktur World Bank. Atau mungkin juga ingin menjadi akademisi, membaktikan ilmu. Menjadi auditor, membedah perut-perut gembul penyeleweng APBN. Atau menjadi politisi, anggota legislatif. Atau bahkan, ini yang sangar, menjadi Presiden RI.


Nah, kalau bicara soal cita-cita, dan Pak Harto yang sempat saya singgung di awal, diam-diam saya jadi ingat waktu tempo hari belajar kisi-kisi UAS PKP. Ada di situ satu pertanyaan, yang ya walaupun waktu UAS emang gak tembus, tapi menarik. Pertanyaan itu tentang kebijaka fiskal waktu Krismon 1997-1998. Di antaranya ada BLBI, Penjaminan Bank, Rekapitulasi Bank, dan Divestasi Bank Swasta yang secara tidak langsung telah diambil alih pemerintah tadi. Konon menurut kalkulasi di pembahasan disebutkan kalau serangkaian kebijakan fiskal sampai menyebabkan utang Dalam Negeri pemerintah mencapai Rp. 643 T pada tahun 1998....

Sebenarnya kebijakan fiskal itu timbul sebagai konsekuensi karena Pak Harto menandatangani LoI dengan IMF, untuk melakukan sepaket kebijakan penanganan Krismon dari IMF. Tanda tangan ini dulu fotonya sempat heboh di mana Pak Harto terlihat, kalau dalam perang itu seperti seorang yang kalah dan menandatangani perjanjian penyerahan wilayah. Tidak lupa juga ada sosok Michael Camdessus yang lagi, istilah jawanya itu sendakep, atau bersedekap, menyilangkan kedua tangannya di badan, seperti seorang yang menang.

Ada hal menarik yang ingin saya singgung terkait Krismon oleh banyak kalangan diklaim sebagai peristiwa yang melengserkan Pak Harto dari kekuasaannya selama lebih dari 3 dekade. Ini sempat diangkat oleh Dr. Adian Husaini di catatan pekan Radio Dakta, yang dihimpun dalam satu buku judulnya “Hendak Ke Mana (Islam) Indonesia?”. Saat itu kebetulan beliau sedang membahas mengenai mundurnya PM Malaysia Mahathir Mohammad. Karena kita tahu, pada masa Krismon 1998, Malaysia juga terhitung sebagai negara yang juga menerima pukulan telak dari krisis. Namun, yang menarik adalah fakta bahwa perekonomian Malaysia jauh lebih cepat pulih ketimbang Indonesia.

Penerapan CBS, atau pematokan keuangan. Itulah langkah yang dicanangkan Mahahir Mohammad saat itu, ketimbang menerima paket tawaran kebijakan penanggulangan krisis dari IMF. Indonesia pun, pada saat itu hampir saja menerapkan CBS. Bahkan Pak Harto telah memanggil konsultan dari Australia, seorang pengajar di Universitas John Hopkins, Professor Hanke, untuk membantu menerapkan CBS sebagai bentuk penanganan ekonomi negara pada saat itu. Namun, tekanan dari berbagai pihak dalam negeri, terutama dari kalangan ekonom membuat penerapan CBS urung. Ekonom tampak, entah terlalu khawatir, atau memiliki tendensi tertentu dalam kasus ini. Tengoklah apa yang diungkapkan M. Sadli saat itu, “..Presiden menghadapi dilema yang berat: jalan sendiri tanpa dukungan keuangan negara-negara CGI serta IMF dan Bank Dunia, atau bersabar serta melakukan perundingan..”, seolah-olah menyiratkan gelagat dependensi terhadap asing.

Di sisi lain, memang tidak dapat dipungkiri bahwa urungnya penerapan CBS oleh Pak Harto sebagaimana usul Steve Hanke tersebut, turut dipengaruhi tekanan asing, terlebih setelah Pak Harto teken LoI dengan IMF. Guru Besar Universitas Indonesia, J. Soedradjad Djiwandono, dalam artikel berjudul ‘Usul Penerapan CBS yang Kontroversial’, menggambarkan adanya tekanan ini “..Dari unsur eksternal, dukungan IMF pada program kestabilan dan reformasi ekonomi keuangan yang sedang dilaksanakan memang tidak memberi ruang pada penerapan suatu kurs tetap dengan CBS. Selain itu, berbagai desakan telah dilakukan oleh pemerintah negara-negara besar, seperti A.S., Jerman Barat, Jepang, Australia dan Inggris. Dengan cara mereka masing-masing, seperti pembicaraan melalui telepon kepada Presiden Suhartio atau mengirim utusan pemerintah menemui presiden, semuanya mendesak agar pemerintah Indonesia tetap menjalankan program stabilisasi dan reformasi yang telah disepakati dengan IMF. Dengan lain perkataan, jangan menerapkan CBS..”

Demikianlah pada akhirnya setelah Pak Harto bertekuk menandatangani LoI tersebut. Dan sejak LoI diteken pada tahun 1998, angka pengangguran Indonesia meningkat, banyak perusahaan negara yang diprivatisasi, nilai rupiah masih menyentuh plafon. Ironisnya, Steve Forbes, Presiden dan CEO Forbes, pada tahun 2001 justru menyatakan bahwa apa yang dilakukan IMF tersebut pada masa Krismon tersebut, adalah sebuah malpraktik ekonomi di berbagai negara. IMF memberikan resep yang sama kepada sejumlah negara yang terkena imbas krisis ekonomi, yaitu memperketat likuiditas, menaikkan suku bunga dan meningkatkan pajak. “Resep dokter” ini, tentu saja mengakibatkan capital flight dan inflasi.

Yah sudahlah, kita tutup memoar masa lalu itu, kembali ke topik awal kita. Kita ini, kalau memang saya tidak salah sebut, adalah mahasiswa yang mengambil program studi akuntansi, berarti konsentrasi studi kita masuk ke ranah ilmu sosial. Meskipun saya tidak melihat kenyataan bahwa kita semua adalah orang yang memang dari awalnya, atau dari SMA, sudah mengambil konsentrasi studi ilmu sosial, atau IPS. Banyak di antara kita yang sebenarnya adalah jebolan dari jurusan IPA di SMA, dengan pola pikir ala sains-nya.

Yap, tadi saya sudah secuplik menggambarkan bagaimana lapangan ilmu sosial. Ilmu sosial memang sebuah objek kajian yang sangat kontras dengan sains, yang merupakan sekumpulan postulat hasil formulasi sunnatullah, sehingga tidak memiliki kecenderungan berdusta, atau menyisipkan beragam kepentingan di dalamnya. Mari mengingat kembali bahwa ilmu sosial mendasarkan objek kajiannya pada aktivitas manusia. Segenap individu yang, melalui kehendaknya sangat dapat meretorikakan kepentingannya secara ilmiah untuk menginjeksikan tendensinya ke tengah masyarakat.

Sebenarnya sederhana, yang ingin saya sampaikan hanya, ilmu yang kita pelajari ini, tidak sama seperti agama, bukan jalan hidup yang memiliki kebenaran absolut. Meskipun memang, tidak kita pungkiri bahwa banyak sekali orang yang secara tidak sadar menjadikan ilmu ini sebagai agama, sebagai jalan hidup yang, sekali lagi, secara pribadi memiliki kebenaran absolut. Sebab menjadi sebuah hal yang wajar jika dengan menekuni satu cabang keilmuan, secara mendalam, terlebih ditunjang dengan prestasi akademis yang gemilang di sepanjang perjalanan, akan cenderung terbesit kekaguman dan pembenaran personal terhadap sosio-kultural yang menjadi rahim bagi ilmu tersebut.

Ideologi. Itulah yang ingin saya sampaikan di sini. Ideologi, berbeda dengan idealisme yang sifatnya cenderung temporer dan sempit. Ideologi lebih kepada sebuah jalan hidup, pandangan hidup, sifatnya global. Maka sejujurnya, maaf-maaf kata, saya harus mengungkapkan di sini, bahwa adalah sebuah kesalahan besar jika kita bercita-cita menjadi seorang akademisi, adalah kesalahan besar jika kita ingin bercita-cita seorang ekonom, adalah kesalahan besar jika kita bercita-cita menjadi Dirjen Pajak, adalah kesalahan besar jika kita bercita-cita menjadi menteri keuangan, adalah kesalahan besar jika kita bercita menjadi seorang Gubernur BI, adalah kesalahan besar jika kita bercita-cita menjadi Direktur WB, adalah kesalahan besar jika kita bercita-cita menjadi politisi, dan bahkan adalah kesalahan besar jika kita bercita-cita menjadi presiden, saja. Sekali lagi saya tekankan, ada kata ‘saja’ di akhir kalimat.

Mengapa? Sebab tujuan hidup kita telah terhenti, sementara tanggung jawab kita masih membentang panjang. Maka apa jadinya? Yang terjadi adalah kita hanya akan menjadi seseorang yang mengikuti arus ala kadarnya, tanpa ada satupun perubahan besar yang memang sejatinya banyak terlahir dari jiwa yang meronta. Dengan catatan, sekali lagi, itu jika kita tidak mempunyai visi hidup yang lebih besar, sebuah ideologi fundamental dalam diri kita. Sudah banyak birokrasi di negeri ini diisi oleh seseorang yang hanya menginginkan sebuah posisi, tanpa tahu hendak apa ia dengan posisi itu. Contohnhya? Tengoklah bagaimana bisa ada dua partai yang sama-sama berhaluan nasionalis, sama-sama pengusung demokrasi (setahu saya tidak ada mahzab-mahzab dalam demokrasi), tapi saling mencakar dalam pemilu, dalam pilpres. Artinya apa? Ideologi sekedar menjadi tameng nama, konsepsi ala kadarnya saja, dalam sistem yang hakikatnya merupakan sistem “politik figur” di negeri ini.

Nah, dengan fundamental berupa ideologi yang mengakar kuat di dalam kalbu, kita akan selalu tahu bagaimana melakukan hal yang benar, dan memperbaiki hal-hal yang salah, entah mau jadi apapun kita. Sebab kita telah menggenggam erat sebuah visi hidup yang mendasar. Dan bukan kita menjadi sebuah artileri atau senjata perang yang multi-blok, suatu ketika memihak blok A, lantas suatu ketika merontokkan barisan blok A hingga kocar-kacir, yang artinya hidup kita terombang-ambing bergantung pada siapa yang menyetir kita.

Kemudian pertanyaannya, ideologi seperti apa? Ideologi, banyak kita jumpai dalam bentuk gagasan-gagasan. Sosialisme, Nazisme, Liberalisme, Nasionalisme, tentu saja dengan berbagai keunggulan dan celah cacat masing-masing. Namun, sudah menjadi kodrat bahwa akal manusia adalah sesuatu yang berbatas. Sebagaimana seekor bebek tidak bisa menghalau sesamanya, mereka perlu manusia, organisme dengan akal yang lebih untuk menghalau mereka. Maka, ada baiknya, jika kita adalah seseorang yang beragama, kita kembali pada agama, karena agama atau yang dalam bahasa Arab Ad Diin menurut Abul A’la Al Maududi, berarti juga, undang-undang, tata-tertib, ideologi, aturan, tata-kerama, adat-istiadat dan sebagainya.

Kita menelusur kembali hakikat keberadaan kita di dunia, alasan apa yang mendasari keberadaan kita di dunia. Bagi umat islam, di dalam Al Qur’an, ada ayat yang teramat terkenal, di Surah Adz Dzariyaat, bahwa manusia tidak tercipta melainkan dengan tujuan penghambaan kepada Allah SWT. Kita tunduk, dengan apa yang telah ditetapkan Allah sebagai manhaj hidup kita sebagai seorang khalifah di atas muka bumi.

Mari, sudah saatnya kita mendudukkan agama pada posisinya semula, sebagai dasar pandangan hidup, bukan sepaket filsafat hidup dan tata ritual belaka. Agama harus menunjukkan peranannya dalam menghidupkan sebuah tata masyarakat. Maka sebelum itu, agama sudah harus terjiwai sebagai sebuah ideologi di tiap individu masyarakat. Namun, peristiwa Renaissance yang mengakhiri pengaruh gereja di Eropa pada abad pertengahan, dan sekulerisme yang dicanangkan Mustafa Kemal Attaturk, telah memenjara agama dalam tempat-tempat ibadah. Hingga agama menjadi tabu untuk menunjukkan dirinya di muka khalayak.

Ah, elu mah konsep doangan, jak. Kasih contohnya lah! Nah, sebagai contoh misalnya, yang paling kentara saja, yang paling gede, yang pasti semua dari kita bukannya belum tahu. Dua agama samawi, islam dan kristen, memiliki tuntunan pengharaman atas riba. Itu ketentuan Tuhan. Namun apa? Yah, bukan sesuatu yang perlu ditutup-tutupi lagi, bahwa kita banyak sekali mempelajari tentang bunga, baik bunga deposito maupun bunga utang, dalam banyak mata kuliah kita. Memang negara ini melegalkan praktek riba tersebut. Namun, dengan kita belajar, terus belajar, semakin lama kita akan cenderung menganggap itu sebagai suatu hal yang wajar, paripurna, tak perlulah dirubah. Naudzubillah, bahkan jika kita beranggapan, “Ah, Tuhan kan Maha Pengampun..”

Naudzubillah, yang saya takutkan adalah, jika kemudian kita telah menjadi seorang ahli finansial, atau secara spesifik, kita menjadi pemegang kuasa kebijakan moneter negeri ini, menjadi Gubernur BI, yang sebagaimana kita tahu, memiliki instrumen kebijakan moneter berupa bunga bank, yang dapat kita kendalikan. Maaf betul, bukankah ini artinya kita telah menjadi komandan penentangan Tuhan? Sudah siapkah kita menerima apa yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam salah satu haditsnya:

“Apabila riba dan zina telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya dari azab Allah” (HR Al Hakim)

Mari bareng-bareng mengintrospeksi orientasi hidup kita di dunia. Mari, nggak cuma kalian, saya juga. Mari memahami, bahwa tidak semua yang dipandang khalayak sebagai suatu hal yang mulia itu, memang merupakan suatu hal yang mulia. Kecerdasandan kecendikiawanan bukan segalanya. Al Walid bin Mughirah contohnya. Kekayaan juga bukan segalanya. Qarun yang hidup di jaman Musa contohnya. Dan kekuasaan, jabatan, bukan segalanya. Pharaoh Menephtan, atau yang kita kenal sebagai Fir’aun yang melatarbelakangi Exodus Nabi Musa, sebagai contohnya. Dunia telah dijadikan Tuhan sebagai istidraj, penghiburan sekedarnya bagi mereka, sebelum kemurkaan Allah menimpa mereka dengan tiba-tiba, tanpa diduga.

Gelar Ak, DR, MBA, atau gelar formal akademis lainnya, bisa jadi membuat kita hidup mulia di dunia selama kurang lebih, 30 tahun. Tapi apakah semua hal itu menjadi berarti jika nantinya kita justru hidup dalam kehinaan selama ratusan, ribuan hingga bahkan jutaan tahun, hanya karena kita tidak mendapatkan gelar RA, Radhiyallahu ’anhu, yang melambangkan betapa Tuhan telah meridhoi keberadaan kita sebagai ciptaanNya yang telah menghamba dengan sebaik-baiknya?

Yah, kurang lebih demikian. Anggap saja ini sekedar salam perpisahan. Ada banyak hal besar yang jadi pekerjaan rumah bagi kita semua nantinya, sebanyak capaian-capaian yang mungkin kita raih. Akhirul kalam, mari kita berdo’a, agar tidak tergolong ke dalam manusia yang tersebut dalam firman Allah berikut ini:

“..Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar..” (Q.S. Al Baqarah:11-12)

Salam sukses, alayy.. :)

0 Chirping sounds:

Posting Komentar