Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 18 Agustus 2011

Refleksi Kemerdekan: Eksodus Bani Israil

Kamis, 18 Agustus 2011 21.12 No comments

http://echakeucil.blogdetik.com/files/2009/08/merah-putih-terkoyak1.gif


“..Hai Bani Israil , ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu. dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)..”(Q.S. Al Baqarah: 40)

***

Dengan Nama Allah. Tuhan Yang menciptakan langit dan bumi beserta apa yang ada di antara keduanya. Tuhan Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, tanpa keletihan sedikitpun. Tuhan Yang menghidupkan dan mematikan, Penguasa hari pembalasan. Segala puji bagi kemuliaan-Nya. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan Maha Suci Dia dari apa yang orang-orang kafir itu sifatkan.

Sebagian besar muslim pasti ingat, bahkan hafal, kisah tentang bagaimana di masa lampau Allah telah memuliakan Nabiyullah Yusuf AS, setelah beliau dibuang oleh saudara-saudaranya, para generasi pertama Bani Israil, yang merasa dengki terhadap karunia kenabian yang ada pada Yusuf. Setelah perjalanan hidup yang teramat panjang, dengan beragam ujian keimanan yang dilaluinya selama di Mesir, dengan izin Allah akhirnya Nabi Yusuf beroleh kedudukan mulia di Mesir. Dan dengan itulah Nabi Yusuf membawa serta orang tua dan saudara-saudaranya, untuk hidup mulia dengannya di Mesir, yang sekaligus menandai dimulainya kehidupan Bani Israil di Mesir.

Sekian generasi berlalu, dan Bani Israil yang dahulunya beroleh kemuliaan di generasi-generasi awal itu, pada akhirnya harus menerima perlakuan yang hina di Mesir. Puncaknya, saat kepemimpinan Fir’aun Menephtan, kita tahu bahwa keturunan Ya’qub ini mesti hidup di bawah tirani sebagai bangsa budak. Misalnya saja kita ingat bagaimana akibat ta’bir mimpi Fir’aun Menephtan bahwa kekuasaannya kelak akan dikudeta, ia lantas mengambil kebijakan untuk membunuhi setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil. Hingga ibunda Nabi Musa AS mesti menghanyutkan bayi Musa ke sungai Nil.

Akhirnya, tibalah pertolongan Allah atas Bani Israil, setelah Musa menunjukkan hujjah Allah di depan khalayak Mesir beserta segenap pengikut dan pesihir Fir’aun, untuk mematahkan klaim “ketuhanan tertinggi” Fir’aun, yang selama ini menjadi hegemoni di tiap individu masyarakat Mesir. Namun, sebab penyakit sombong telah melingkupi Fir’aun, ia tetap menolak kebenaran nyata yang telah ditunjukkan Musa di hadapannya. Pada malam setelah Musa membuat Fir’aun kehilangan kewibawaannya itu, dalam kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, Nabi Musa pun membawa Bani Israil untuk hijrah dari Mesir, menyeberangi laut Merah. Maka berakhirlah penjajahan Fir’aun atas Bani Israil, setelah Allah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentara yang turut mengejar bersamanya, dan menyelamatkan Bani Israil bersama Musa. Peristiwa inilah yang banyak dikenal oleh masyarakat barat sebagai peristiwa Eksodus.

Allah telah membebaskan Bani Israil dari khauf, ketakutan di bawah kekuasaan Fir’aun, yang menyebabkan mereka tidak lagi mengenal Allah sebagai ilaahun waahid, sebagai satu-satunya Tuhan Yang berhak diibadahi dengan segenap rasa takut dan pengharapan, Ilah yang sebenarnya. Sebab di bawah penjajahan, Bani Israil hidup dalam dogma ketergantungan dan ketundukan atas Fir’aun beserta segenap pola hidup yang ditampilkannya, sebagai sebuah kiblat, adat istiadat dan standar hidup yang telah mengakar dalam benak mereka. Maka setelah eksodus, Bani Israil diharapkan mampu menjadi hamba-hamba yang bersyukur, kembali kepada apa yang ditetapkan Allah atas mereka. Kembali mempertuhankan Allah dengan sebenarnya pengabdian dan ketundukan. Sebagaimana tergambar dalam do’a Nabi Musa, dalam keprihatinannya menyaksikan Bani Israil yang hidup dalam penindasan, "mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu".

...

Namun apa yang terjadi? Setelah mereka menyeberangi laut merah, dikisahkan dalam Al Qur’an mereka menjumpai suatu kaum yang masih dalam kejahiliyahan, yang masih menyembah berhala, sebagaimana bangsa Mesir yang memang telah tersohor kisah-kisah mitologinya tentang dewa-dewa itu. Nah, yang menarik adalah perkataan Bani Israil kepada Musa, manakala mereka berjumpa dengan para penyembah berhala itu, sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an:

“..maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: ‘Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)’. Musa menjawab: ‘Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)’.." (Q.S. Al A’raaf: 138)

Subhanallah, Bani Israil meminta kepada Musa untuk membuatkan mereka berhala-berhala yang dapat mereka sembah. Bani Israil bukannya belum paham bahwa syariat Allah yang dibawa oleh Musa tidak mengenal adanya berhala-berhala, baik itu sebagai simbolisasi sekedarnya, atau sebagai perantaraan penyembahan kepada Allah, terlebih lagi sebagai sembahan-sembahan lain di samping Allah. Nabi Musa telah gamblang menyampaikan konsep agama yang dibawanya saat mengadu hujjah di hadapan Fir’aun. Namun uniknya, Bani Israil masih dapat berkata sedemikian setelah eksodus.

Yap, seperti itulah puing-puing sisa penjajahan Fir’aun atas mereka yang telah runtuh. Secara lahir, Bani Israil memang tidak lagi berada dalam cengkeraman Fir’aun, pun mereka tidak lagi berada di Mesir saat itu. Namun hegemoni atas dogma, memang tidak semudah itu dapat terhapus. Tidak semata-mata setelah kematian Fir’aun, lantas, blup, jadilah mereka berduyun-duyun hamba Allah yang bertauhid dengan sebenarnya. Tidak, tidak semudah itu. Sebab Subhanallah, itulah kekuatan psikologi manusia yang diciptakan Allah, luar biasa ilutif saat manusia telah berpegang pada satu dogma. Seperti borgol yang ditelan kuncinya.

Namun, peristiwa ini barangkali, tengah dijadikan sebuah prasarana bagi pengajaran Musa tentang tauhid kepada Bani Israil. Melalui ini, borgol keberhalaan yang melekat di individu Bani Israil coba dibuka, bahwa, oh, ternyata dalam agama Musa, kita tidak mengenal adanya berhala, apapun alasannya.

Semudah itu dan selesai? Hmm, tunggu dulu. Bukan dakwah namanya, kalau tidak memerah kantung kesabaran sampai benar-benar kering kerontang. Kisah berikutnya mungkin akan menarik. Yaitu manakala Nabiyullah Musa, kemudian meninggalkan Bani Israil untuk sementara karena perintah Allah SWT untuk pergi ke gunung Thur, selama 40 hari 40 malam untuk mendapatkan Taurat. Apa yang terjadi pada Bani Israil selama kepergian Musa itu?

“kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara , maka mereka berkata: ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa’..” (Q.S. Thaahaa: 88)

Ternyata, pengajaran yang baru saja mereka terima, sama sekali tidak membekas, kecuali kepada beberapa orang saja. Banyak dari kaum Bani Israil yang terpukau pada patung sapi emas buatan Samiri, dan berpaling menyekutukan Allah, setelah kepergian Musa. Maka tatkala beliau kembali dari bukit Thur dan menjumpai hal ini, Nabiyullah Musa merasa sangat dikhianati oleh kaumnya. Hingga akhirnya turunlah perintah untuk membunuh diri sendiri sebagai bentuk pertaubatan bagi pengikut Musa yang turut menyembah sapi emas itu.

Dan pada akhirnya, manakala mereka telah mendekati tanah yang dijanjikan atas mereka, maka turunlah perintah Allah berikut ini:

"Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud , dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik". (Q.S. Al Baqarah: 61)

Namun, karena ketakutan Bani Israil, mereka merasa enggan mematuhi perintah itu. Mereka mendapati bahwa kaum yang kuat tinggal di balik gerbang itu, tidak mungkin mereka berjihad melawannya, pikir mereka. Bahkan naudzubillah, mereka berkata seperti ini, “pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. Hingga akhirnya mereka hanya dapat berputar-putar di sekitar negeri itu. Sebab, akibat penentangan mereka atas perintah Allah, negeri itu diharamkan oleh Allah untuk mereka selama 40 tahun.

Sungguh, peristiwa Eksodus adalah peristiwa yang teramat patut disyukuri oleh Bani Israil. Tidak hanya karena mereka telah terbebas dari belenggu kesemena-menaan Fir’aun. Namun sepanjang perjalanan menuju tanah yang dijanjikan, mereka senantiasa berada dalam karunia yang langsung Allah ulurkan pada mereka. Di antaranya adalah naungan awan yang meneduhi mereka sepanjang perjalanan, 12 mata air bagi tiap-tiap suku, serta makanan langsung diturunkan Allah, khusus bagi mereka, dari nirwana, yakni Manna dan Salwa. Namun demikian, naudzubillah, inilah sedikit kutipan percakapan antara Bani Israil dan Musa kala itu, yang termaktub dalam Al Qur’an, untuk menggambarkan rasa ‘terima kasih’ mereka kepada Allah:

"..Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.. " (Q.S. Al Baqarah: 61)

***

“..Dari yakinku teguh. Hati ikhlasku penuh. Akan karuniaMu. Tanah air pusaka. Indonesia merdeka. Syukur aku sembahkan. Ke hadiratMu Tuhan..” (H. Mutahar-Syukur)

Siapa tidak kenal kutipan lagu itu? Waktu jaman saya SMA, atau mungkin waktu SMP juga, lagu itu tidak pernah absen dinyanyikan pada setiap upacara peringatan HUT Kemerdekaan negara ini. Syukur. Waktu itu saya begitu polos, dan tidak tahu menahu betapa lagu itu sepatutnya diresapi dengan makna yang sedemikian mendalam. Yang saya tahu, lagu ini adalah luapan ungkapan terima kasih, ungkapan syukur, yang sedemikian khidmat, titik. Perlu digarisbawahi, ungkapan syukur, hanya ungkapan syukur, ungkapan rasa terima kasih. Saja. Terima kasih Yaa Allah kita sudah merdeka, itu saja, selesai.

Mengapa? Sebab manakala kita berbicara tentang syukur, tentu kita tidak sesederhana bicara tentang sekadar ucapan basa-basi terima kasih. Jelas, kalau syukur hanya dikaitkan dengan ucapan terima kasih, maka bayangkan jika, suatu hari Mpu Gandring memberikan hadiah sebilah keris kepada Ken Arok, lalu Ken Arok mengucap, “terima kasih ya, Mpu”, tapi kemudian dia tusuk jantung Mpu Gandring dengan keris tadi. Maka artinya Ken Arok sudah bersyukur, sudah cukup berterima kasih atas kebaikan Mpu Gandring. Iya kan? Padahal jelas tidak.

Syukur. Terlebih pada bagian lagu ini dipersembahkan kepada Tuhan, Allah, Rabbul ‘aalamin, bukan sembarang main-main. Syukur, adalah lawan dari kufur, artinya kita menggunakan apa yang dikaruniakan oleh Allah, sepenuhnya dalam koridor yang dibenarkan Allah, semata untuk mencari keridhaan Allah. Tuh, dalam kan?

Lanjut, manakala kita menilik kisah pasca Eksodus Bani Israil yang telah panjang lebar terurai di atas, betapa kita dapat melihat bahwasannya, euforia kemerdekaan indonesia yang ternyata sudah berlalu 66 tahun ini, tidak lebih seperti euforia Bani Israil atas exodus mereka bersama Rasulullah Musa. Sekedar euforia. Iya, sekedarnya saja. Mari kita menilai, apakah di hadapan Allah sejatinya kita telah bersyukur?

Barangkali, dalam kalbu kita masih terbesit cinta dan kekaguman pada kejahiliyahan penjajah. Sehalnya Bani Israil menyenangi berhala lembu emas yang dibuat Samiri, kita begitu silau pada peradaban yang sempat menjejalkan taring penjajahannya atas bangsa kita. Namun sehalnya Bani Israil pula, sedikit di antara kita yang menyadarinya. Bahwa sebagaimana telah diungkapkan di atas, hegemoni yang mengakar dalam alam pikir manusia, memang seperti gembok yang ditelan kuncinya. Cinta, kita pun sampai tidak menyadari apa-apa.


Melalui pelajaran sejarah di sekolah, kita tahu bahwa Indonesia telah berada dalam penjajahan Belanda selama 350 Tahun, tiga setengah abad. Kalau dikira-kira satu generasi ekuivalen dengan lima puluh tahun, maka bangsa kita berada dalam penjajahan selama kurang lebih tujuh generasi, atau tujuh turunan. Waktu yang lebih dari cukup untuk sekedar mengubah pola pikir masyarakat bangsa ini di bawah hegemoni penjajahan.

Sudah menjadi rahasia umum memang, bahwa negeri kita mengadopsi KUH Perdata milik Belanda. Standar akuntansi pun, kita mengacu pada dunia, IFRS. Tidak masalah sebenarnya. Hanya yang saya cermati betul adalah kecenderungannya. Saya hanya khawatir jika hal ini sebenarnya dilandasi persepsi yang umum bagi negara berkembang, bahwa apa yang menjadi acuan di luar negeri, di negara-negara barat khususnya, adalah sesuatu yang paripurna, terjamin tanpa cacat.

Oh, ini bagus, eh, itu juga, comot ah. Sebenarnya, segala yang ada pada tetangga kita memang menjadi paripurna, flawless, jika kita tidak tahu apa yang hendak kita tuju, apa yang sebenarnya kita inginkan. Sebagaimana musafir yang kehilangan arah dan kehausan di tengah padang pasir, tidak tahu lagi ke mana mesti ia pergi, ia tentu tertarik melihat mata air, peduli setan entah itu sekedar fatamorgana atau nyata. Sebab ideologi kita telah menjadi bangkai yang bersisa nama, dulur. Ideologi tidak lagi menjadi pelita yang mampu menjadi pegangan hidup, ibarat sebuah peta yang membantu kita menuju ke negeri antah berantah, visi kita.

Saya sempat menyinggung di tulisan terdahulu, semoga masih bagus kalau direpetisi di sini, terkait ketergantungan kita terhadap asing. Bagaimana Pak Harto mengurungkan penerapan CBS untuk menangani krisis moneter 1998 akibat tekanan dari ekonom dalam negeri, yang salah satu kekhawatirannya didasari pada pertimbangan bahwa Indonesia akan berjalan sendiri tanpa dukungan AS dan IMF jika menerapkan CBS, serta yang pasti, adanya tekanan dari pihak luar yang turut mempengaruhi keputusan itu.

Saya akui, secara pribadi, memang sulit, berkata dengan lantang seperti Mahathir Mohammad, menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri, terutama pada masa krismon kala itu. Namun bagaimanapun, mental ketergantungan terhadap asing inilah, yang mesti kita kikis sedari sekarang. Inilah tugas berjamaah kita, selaku bangsa yang baru membuka mata pada udara kebebasan, kemerdekaan.

Berikutnya, sebagaimana tercermin dari sikap Bani Israil, bahwa tidak nampak gegap gempita syukur dan peningkatan taqwa yang drastis. Patut menjadi cermin refleksi, bagaimana keengganan Bani Israil menjemput janji Allah di gerbang Baitul Maqdis sebab penyakit wahn, kecintaan pada dunia, dan ketakutan akan mati. Wahn, adalah memang penyakit umat akhir zaman yang telah dinubuatkan oleh Rasulullah. Sebagai umat islam misalnya, tidak banyak lagi di antara kita yang berani secara tegas menampilkan diri di muka khalayak dengan identitas sebagai seorang muslim.

Sulit memang sebab barang tentu telah terbesit ketakutan dalam sanubari kita. bagaimana tidak, sebagai umat islam, kita dihantam oleh berbagai stigma yang sejatinya dibuat-buat, untuk meyakinkan para muslim agar secara sukarela dan penuh keyakinan sudi melucuti identitasnya sebagai seorang muslim di muka khalayak. Dan identitas itu, menjadi semakin samar dengan materialisme yang tidak dapat dipungkiri memang menghegemoni pola pikir kita. Seakan menjadi satu orientasi hidup yang memang semestinya diperjuangkan oleh setiap manusia. Kalo gak kaya, gimana bisa makan, memang, cerita lama.

Berbicara tentang materialisme dan wahn, mari bertanya pada diri kita masing-masing, apakah iya, ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia itu masih berbunyi, “wa maa kholaqtul jinn wal insa ila liya’buduun”, ataukah kini telah terpilin menjadi “wa maa kholaqtul jinn wal insa ila numpuk harta”, atau “ila mendapat hormat”? Atau masihkah kita ma’bud, secara sepenuhnya mengabdi, kepada Allah, ataukah sejatinya kalbu-kalbu kita telah berpaling, mengabdi kepada harta, kepada sanjungan masyarakat, hingga kepada negara yang sejatinya dikaruniakan Allah sebagai sebuah wadah, kotak kecil yang menjadi sarana pengabdian kita kepada Allah? Bahkan naudzubillah jika ternyata pengabdian kita terhadap hal-hal itu, yang akan kita tinggalkan itu, yang tidak mampu memberi manfaat dan menampik mudharat bagi kita itu, melebihi kapasitas pengabdian kita kepada Allah. Naudzubillah dulur, naudzubillah.

Dan yang terakhir, kita patut mengingat bagaimana Bani Israil yang menginginkan beragam sayur mayur Mesir hingga merasa emoh terhadap manna dan salwa dari nirwana. Allah, telah menurunkan Ad Diin (ideologi), beserta seperangkat manhaj (landasan formal) yang sempurna bagi umat islam. Seperti telah kita ketahui, sebagai keluaran dari politik balas budi kolonial yang turut membawa angin dingin cetakan renaissance, pada masa awal kemerdekaan umat islam Indonesia telah mengerucut dalam dua kubu, yakni kubu yang mengusung ideologi Islam, dan yang mengusung nasionalisme. Meski pada akhirnya dalam perjalanan panjang diskursus, nasionalisme-lah yang menang, dan lestari sebagai tatanan yang pakem hingga sekarang. Wallahu a’lam.

Negara kita bukan negara sekuler, mengutip pernyataan bapak Presiden tempo hari, memang, sila pertama dalam Pancasila bicara tentang Ketuhanan. Namun, saya tercenung, saat mengingat pernyataan seorang atheis, sebagai preassumption of atheism, bahwa Tuhan yang pasif, tidak ada bedanya dengan ketiadaan Tuhan. Coba kita tengok, di mana Tuhan berada sekarang, bisa kita merasakannya? Tuhan cuma nama, kan? Pelengkap atribut kesalehan sosial kita, untuk menjadi kaum relijius di mata khalayak. Tuhan bagai terkurung di tempat-tempat ibadah, sebagai Dermawan yang selalu diharapkan uluran dermaNya, tatkala kita berada dalam masalah, saja. Asal kita tak lupa menyebut Nama-Nya, habis perkara.

Mari introspeksi bersama, jika memang Tuhan itu ada, hidup di negara kita, berapa banyak aturan-aturan Tuhan yang terabai atas nama terlaksananya kebijakan publik? Tidak ingat bagaimana di masa lampau bapak Ali Sadikin sempat melegalkan judi? Coba kita tengok kembali bagaimana keinginan Tuhan dipinggirkan kala diskotik dan lokalisasi prostitusi legal beroperasi? Atau lihatlah gajah dipelupuk mata kita, bagaimana riba bisa berjalan sekehendak pusarnya di setiap sudut-sudut negeri, bahkan menjadi poros kebijakan moneter negara? Bagaimana bisa, wahai dulur-dulurku seiman? Semoga, urat malu kita belum terpotong untuk memekikkan kata merdeka ya, dulurku. Terlebih menggumamkan kata syukur, mari direnungkan lagi, dulur.

Maka kembali, dulur, sebenarnya telah pantaskah kidung bertajuk syukur itu tergema di tiap upacara peringatan hari kemerdekaan setiap tahunnya? Apa yang kita lakukan, adalah hal yang bisa menjawab pertanyaan itu. Semoga saya salah, jika menganggap barometer kemerdekaan hanya terletak pada bendera yang dikibarkan. Akhir kata, selamat berjalan di bumi Allah Indonesia. Semoga kita senantiasa mengingat bahwa Allah menyaksikan ungkapan syukur kita.

***

“..Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik..” (Q.S. An Nuur: 55)


0 Chirping sounds:

Posting Komentar