Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 04 Agustus 2011

Obral (1)

Kamis, 04 Agustus 2011 01.50 No comments
“Jak, loe pengen bini loe gimana entar?”

Sebelumnya mau cerita soal mbah uti-ku dulu. Kapanan hari waktu lagi di rumah, pas pulkam, mbah cerita. Dulu tuh, waktu udah punya anak, beliau rela melepas kerjanya, yang mungkin saat itu, katanya, bolehlah dibilang berpenghasilan bahkan lebih dari penghasilan mbah kakung. Tapi beliau lepas itu, biarlah, agar beliau dapat mendidik putra-putranya secara langsung. Dan hasilnya? Subhanallah, gak perlulah lagi ditanya.. :)

Jadi saya pengen istri saya gak kerja entar. Jadi ibu rumah tangga aja, biar deh, soal nafkah, Insya Allah aye yang tanggung. Laki coi, laki kok rasa-rasa, udah emang tanggung jawab suami lah itu. wait a sec, Ibu rumah tangga? yah, bini loe jadi babu dong? Wetz, enak banget loe cakap gitu. Biarpun gitu, loe tau, tanggung jawab istri tuh gak kalah gede ketimbang tanggung jawab suami (gue), atau bahkan tanggung jawab Menkeu, Menperindag, Direktur BI, Presiden, sampai Direktur World Bank, yang sekarang banyak bikin kaum hawa ngiri karena pernah dijabat oleh perempuan. Tanggung jawab seorang istri tuh jauh lebih hebat ketimbang sekedar jabatan duniawi itu. Kecil tuh semua mah....

Kok gitu? Yup, sebab di tangan, atau biar istilahnya agak kerenan dikit, di pundak seorang istrilah, terletak beban yang amat besar, untuk membina aqidah, menanamkan nilai-nilai moral agama, dan menempa jiwa para calon tentara-tentara Allah yang kelak akan berjuang membela dan menegakkan Diin Allah di bumi-Nya. Melalui tarbiyah yang dilandasi kasih sayang serta ketaqwaan yang membaja dari sosok seorang ibulah, karakter rabbani anak kita diharapkan dapat tercetak. Semua mana bisa dilakukan oleh seorang ibu yang, barangkali terlalu sibuk bekerja, sampai punya waktu yang sekedarnya saja untuk memperhatikan pertumbuhan mental putra-putranya, ya gak sih?

Lagipula, coba perhatikan, ibu semacam apa yang dengan izin Allah, telah melahirkan ulama-ulama besar, seperti Sayyid Quthb, atau Imam Hanafi, misalnya. Subhanallah, kalo liat cerita masa kecil mereka, kayaknya tokoh ibu berasa jadi sentral banget di sana. Ibu sayyid quthb misalnya, yang dulu tuh pengen banget biar sayyid quthb bisa hapal qur’an sejak kecil, biar bisa denger putranya melantunkan ayat-ayat Tuhan itu buat dia, ibunya itu, katanya.

Selain itu ya, pernah coba membayangkan, hai calon ibu di seantero jagat, apa jadinya kalo suatu saat, misal, anak kita udah jadi orang yang terpandang, mulia, lalu dia ditanya oleh orang lain, “apa kenangan masa kecil yang kau miliki tentang ibumu?”. Lalu secara mengejutkan ternyata dia cuma bisa celingak-celinguk. Karena satu-satunya kenangan yang ia miliki tentang ibu, cuma kenangan tentang pembantu yang mengasuhnya sejak kecil.

Ya, mungkin kalian memandang saya orthodox, fundamentalis, kuno, skripturalis, yah, tapi wahai para calon ibu, boleh lah ya saya tanya satu hal. Simpel saja, kenapa sih, kalian mesti ngebet mengejar sesuatu yang sebenarnya memang bukan menjadi bagian dari tanggung jawab kalian? Bahkan naudzubillah, sampek lupa tugas utama, yang benernya jauh lebih esensial.. :)

Tapi tetep, semua itu cuman bualan nonsense kalo si calon suami sendiri, idupnya masih mbajul. Ya lah ya.. :D

0 Chirping sounds:

Posting Komentar