Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Sabtu, 02 Juli 2011

Tentang Hidup Sejahtera yang Dijanjikan..

Sabtu, 02 Juli 2011 01.33 No comments
http://v6.lscache8.c.bigcache.googleapis.com/static.panoramio.com/photos/original/21765568.jpg

“..Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah (Al Qur’an), dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad (Al Hadits), sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan menjurus ke neraka..” (HR. Muslim)


***


Tak pelak lagi, bahwa memutuskan sebuah perkara menurut pada apa yang diturunkan Allah adalah sebuah konsekuensi bagi umat muslim, umat yang berserah diri pada ketentuan Allah sebagaimana berserah dirinya langit, bumi serta apa yang ada di antara keduanya pada sunatullah. Meskipun memang, menegakkan hukum Allah tersebut, syariat islam, secara konstitusional, harus dengan ketetapan dari ulil amri. Karenanya, banyak di antara saudara-saudara kita sesama muslim yang begitu gigih melontarkan wacana-wacana tuntutan penegakan khilafah islamiyah.


Aturan Allah, selain diturunkan sebagai batu ujian untuk menguji ketaatan manusia sebagai khalifah, pengemban amanah di muka bumi ini, sekaligus juga untuk memuliakan kehidupan manusia itu sendiri. Sekalipun terkadang tampak sebagai utopia sekedarnya, namun memang patut diakui bahwa melalui hukum-hukumnya, konsepsi atas hak azasi manusia diberikan batasan secara jelas dalam islam, karena kebebasan yang borderless adalah pemenjaraan manusia dalam keterbatasan akal dan dorongan nafsu yang justru sebenarnya berpotensi menghinakan manusia itu sendiri. Terlebih jika nantinya, Allah mampu berdaulat melalui hukumNya di masyarakat (konsep negara nomokrasi, kedaulatan hukum), maka mau tidak mau masyarakat akan dituntut untuk mematuhi hukum atas dasar ketaatan terhadap Allah. Kedudukan hukum akan menjadi semakin kuat. Konsepnya jelas, masyarakat paham mengapa hukum harus dijunjung, sebab masyarakat islam adalah masyarakat yang didirikan atas ikatan aqidah, atas dasar al walaa’ terhadap Allah.


Melihat hal yang sedemikian, maka banyaklah kita jumpai di masyarakat bagaimana pemerintahan di bawah payung islam ditawarkan dalam sebuah paket yang tidak terpisahkan dengan slogan kesejahteraan dan harapan akan taraf hidup yang lebih baik bagi masyarakat. Tak perlulah kiranya saya uraikan satu per satu di sini. Terlebih manakala masyarakat diajak untuk menilik pada gemilangnya sejarah kekhalifahan islam di masa lalu. Hal ini tentu saja semakin memperkuat daya tawar bagi masyarakat secara luas untuk, terlepas dari bagaimana respon pemerintah sebagai pemangku kebijakan publik, menyadari perlunya sebuah reformasi kepada pemerintahan yang berlandaskan pada manhaaj islam. Sekalipun sejatinya, berhukum menurut ketentuan Allah, dalam hal ini sebagai simbol ketaatan terhadap Allah, memang kurang relevan jika diarahkan pada orientasi kemakmuran duniawi.

...


“..Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada' . Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim..” (Q.S. Ali Imran: 140)


Ayat di atas, adalah ayat yang turun berkenaan dngan kekalahan pasukan muslimin dalam perang Uhud. Sebagaimana kita ketahui dalam perang Uhud, ketika itu pasukan muslimin hampir saja beroleh kemenangan. Bahkan seperti kalimat ucapan Ibnu Ishaq yang dikutip dalam sirah, saat itu pasukan kaum musyrikin telah tercerai berai, dan hampir pasti kemenangan diraih bagi pasukan muslim. Namun, terjadi kesalahan fatal yang diperbuat oleh para pemanah, yang sebelumnya memang diperintahkan oleh Rasulullah untuk tetap bersiaga di atas bukit, apapun yang terjadi hingga ada utusan datang kepada mereka.


Namun tatkala mereka melihat para pasukan muslim mengumpulkan harta rampasan, goyahlah hati mayoritas pasukan pemanah itu, sekalipun Abdullah bin Jubair saat itu sudah memperingatkan kepada mereka akan titah Rasulullah SAW atas mereka. Disebutkan dalam sirah, bahwasannya ada 40 orang pemanah yang meninggalkan pos mereka saat itu, tinggallah di pos pemanah Ibnu Jubair dan 9 orang yang teguh memegang amanah Rasulullah. Dan pertahanan belakang yang lemah inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Khalid Al Walid untuk mengambil jalan memutar dan menyerang kaum muslimin dari arah belakang bukit, hingga pada akhirnya kaum muslimin menderita kekalahan dalam perang Uhud.


Demikianlah, sebuah keniscayaan Allah mempergilirkan kemenangan di antara kedua pihak, hizbullah, dan hizbusy syaithaan. Tidak selamanya pasukan kaum muslimin kembali dengan membawa berita kemenangan. Sebab Allah memfirmankannya sendiri, dengan cara itulah Allah mensyahidkan sebagian di antara kaum muslimin. Pula agar kaum muslimin tidak dirudung perasaan sombong, dan merasa dirinya selalu akan berada dalam kemenangan karena mereka berjuang di jalan Allah.


Di dalam Al Qur’an, Allah SWT juga banyak mengisahkan mengenai kisah Rasul-Rasul terdahulu sebagai penguat hati Rasulullah dalam mengemban misi dakwahnya. Banyak sekali Allah berkisah tentang ujian-ujian, fitnah-fitnah yang dialami oleh Rasul-Rasul terdahulu, hingga Rasulullah, juga kita, mampu memungut buah hikmah dari beragam kisah tersebut. Nah, ada baiknya, kita menyimak sepenggal ayat yang difirmankan Allah SWT berkenaan dengan kisah tentang Nabi Ayyub AS dalam Al Qur’an:


“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah..” (Q.S. Al Anbiyaa': 83-84)


Ayat di atas merupakan sepenggal kisah yang menceritakan bagaimana orang sekelas Nabi Ayyub, juga mengalami ujian keimanan berupa penderitaan bertubi-tubi yang menimpa beliau. Sebagaimana telah kita ketahui bersama juga, bahwasannya nabi Ayyub pada awalnya adalah seorang yang dikaruniai kebahagiaan hidup dunia oleh Allah SWT. Namun kemudian iblis memohon kepada Allah untuk menguji Nabi Ayyub, dengan beragam ujian. Pertama dengan kejatuhan yang mendadak pada perbendaharaan beliau setelah secara tiba-tiba ternak-ternak beliau mati. Kemudian disusul dengan wafatnya satu per satu buah hati beliau. Dan tak habis sampai di situ lantas Nabi Ayyub juga diuji Allah dengan penyakit, yang pada akhirnya membuat istri beliau meninggalkan beliau.


Masya Allah. Sedemikian Allah menguji kesabaran Nabi Ayyub, hingga dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah berhujjah kepada orang-orang yang sakit, dengan penderitaan yang dialami Nabi Ayyub ini. Itulah ujian. Dan Allah mempergilirkan berbagai macam ujian itu di antara manusia. Ujian itu menimpa siapa saja, tidak hanya para pembangkang, bahkan setingkat Rasul seperti Nabi Ayyub pun, ujian berupa penderitaan juga tak luput mampir kepada beliau.


***


"..Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,.." (Q.S. Al Hadiid: 22-23)


Hampir semua manusia senada jika bicara bahwa hidup itu seperti putaran roda, dan ya, agaknya hal itu memang menjadi kefahaman umum yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Indeks prestasi yang bergelombang misalnya, jika kita pernah mencicipi kehidupan mahasiswa, atau dalam kehidupan finansial, makin banyak lagi contohnya. Dalam skala yang lebih besar, sirah mencatat bagaimana umat Islam pernah ditimpa bencana kelaparan pada masa menggali parit untuk persiapan menghadapi perang Ahzab, sekalipun sejarah juga pernah mencatat bagaimana masyarakat menolak pemberian zakat pada masa Umar bin Abdul Aziz karena merasa taraf hidup mereka tidak pantas untuk digolongkan sebagai mustahiq zakat.


Yah itulah kehidupan. Allah menjadikan kedua wajahnya, kehidupan itu, kesusahan dan kesenangan yang ada padanya, masing-masing sebagai sebuah ujian. Ujian dapat diibaratkan sebagai angin yang menghendaki jatuhnya seekor monyet dari atas pohon. Maka monyet tidak hanya dapat jatuh melalui angin yang kencang. Tapi monyet itu, juga bisa jatuh dari atas pohon jika ia tertidur oleh angin yang sepoi-sepoi.


Maka, jika saat ini kita sedikit mengaitkannya dengan konsepsi kemakmuran duniawi dalam ketaatan terhadap Allah, kita akan dibenturkan dengan sebuah kenyataan. Penderitaan adalah keniscayaan yang dipergilirkan bagi setiap umat. Pun yang teramat penting untuk dicatat, adalah pada dasarnya manusia memang tidak pernah dituntut oleh Allah untuk menjadi hambaNya yang berlimpah harta di dunia, karena memang keberlimpahan harta bahkan tidak memiliki korelasi positif dengan Radhiyallahu, ridha Allah, manakala harta yang melimpah tersebut tidak menambah ketaatan manusia tersebut kepada Allah SWT. Dan tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada Allah, demikian Allah berfirman.


Ada kaidah dalam ushul fiqh yang paling saya ingat, bahwasannya al-'ibratu bi 'umumil lafdzi laa bi khushuusis sabaab, bahwa al ibroh, atau yang dijadikan pedoman, adalah keumuman lafadz, bukan pada kekhususan sebab. Artinya, menghukumi sebuah perkara yang ditunjukkan melalui sebuah dalil, dilakukan dengan menatap pada keumuman lafadz dalil tersebut, bukan dengan kekhususan sebab dalil itu turun.


Ambillah sebuah contoh, misal perkara pengharaman riba’, yang memang sebagaimana kita tahu, betapa riba’ di masyarakat seperti lintah yang menyedot darah orang yang berhutang sampai bena-benar kering. Artinya riba’ dikhawatirkan membawa mudharat bagi para gharim, atau orang-orang yang berhutang. Maka manakala yang berhutang itu adalah orang-orang kaya yang selalu mampu membayar bunga hutang mereka, apakah lantas keharaman riba’ terpelintir menjadi halal? Tentu saja tidak. Riba, tetaplah haram, tidak ada kompromi.


Apa yang sebenarnya ingin saya tekankan di sini, berkaitan dengan orientasi seruan, yang tentu saja mau tidak mau akan selaras dengan orientasi perjuangan menegakan kalimah Allah di muka bumi ini. Menegakkan minhaajul hayah yang diwariskan Rasulullah, Al Qur’an dan Sunnah, adalah perkara ketaatan kita kepada Allah. Semata bentuk tauhid kita terhadap Allah, dengan mengembalikan daulah, hak untuk mengatur, membuat hukum, kepada Allah, sang Rabb alam semesta ini. Semata perjuangan menegakkan hukum Allah itu, sebagai bentuk ibadah, sebagai wujud keadilan kita sebagai khalifatu fil ardh, khalifah di muka bumi ini. Itu saja, tidak lebih. Perkara dengan tegaknya hukum Allah, kemudian Allah akan mencurahkan karunianya berupa kesejahteraan masyarakat secara merata, alam yang gemah ripah loh jinawi, biarlah itu semua kita serahkan kepada Allah, bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki bagi tiap makhluk-Nya tanpa kecuali.


Perbendaharaan Sulaiman di muka bumi bukanlah sebuah keniscayaan yang menyertai setiap hamba yang hidup dalam ketaatan, itu yang patut ditekankan. Mengapa ini begitu penting? Sebab dalam keadaan bagaimanapun, berhukum sesuai ketentuan Allah adalah sebuah keharusan, jika memang ridha Allah adalah yang kita harapkan. Sebagaimana tidak gugurnya kewajiban shalat fardhu lima waktu bagi muslim yang paling fakir sekalipun. Maka hal sudah menjadi sebuah hal yang patut disadari bersama, adalah bahwa bukan demi kemakmuran negara kita, menegakkan hukum Allah di muka bumi.


Kemakmuran bukanlah barometer bagi keridhaan Allah atas suatu kaum. Tak kurang dikisahkan kisah kaum Tsamud, umat Nabi Shaleh, dengan kemampuan mereka memahat bangunan-bangunan dari batu, yang tentu saja bukan tanpa alasan mengundang decak kagum bagi manusia di tiap zaman. Atau kisah Fir’aun, yang bekas-bekas kerajaannya masih dapat kita saksikan kemegahannya hingga saat ini. Apakah semua itu merupakan bukti bahwa Allah mencintai mereka? Kita semua mampu menjawabnya.


Barangkali kita patut berintrospeksi, apakah selama ini, memang dengan harga semurah itu kita menghargai nikmat yang tak ternilai berupa kehidupan di bawah aturan islam. Karena ada satu hal yang patut kita ingat, jika kesejahteraan dunia adalah hal yang kita serukan sebagai bagian dari kepastian dalam penegakan hukum Allah di muka bumi. Yaitu agar kita tidak pernah menyalahkan mereka, para bankir yang bangkrut, atas teriakan mereka menuntut kehidupan kembali pada pola ekonomi ribawi, manakala nantinya, ujian Allah (paceklik finansial, misalnya) tengah menimpa bumi di mana manhaaj rabbani telah tegak atasnya. Hingga seruan anarki membahana dari setiap penjuru bumi menuntut gulingnya daulah khilafah yang dianggap sama gagalnya mewujudkan kesejahteraan atas manusia. Naudzubillah.


***


“..Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya . Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur..” (Q.S. Faathir: 10)

0 Chirping sounds:

Posting Komentar