Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 15 Juli 2011

Persaksian Trio Macan Kami

Jumat, 15 Juli 2011 10.40 No comments



"..Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan.." (Q.S. 77:34-36)

***

“Selamat datang di area bebas Tuhan!”

Diam-diam aku ingat kata-kata yang pernah aku lantangkan di aula kampus dulu, menyambut lautan maba-maba “picik” di hadapanku. Ya, picik, berada dalam kekangan tiran imajinatif bernama Tuhan. Tolol, pikirku, dulu. Namun sekarang aku hanya terduduk dengan amat lesu, membenamkan wajahku dalam-dalam. Yah, dalam sidang ini, tak banyak yang bisa kulakukan. Maba-maba yang baru saja kuceritakan padamu, mereka duduk berbaris di belakangku, merengut, menggerutu dalam ceracau, menuntutku, sang penyesat, aku yakin itu. Mengetahui itu, aku tak kalah dongkol.

Lalu aku melabuhkan pandanganku pada temanku yang terduduk di sekian jarak dari samping kananku. Sang maestro dekonstruksi fiqh itu. Sama saja, ia juga sedang membenamkan muka. Hm, anjinghuakbar, ha? Hahah, aku ingat kata-kata tidak inteleknya itu, dulu semasa kami hidup. Cih, basi. Aku lihat dia juga tertunduk, diam saja, tak tahu, atau mungkin tak bisa berbuat apa-apa, di hadapan Tuhan Yang Maha Besar. Sekarang ia anjingnya, oh, bahkan ia lebih rendah dari seekor anjing yang hanya perlu saling berbalas hingga musnah berkalang tanah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia.

Kemudian aku lihat ketiga sosok yang tengah berdiri dalam satu shaf di depanku itu, dengan rasa putus asa. Mereka junjungan kami di dunia. Bahkan secara iseng, kami juluki mereka sebagai “trio macan”, sebagai sebuah bentuk kekaguman kami atas keberanian mereka menentang dogma, mengaum lantang melawan kejumudan Tuhan dan wakil-wakil-Nya di atas dunia. Sosok-sosok yang dulu sering aku diskusikan dengan semangat menggebu, bisa semalam suntuk bersama kawan-kawan, di ruang-ruang perkuliahan, seminari-seminari. Ya, aku ingat, aku rujuk kitab-kitabnya, sebagai bahan penulisan artikel di jurnal ilmiah kampus, makalah seminar, bahkan hingga skripsi, tesis dan disertasi doktoralku. Semua untuk menyanggah kepongahan Tuhan.

Aku memandangi mereka satu per satu. Sekujur tubuh mereka berbicara. Hanya dengan memandang ke arah mereka, aku tahu, mereka pasti merasakan lunglai yang teramat sangat. Lesu, kelu, dan kegelapan yang tidak dapat terjelaskan terangkum dalam cahaya yang terrenggut dari sepasang mata mereka, masing-masing. Sepasang mata yang dahulu di foto-foto hasil pencarian google amat lumrah tampak sebagai sedang menyorot tajam bak belati. Seperti dihujamkan ke sendi-sendi teologi masyarakat yang mungkin, kebanyakan dihuni oleh sosio-kultural taklid buta­–dan yang aku hampir yakin juga, tidak pernah sama sekali berkenalan secara ramah dengan mushaf Al Qur’an–hingga dapat menelurkan orang-orang seperti mereka di tengah-tengahnya.

“Ludwig Freuerbach!”, suara yang teramat keras menyeru.

Suara itu berarti panggilan bagi orang pertama dari ketiga orang yang berdiri di hadapan kami ini. Bukan main-main, ketiga orang ini adalah saksi kami. Sebagaimana para Rasul bersaksi untuk umatnya masing-masing. Kami amat bergantung pada jawaban dari ketiga orang ini. Kami manut pada mereka, dan mereka sedang diminta pertanggungjawabannya.

Orang pertama ini adalah, Ludwig Freuerbach, ya, kau tahu kan? Dia adalah seorang filsuf Jerman di abad 19. Ia masih tampak dengan jenggotnya yang amat lebat dan terkesan tak terawat, dan dibiarkan tumbuh sekenanya itu. Hanya yang berbeda dari apa yang aku lihat darinya selama ini adalah tiadanya jas hitam khas abad 19, dan matanya yang jadi sayu.

Proyeksi. Itulah idenya tentang Tuhan. Bahwa Tuhan tak lebih dari sekedar produk akal manusia, yang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan dirinya, bahkan sampai pada tak hingga, melalui kekuatan imajinasi yang mereka miliki. Maka Tuhan hasil produk proyeksi manusia ini, mirip dengan manusia, ia adil, baik, kasih, namun juga cemburu, dan pemarah, dan ditambahkan dengan kualitas maha, maka ia mahaadil, mahabaik, mahakasih, juga mahacemburu dan mahapemarah.

Pada mulanya, kata Freuerbach, bisa jadi Tuhan digambarkan secara manusiawi supaya bisa lebih dijangkau oleh awam, berbeda dengan Tuhan filosofis dan mistik yang biasa diperbincangkan para filsuf dan mistikus yang jauh dari pemahaman biasa. Di satu pihak bisa mendekatkan orang biasa kepada Tuhan, tetapi di pihak lain beresiko menggambarkan Tuhan secara kurang tepat.

Celakalah, kata Freuerbach, sebab manusia lupa bahwa Tuhan ini adalah ciptaannya sendiri. Manusia merasa kagum akan ciptaannya sendiri, bahkan merasa tunduk dan menyembahnya, ya, bayangan dan proyeksi mereka sendiri.

Kemudian dikatakan pada Ludwig Feuerbach, "..Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.." (Q.S. 42:11)

Ia diam saja. Ya, aku tahu aku memang tak bisa berharap banyak dari orang ini. Dalam perjalanan penyesatan masyarakat yang kulakukan di dunia, pandangan-pandangan Freuerbach memang hanya bertugas sebagai penguat satu premis, yang sebenarnya tidak penting memang, bahwa Tuhan hanyalah hasil khayalan manusia belaka, yang tak perlu sedemikian disegani norma-normaNya. Yang tentu saja, akan dengan sangat dipatahkan manakala ia berhadapan langsung dengan Tuhan, seperti sekarang.

“Karl Marx!”, tiba giliran orang kedua, harapan kami masih ada.

Karl Marx. Sudah jamak orang akrab paling tidak mendengar namanya. Penulis kitab Das Kapital, yang mencetuskan paham sosialis atheis. Ya, atheis. Orang inilah yang menyusupkan atheisme sebagai bagian tak terpisahkan dari pandangan fundamental sosialisme.

Tuhan berujar pada Karl Marx, "..Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.." (Q.S. 13:11)

Mungkin aku lupa bercerita padamu, mengapa ia meletakkan atheisme sebagai salah satu pandangan yang fundamental dalam sosialisme bikinannya. Mungkin kau ingat sebuah slogan, “agama adalah candu”. Karl Marx melanjutkan logika yang dikembangkan Feuerbach dengan mengatakan bahwa bukan saja agama yang demikian membuat manusia takluk pada ciptaannya sendiri, melainkan membuat manusia mandul dalam membuat perubahan sosial. Ia berserah diri pada Tuhan, memohon dan berdoa, ketimbang turun tangan sendiri membenahi ketidakadilan.

Marx ingin menyampaikan bahwa agama telah melupakan salah satu nilai dasarnya, yaitu sebagai pembebas revolusioner. Semua agama adalah sebuah revolusi, yang mengubah cara pandang lama. Tetapi institusi agama setelah itu biasanya kehilangan nilai revolusi tersebut, dan cenderung menjadi mapan. Tuhan memandulkan manusia, begitulah pandangannya. Agama menjadi kerdil di mata Karl Marx. Agama yang seharusnya memberikan energi untuk bertindak malah menjadi candu yang melemahkan. Menipu diri mereka sendiri bahwa penderitaan mereka di dunia ini tidak akan sia-sia dan akan diganjar dengan surga di kehidupan mendatang. Melihat perkataan Tuhan di awal, diam-diam aku mulai berpikir, apakah memang Karl Marx dulu tidak pernah sedikitpun mendengar istilah islam dalam hidupnya?

Lalu kata Tuhan pada Karl Marx, “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah islam (Q.S. 3:19)”. Karl Marx masih, ia hanya menunduk. “Sudahkah engkau mengenal Allah dengan benar hingga engkau berani menuduhNya seperti itu?”, terdengar sebuah seruan. Tumpaslah argumen-argumen dahsyat Karl Marx.

“Sigmund Freud!”, yap, kini tibalah giliran orang ketiga, harapan terakhir kami semua.

Ya, dia Sigmund Freud. Seorang dokter jiwa keturunan Yahudi. Kali ini ia tidak terlihat bersama tembakau yang menjadi favoritnya semasa hidup, yang menemaninya dalam pose di beberapa fotonya. Psikoanalisis. Ya, melalui psikoanalisis, Yahudi sekuler ini melakukan penelitian mitologi. Dari mitologi ia menteorikan bahwa di zaman dahulu, laki-laki yang kuat berkuasa dan memiliki seluruh perempuan. Laki-laki yang lain, yaitu anaknya, semuanya tunduk kepadanya. Meskipun mereka tunduk namun sebenarnya mereka iri pada kedudukan itu dan ingin mengalahkan sang ayah. Hingga suatu saat ia berani memberontak melawan ayahnya dan membunuhnya. Agak konyol, bagiku, perkataannya memang tampak tak lebih dari sebuah asumsi imajinatif yang, kalau boleh dibilang tak memiliki dasar yang cukup kuat. Apa boleh buat, ia harapanku, harapan kami satu-satunya, untuk saat ini, dan selamanya.

Lantas Tuhan berujar pada Sigmund Freud, "..Bagaimana keadaan kamu jika Allah mencabut pendengaran, dan penglihatan serta menutup kalbu-kalbumu, apa ada Tuhan selain Allah yang berkuasa mengembalikan kepadamu?" (Q.S. 6:46)

Keheningan yang sama. Ia diam saja. Aku sedikit heran mengapa kali ini ia tidak menjabarkan teorema-teorema hasil psikoanalisisnya itu dengan gaya bahasa yang melangit. Kenapa ia diam saja? Tertunduk, membisu saja. Ke mana analogi yang ia buat soal Oedipus, tokoh mitologi yunani yang membunuh ayahnya sendiri dan mengawini ibunya sebagai perlambang tumbangnya doktrin Tuhan yang merengkuh masyarakat dengan teror neraka? Membunuh Tuhan, sang inspirator Frederich Nietzsche ini, ia di hadapan Tuhan sekarang. Tapi kenapa ia tak membunuh Tuhan? Apa tanah kuburan dan jasad-jasad renik yang pernah melebur mayatnya selama bertahun-tahun telah menjadikan dia seorang yang kekanak-kanakan, seperti katanya?

Ya, atau paling tidak, kenapa, kenapa juga ia tidak berkisah tentang pemberontakan Zeus bersaudara, melawan Kronus ayahnya, lalu menggantikan posisinya sebagai pimpinan para dewa? Hilang ke mana seruannya bahwa, sebagai seorang dewasa semestinya ia mengambil hidupnya sendiri, mengupayakan sendiri, ketimbang menggantungkan diri kepada Tuhan di atas sana, ke mana seruannya itu? Aku sudah berusaha melewati “fase anak kecil” di dunia, sebagaimana yang ia ajarkan dahulu, tapi kenapa sekarang ia justru terlihat ketakutan sendiri seperti itu? Apa ia shock, sebab ternyata yang ia hadapi bukan dewa Kronus, atau “dewa-dewa ayah” lainnya yang dulu ia kaji dalam psikoanalisis-nya, melainkan Tuhan Yang Sesungguhnya, yang memiliki kekuasaan yang hakiki? Oh shit, habislah aku..

Lalu Tuhan, Allah, berkata kepada kami semua, "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" (Q.S. 6:130)

"..Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri..", kami berucap lirih, nyaris tak terdengar.

"..kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.. " (Q.S. 6:130)

Maka telah tetaplah azab Allah yang keras itu atas kami. Keabadian neraka, sebagai representasi dari ketiadaan Radhiyallahu, Ridha Allah, atas kami semua. Hari ini aku menyadari satu hal, bahwa sebuah tong yang kosong, dapat menimbulkan suara yang sedemikian menggelegar, menggetarkan dada, hingga bahkan membuat banyak orang bergidik segan. Ketakutan yang melatarbelakangi gerakan renaissance, tidak sepatutnya digeneralisasi buta, pada islam misalnya. Aku paham betul bagaimana pikiran manusia dapat menjadi sedemikian dangkal. Membenarkan suara atas dasar penghormatan, mempersembahkan tepuk tangan pemujaan pada kewibawaan yang kosong. Kau bisa menghitung sendiri betapa banyak manusia yang menyembah mereka. Allahuakbar. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan..

***

"..Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.." (Q.S. 18: 56)

0 Chirping sounds:

Posting Komentar