Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 19 Juni 2011

Teguran

Minggu, 19 Juni 2011 11.54 1 comment

http://pikojogja.files.wordpress.com/2010/03/places_of_jihad_by_xoop.jpg


Dalam tidur siang yang singkat tadi, saya bermimpi menjadi salah seorang jundi dalam satu laskar jihad. Laskar jihad itu memiliki seorang pemimpin yang rupa wajahnya begitu teduh, namun saya tidak bisa mengingatnya dengan sempurna. Dan juga salah seorang di antara kami, ada Jibril yang menjelma sebagai manusia. Kami sedang bercengkrama hangat malam itu.


Tiba-tiba saja, ada sekelompok pasukan dengan baju hitam-hitam, datang seperti hendak menyerbu kami. Mereka berlari datang sambil menghunuskan pedang-pedangnya. Kemudian saat mereka sudah begitu dekat di seputar kami, mereka bertanya sesuatu, yang mungkin dalam bahasa arab, tapi seolah aku bisa memahaminya bahwa mereka sedang bertanya, “siapa di antara kalian yang tidak segan berperang melawan kami?”


Lalu mereka pun berada di seputar kami. Mendekati tiap-tiap dari kami, karena memang kami adalah laskar yang kecil, sambil menghunuskan pedang-pedangnya. “Jawab!”, kata mereka sekali waktu, masih dalam bahasa arab.


Karena saat itu saya menyadari bahwa itu merupakan sebuah pertanyaan yang meminta komitmen jihad, maka saya mengajukan diri saya, sekalipun saya tahu, bahwa seolah itu merupakan tipuan, dan siapapun yang mengatakan ya, akan mereka bunuh. Saya yakin, setiap anggota laskar akan bersikap sama seperti saya. Namun mereka semua diam, nyali saya sedikit ciut. Namun ternyata mereka, para penyerbu itu, tidak membunuh saya.


Berikutnya, ada sedikit diskusi kecil antara pemimpin laskar kami yang berwajah teduh itu dan beberapa orang, dengan anggota kelompok penyerbu itu. Lantas seolah kami memperoleh pilihan, untuk menyerahkan manusia jelmaan jibril itu sebagai tawanan kelompok penyerbu itu. Secara kasat mata, pilihan tersebut juga nampak paling menguntungkan. Karena kami yakin, jibril pasti mampu melawan mereka, bahkan sekedar melepaskan diri dari mereka. Maka terjadi perundingan internal terlebih dahulu, dalam laskar jihad kami. Apakah kami akan menyetujuinya atau tidak.


Akhirnya, karena nyali saya yang sudah menciut sedari tadi, takut mati, maka saya pun mengiyakan dengan keras terhadap pilihan itu. Namun setelah saya mengiyakan saya segera menghambur ke belakang barisan, benar-benar mirip orang munafik. Selanjutnya terjadi perseteruan di antara beberapa jundi, saya lupa persisnya seperti apa.


Kemudian, salah seorang yang saya kenali wajahnya sebagai Kabid Kesumma IMMSI, organisasi dakwah yang saat ini saya hendak mundur darinya, tiba-tiba berbicara di muka laskar yang saat itu ricuh, yang intinya, penyerbuan pasukan berpakaian hitam tadi, memang dirancang, memang rekayasa internal, untuk menguji mental kami. Terjadilah evaluasi, peneguran. Ada dua teguran saat itu, yang satunya saya lupa seperti apa, namun yang satunya adalah teguran bagi saya secara pribadi. Mereka menuding kepada saya, bahwa saya telah menampakkan diri sebagai seorang yang mundur ke belakang setelah melakukan perjanjian.


Saat itu saya tersentak. Wahn. Rupanya penyakit wahn yang saya idap betul-betul akut. Cinta dunia. Takut mati. Seperti golongan ahlul kitab yang melemparkan perjanjian ke belakang setelah mengikat diri di atas janji itu. Saya terpukul. Saya seorang munafik.


Sebenarnya bukan kali pertama mimpi semacam itu terjadi. Beberapa hari lalu, sebagaimana pernah saya utarakan di twitter, saya sempat bermimpi digrebek oleh sekelompok polisi. Saya tidak ingat betul bagaimana alur detail mimpi saya yang satu itu, maklum, sudah berlalu beberapa hari. Yang saya ingat, mereka, sekelompok polisi berpakaian mirip densus 88 itu tiba-tiba saja merangsek masuk ke dalam kamar sambil menodongkan senjata laras panjang. Menuduh saya, dan seorang lagi yang sedang bersama saya di ruangan itu, entah siapa saya lupa, sebagai teroris. Ya kemudian, entah bagaimana juntrungannya, kami berhasil melepaskan diri dari polisi. Dan main petak umpet menghindari kejaran polisi itu.


Apa yang paling saya ingat dari mimpi itu adalah, saat saya menyaksikan sekelompok polisi itu tengah menodongkan senjata laras panjangnya ke arah saya, saya merasakan ketakutan akan mati yang teramat sangat. Ya, takut mati. Amat takut. Licik. Pecundang. Karena di saat itu saya tidak berpikir untuk melawan mereka, dan mengejar kematian sebagai syuhada di jalan Allah. Yang saya pikirkan adalah kabur. Berlari. Macam ayam betina saja.


Saya, ternyata makin jelas bahwa saya belum sekuat orang-orang dalam kisah asbabul uhdud, yang rela mati demi ucapan Laa ilaaha ilallah. Saya belum cukup kuat untuk mati di tiang gantungan yang sama dengan sayyid quthb, atau dengan peluru yang sama seperti yang bersarang di dada Hasan Al Banna, demi menunjukkan sikap yang vokal menentang penguasa dhalim yang, merenggut paksa keilahian Allah. Atau mana kuat saya untuk sekedar menahan sakit jika suatu saat kuku-kuku saya mesti dicabuti satu persatu seperti yang menimpa bocah-bocah remaja di Palestina. Atau bahkan, saya ini mana kuat, untuk sekedar merompalkan gigi saya saat dirajam bebatuan oleh penduduk Thaif seperti Kanjeng Nabi. Hanya sekedar ditodongkan syahid, dalam mimpi pula, saya langsung bersyahadat pada dunia.


Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?" . Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.(Q.S. Al Baqarah: 246)


Apa iya darah bani israil mengalir di tubuh saya? Lantas kenapa saya mewarisi kelakuan mereka berabad silam? Sok berani meminang kesyahidan, namun mundur teratur ketika Allah dan Rasul-Nya telah mengangkat Thalut sebagai panglima perang untuk bertempur di medan jihad. Kemudian apa benar saya ini seorang muslim? Tapi bagaimana bisa kelakuan yahudi jadi tingkah polah saya sehari-hari? Terlalu cinta anak sapi emas setelah pertolongan Allah datang, dan melenggang membangkang manakala gerbang jerussalem telah berada di depan mata.


Ironis. Rupanya saya yang selama ini berujar tentang Radhiyallahu sebagai perlambang dari visi yang merupakan kemerdekaan dari gambaran kesejahteraan dan kemakmuran syahwati yang membelenggu orientasi hidup manusia, ternyata masih takut mati. Saya yang selama ini mengungkapkan bahwa mati bukanlah tentang seseorang yang kehilangan keabadiannya, rupanya masih cinta dunia.


Jadi sebenarnya, saya itu mau ke mana setelah ini?

1 komentar:

  1. INSYA ALLAH...KITA SEMUA BERHARAB MENJADI...DAN SIAP MEMBELA AGAMA ALLAH>>>

    BalasHapus