Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Selasa, 31 Mei 2011

Potret Taman dan Timbangan

Selasa, 31 Mei 2011 11.00 No comments

http://fatkhuladhiatmadja.files.wordpress.com/2010/10/timbangan.jpg

Senja itu, usai melakukan walk out dari adu busa retorika di ruang ritus sidang hipokritas, Zarwan melabuhkan dirinya di taman Namuh. Dari taman itu ia bisa melihat kehidupan, serta makhluk-makhluk yang bernafas dengan sebenanya tanpa berbincang. Dan di taman itu ia dapati oksigen menghambur memburai sebebasnya, usai sepanjang siang di ruang ritus sidang tadi, ia mesti bersaing dengan suluh-suluh api yang mengisi setiap sudut ruangan, disulut sebagai bagian dari tata ruang sidang. Dan yang paling penting, di taman itu Zarwan selalu mampu mengeja kembali namanya dengan lancar. Zet, a, er, we, a, en, Zarwan. Tanpa ba, bi, bu, ragu-ragu.
...


Di bawah lelampu taman yang redup, ia memilih untuk menyederhanakan duduknya pada sebuah bangku batu. Entah tapi secara pribadi, bangku batu bertuliskan ‘skala-abu-abu lalu’ itu seperti seorang tabib personal bagi Zarwan, setiap kali ular-ular kefanaan menjalarkan bisanya ke sekujur hidup Zarwan. Bangku batu yang terbuat dari batu kali itu unik, seperti sebuah perkamen yang memiliki banyak gambar. Zarwan biasa melihat lalu lalang petang, gerimis tipis, pendar lelampu jingga, lengkung rimbun mahoni, tepi jendela, langgam campursari, jalan bebas hambatan, pegunungan hening, RCTI, lagu sendu melayu, pertikaian pasutri, perang bytecode, kota renta, selintas malam, bus malam yang menerjang, memorabilia, obelisk nasional, balkon hijau stasiun, air yang tercurah di sudut netra, kupu-kupu hitam, tawa cahaya sukma, anak urakan yang labil, bukit es, deathnote, kakek-nenek, bapak-ibu, segaris persamaan kalkulus-geometri analitis, bocah polos yang berfantasi jadi baja hitam, hingga bocah polos yang bermain dengan boneka-boneka binatangnya. Semua, di bangku batu itu.

Senja itu sepi. Hanya ia dan Pak Tua Jenkins yang duduk-duduk di taman itu. Pak Tua Jenkins selalu di sana setiap kali Zarwan menziarahi taman, seperti menjadi satu dengan taman itu. Pak Tua Jenkins. Haha, orang tua yang nyentrik. Segala macam aksesoris melekat di pakaiannya, dan hampir membuat setiap orang menganggap ia edan. Kau bayangkan saja, sorban kyai ia kenakan selain pena yang nungging di kupingnya, dipadu rompi seragam perusahaan software yang melingkupi kemeja lengan panjang dokternya, ditambah celana klombor hitam mirip seniman teater, plus sepatu bot militer. Oh, dan tidak lupa, kaca mata hitam yang, agaknya ia kenakan untuk menyembunyikan perasaan yang selalu terbahasakan melalui netranya. Semua itu dipadu dengan hobi Pak Tua Jenkins mengoceh sana-sini tanpa peduli apakah akan ada yang, bahkan untuk sekedar, mendengarkannya atau tidak. Sekalipun bagi Zarwan, yang mencermati tiap jengkal ocehan Pak Tua Jenkins setiap senjanya di taman Namuh, ocehan-ocehan itu seperti seorang remaja berandalan di mata ibu kandungnya. Begitu bermakna.

“Betulkan dulu kaca matamu itu Zarwan, pakai yang benar”, kata Pak Tua Jenkins tiba-tiba sambil menoleh sekelebat ke arah Zarwan, tersenyum simpul, lalu kembali melemparkan kedua bola mata di balik kacamata hitamnya ke langit. Entah ia bisa melihat langit yang jingga itu atau tidak. Sementara sudah beberapa bulan ini kami mulai menyadari katarak di mata Pak Tua Jenkins.

“Zarwan, pembeda sejati seorang manusia di mata manusia lainnya adalah tulus amalnya..”, itulah kata-kata yang mengawali ocehan misterius Pak Tua Jenkins senja ini.

“Ngaku kau dapat nilai sembilan di hitungan, jadi biar kujelaskan amal-amal kebaikan seperti sekumpulan bilangan positif yang terakumulasi. Dan sebaliknya, amal-amal kejahatan manusia seperti sekumpulan bilangan negatif yang terakumulasi..”, kata Pak Tua Jenkins, Zarwan hanya tertawa kecil.

“Meskipun memang, tidak semua orang mau mengenakan kacamata yang objektif ini, dan memang hal itulah, yang membuat justifikasi pribadi manusia, secara berjamaah sekalipun, memiliki cacat permanen..”, Zarwan menimpali. Menjadi bagian dari keedanan tidak ada salahnya, pikir Zarwan.

Pak Tua Jenkins tersenyum, dan lanjut bicara, “Namun ingat Zarwan, selain amal, Tuhan memiliki tambahan pembeda atas seorang manusia.”

“Iman, Zarwan. Iman.”, kata Pak Tua Jenkins.

Tiba-tiba Zarwan menimpali dengan raut wajah kecewa, “Aku merasa betapa Tuhan tidak adil. Penggiat kemanusiaan yang kafir, harus merasakan keabadian api neraka, namun raja koruptor muslim, sekalipun dibakar di neraka dulu, pada akhirnya bisa leha-leha di surga..”

“Haha. Ngaji di mana kamu, Zarwan, sampai boleh bicara seperti itu?”, tukas Pak Tua Jenkins. Zarwan tersentak. Dan tawa yang di awal itu, jangan sangka itu adalah sebuah tawa yang renyah.

“Apalagi Zarwan, kau tak pernah sama sekali mengecap rasanya neraka barang sedetik saja. Dan akhirat, kau kira seberapa bandingannya dengan sekejap gurauan kita ini di dunia? Hm?”, lanjut Pak Tua Jenkins.

“Pahamilah Zarwan, seperti seorang bujang hendak mengulurkan seikat bunga kepada gadis bernama Ratna, wajarkah jika Ratna menampik bunga itu kala ia mendapati secarik kertas bertuliskan ‘to: Ningsih’, terselip antara rekah bunganya?”, lanjut Pak Tua Jenkins. Zarwan menghirup dalam-dalam oksigen yang dikibaskan ranting mahoni, lalu tersenyum mafhum.

Mengetahui Zarwan puas dengan jawaban yang ia berikan, Pak Tua Jenkins kemudian berujar, “Pembeda ini Zarwan, iman, seperti sistem biner, keberadaannya adalah angka satu, dan ketiadaannya adalah angka nol.”

“Yang mebuatnya istimewa adalah, bagi Tuhan, pembeda ini memiliki fungsi pengali atas pembeda satunya, yaitu amal.”, kata Pak Tua Jenkins.

“Dan kalau aku boleh menyempurnakan, Pak, dalam proses kalkulasinya, perkalian itu dilakukan melalui pembobotan tiap unsur yang dikalkulasikan..”, kata Zarwan sambil tersenyum. Dan Pak Tua Jenkins membalas senyumannya. Lantas dengan hati lega Zarwan pun berlari meninggalkan taman.

“Jangan kau lupakan gerbangnya! Dan hei, jangan kau lari ke lokalisasi pelacuran Zarwan, ingat itu! Haha! Haha!”, teriak Pak Tua Jenkins sambil menunjuk ke arah Zarwan.

“Atau angka nol untukmu..”

0 Chirping sounds:

Posting Komentar