Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 19 Juni 2011

Potret Taman dan Pelacur Bugil

Minggu, 19 Juni 2011 11.53 No comments
“Aku pelacur bugil!”, teriak Zarwan sambil mengobrak-abrik taman Namuh senja itu. Gebyah uyah bensin yang ia siramkan di sekujur penjuru taman. Ia bakar segala hal yang berwujud, segalanya yang dapat diindera. Semua ia lakukan setelah ia proklamirkan pemberontakannya lewat air seni yang mengalir ke telaga istighfar.
...


Pak Tua Jenkins diam saja melihat semua ini. Bukan tanpa sebab, Zarwan merantainya di salah satu pohon besar yang menjulang di taman. Alhasil ia hanya berhak bungkam menyaksikan polah Zarwan yang makin binal berbuat anarki di taman Namuh. Sedang Zarwan terlalu sibuk untuk menyaksikan air yang mengalir di sudut mata Pak Tua Jenkins. Diam-diam jasadnya makin lemas. Pra sekarat!

“Ini tentang seorang pelacur, di taman namuh yang lusuh! Malam ini bajunya terlucut! Ia meringkuk malu, lalu mendendang dongeng tentang narapidana yang berdiam takzim di ceruk penjara!”, Zarwan melantangkan bait pertama dari bait anarkismenya senja itu.

Tn. Merovingian berdiri sambil tertawa sengit menyaksikan tingkah polah Zarwan dari tepi telaga. Kedua belah tangannya tersekap di belakang punggung. Jari-jarinya bergerak seperti tengah memainkan sesuatu. Bagi orang yang tak tahu ia terlihat seperti sedang menikmati resital rebellion Zarwan di taman Namuh. Sambil ia terus saja menyoraki Zarwan dengan teriakan dan tawa kesenangan. Juga bisikan nakal, Zarwan makin gila, makin gahar.

“Ini tentang seorang pelacur, yang sedang mengusap sayapnya dari jelaga. Hatta, dalam panorama yin-yang, Nur Tuhan mengalir pelan. Ia sambar DSLR, dan memotretnya berulang kali. Pelacur kabur. Dunia menebus cinta di batu kalbunya!!”, bait kedua terlantun, lalu Zarwan meremukkan bangku batu di taman Namuh. Bangku batu tempat ia biasa mengeja namanya dengan haru. Kini bahkan kita tak tahu siapa namanya. Yang pasti ia bukan Zarwan.

“Apa kau pernah berpikir seberapa besar harga dosa-dosa, Zarwan??”, tanpa diduga Pak Tua Jenkins berteriak demikian keras, di tengah hiruk pikuk Zarwan yang mengamuk. Namun apa lacur?

“Ini tentang seorang pelacur, yang bertelanjang menantang! Aku berani bertaruh tentang sorak sorai manusia! Sedang pelacur makin liar menjual kata-kata pusarnya! Pelacur terbata membedakan Tuhan dengan para wali-Nya, juga pelacur lainnya!”, bait ketiga terlontar. Saat ini Pak Tua Jenkins seperti menjadi sekedar keghaiban di taman. Apa makna keghaiban? Seperti Tuhan. Seperti setan. Seteru mereka dilupakan dalam diskotika dunia.

Saat ini taman Namuh telah hancur. Zarwan telah menuangkan satu silo kotoran babi ke dalam telaga istighfar. Tetumbuhan di tiap sudut taman sudah berupa potongan yang berselimut api. Atau jangan harap kau bisa duduk di bangku batu atau sekedar mengelus plat bertuliskan “skala abu-abu lalu” di atasnya, karena senja ini ia menjadi kerikil-kerikil kecil. Sementara Tn. Merovingian tampak terbahak, tangannya terbuka seperti seekor werewolf yang hendak memangsa anak perawan, hingga kini kau bisa melihat jemarinya lincah memainkan tali puppetmaster.

“Ini tentang seorang pelacur, yang menguliti kalbunya sendiri! Dan timbunan dedebu halus di kantung emas bekalannya, sadar? Ia sudah bicara. Entah diplomasi macam apa yang akan Tuhan terima, tentu saja para manusia tertawa geli besertanya!”, bait keempat telah terlantun. Semuanya tergenapi. Permainan Tn. Merovingian. Dan sejurus tiba-tiba segalanya gulita. Zarwan tersungkur. Tn. Merovingian menyanyikan tawa kemenangannya begitu keras. Namun perlahan makin samar, memudar, dan lenyap.

“Sejak kapan dosa menjadi bagian dari sesajen yang kau sembahkan untuk berhala, Zarwan?”, tiba-tiba Pak Tua Jenkins telah berdiri di samping Zarwan yang sujud berlumur darah, memainkan temali di jarinya. Perlahan Zarwan kembali dari amnesianya.

“Apa kau pikir dosa sedemikian lucu, Zarwan?”, tanya Pak Tua Jenkins. Zarwan terengah-engah.

“Cepat pakai bajumu, Zarwan!”, teriak Pak Tua Jenkins. Zarwan tergopoh-gopoh menurutinya, dengan segera.

“Ingat, berulang kali telah kau bawa kemerdekaan di tanah pelacuran, Zarwan. Lantas kau baptis ia dengan nama eksploitasi!”

0 Chirping sounds:

Posting Komentar