Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Rabu, 01 Juni 2011

Potret Taman dan Nyepi Cinta

Rabu, 01 Juni 2011 11.00 No comments

http://4.bp.blogspot.com/-i_qSy2LX5kc/TdZgXD0fi5I/AAAAAAAAAyk/i7rk9M33DwY/s1600/2254586651_80ff94bceb.jpg

Di senja yang lain, Zarwan kembali mengunjungi taman Namuh. Kali ini dengan luka bakar dan robekan-robekan camping yang tersembunyi di balik jas abu-abu lusuhnya. Ia menyandar di pagar telaga taman, dengan sepasang matanya yang nanar.
...


Biar kuceritakan apa yang terjadi pada Zarwan di ruang ritus sidangnya hari ini. Seharian ini ia diam saja di ruang ritus sidang. Sementara hari ini adalah jadwal bagi tarian api untuk dipertontonkan. Api, api, api, di mana-mana api. Para penari api melenggak-lenggok gahar. Rekasa. Zarwan diam. Sementara satu jeriken air ia genggam. Hanya ia genggam. Sesuatu membatu di kalbunya. Ia kelelahan, di sisi lain. Kebingungan, mungkin juga iya.

“Sudahkah aku perkenalkan kau pada nyonya sapi, Zarwan? Nanti kau boleh lihat bagaimana air susunya tak pernah bercampur dengan tahi sekalipun puting susunya terletak di sekitar perutnya, pusat penyerapan makanannya menjadi egesta ekskreta”, Pak Tua Jenkins tiba-tiba saja sudah berdiri takzim di samping Zarwan. Zarwan hanya tersenyum.

“Yang rabbani, sudah menjadi kodratnya untuk tidak akan pernah bisa tercampur dengan yang syaithani. Tidak akan pernah, Zarwan”, lanjut Pak Tua Jenkins.

“Kudengar kau ahli desain grafis. Ha, tentu kau akrab dengan heksadesimal warna-warna. Biar kujelaskan dengan sederhana. Seperti satu karakter ‘0’ saja, yang mewakili hexadesimal hitam, kau susun bersama lima karakter ‘f’, yang mewakili heksadesimal putih, untuk kau bentuk menjadi sebuah heksadesimal baru, maka jangan sekali-kali Zarwan, jangan sekali-kali kau berharap mendapatkan warna putih dengan heksadesimal barumu itu.”, Pak Tua Jenkins berceloteh panjang.

“Maka saat sedikit saja sesuatu yang Rabbani itu tercampur dengan hal yang syaithani, ia bukan lagi sesuatu yang Rabbani”, kata Zarwan.

“Gotcha. Berlaku adillah, di muka bumi, Zarwan. Kebenaran bukan kodratnya untuk diperjuangkan dengan ambisi, Zarwan. Dengan benci. Tapi dengan sepenuh cinta. Ghirah”, tukas Pak Tua Jenkins. Disusul dengan raut wajah kosong Zarwan. Klise, pikir Zarwan. Bukan ini yang ia butuhkan.

“Kau pikir seperti apa itu cinta, Zarwan?”, kata Pak Tua Jenkins tiba-tiba.

“Sesederhana jantung berdetak, dan tidak sekompleks logika merumuskan, kau pernah mengatakannya”, jawab Zarwan.

Lantas Pak Tua Jenkins menyodorkan bungkusan aluminium foil berisi Ratatouille hangat yang baru ia beli di pedagang kaki lima, dan berkata kepada Zarwan, “makanlah..”

“Aku tidak lapar”, kata Zarwan.

“Haha, lalu sudahkah kau paham bahwa makan itu seperti cinta, Zarwan. Sesederhana perutmu yang lapar, tidak sekompleks lidahmu ingin mencecap Steak di restoran eropa”, kata Pak Tua Jenkins.

“Sesederhana itulah. Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk menaruh kalbu dan jiwanya dengan segenap cinta. Berkurban, mempersembahkan apapun, hingga jiwanya sekalipun. Segalanya wajar saja, dengan dorongan dari cinta yang telah menjadi fitrahnya, Zarwan”, kata Pak Tua Jenkins sembari menepuk pundak Zarwan. Zarwan tersenyum simpul.

“Sekarang ayo kau duduk sana, di tepi telaga. Cuci mukamu. Lalu diam, dan tatap wajahmu sendiri di cermin telaga. Inilah hakikat uzlah, hakikat mi’raj, selami palung kalbumu, dan pisahkan suara kebenaran itu dari ambisi duniawi”, perintah Pak Tua Jenkins. Zarwan pun bergegas.

“Dan setelah ini, Zarwan, jangan kau pergi ke pasar. Kau hanya akan menjadi pelaku ekonomi sektor swasta yang memperdagangkan barang publik. Dan karena cinta, tak pernah dijual di pasar, Zarwan. Haha. Haha”, kata Pak Tua Jenkins.

0 Chirping sounds:

Posting Komentar