Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 02 Juni 2011

Potret Taman dan Hari Ulang Tahun

Kamis, 02 Juni 2011 11.00 No comments
http://1.bp.blogspot.com/_oJVBqy8XvJw/R1GHE0PuYgI/AAAAAAAAACw/VM_ZOTrAhuU/s1600-R/G5.htm3.jpg



Ini bukan sesuatu yang biasa. Kali ini Zarwan berkunjung ke taman saat hari masih pagi. Ia berdiri di samping telaga, meski begitu ia tidak sedang terlihat hendak bunuh diri. Tampaknya ia sengaja, entahlah mengapa, tapi yang pasti pada hari ini, Horus, peserta ritus sidang tempo hari, sedang memperingati hari lahirnya.
...

“Apa yang salah, Zarwan? Ia tidak bertentangan dengan manhaj Kanjeng Nabi, kan? Kupikir kau tidak sebodoh itu untuk tidak membaca selebaran yang hari ini bertebaran menguraikannya. Menempelkan ayat demi ayat yang mendukung tiap butir filosofinya”, tiba-tiba saja Pak Tua Jenkins muncul di sampingnya secara misterius dengan sebuah pertanyaan.

Sejujurnya bukan hal yang biasa Pak Tua Jenkins memulai sebuah obrolan dengan pertanyaan, dan bukannya racauan-racauan abstrak sebagaimana biasanya. Yah, Zarwan membuat sebuah hipotesis, barangkali karena ini hari masih pagi. Atau mungkin juga, pagi ini dia rasa kopi nikmat sekali, seperti kata bapak guru Oemar Bakri. Tapi yang paling masuk akal adalah agaknya, Pak Tua Jenkins sedang ingin bermain tebakan untuk menguji Zarwan. Untuk yang satu itu Zarwan tidak peduli.

“Pak Tua Jenkins tentu ingat, bahwa Bapak Pembangunan negeri kita ini sempat hendak, atau mungkin sudah, menjadikannya asas tunggal bagi setiap gerakan masyarakat, hingga gerakan masyarakat yang islam sekalipun”, Zarwan menimpali.

“Aku tak habis pikir denganmu, Zarwan. Sepanjang tidak bertentangan dengan dua manhaj warisan Kanjeng Nabi, tidak ada salahnya kan?”, tanya Pak Tua Jenkins.

“Bagi saya, tidak ada ketaatan yang mutlak, Pak, selain ketaatan kepada Gusti Allah, dan ketaatan kepada Kanjeng Nabi. Jadi Pak Tua Jenkins, saya menghargainya, namun saya tidak akan meutlakkan pembenaran saya, lebih-lebih untuk menganggapnya sebagai sebuah produk yang final, sekalipun ia memiliki tempat tertinggi di konstitusi negeri”, ujar Zarwan.

“Jadi menurutmu, kelima pilar filosofi itu masih punya celah, begitukah Zarwan? Let’s see, bagaimana dengan Ketuhanan Yang Maha Esa? Apa yang kau ragukan?”, Pak Tua Jenkins bertanya.

“Kau tentu ingat pada apa yang pernah kau katakan padaku tentang piramida cinta kan, Pak Tua Jenkins? Bahwa beragam cinta yang melekaat pada diri seorang manusia, tersusun layaknya tumpukan batu piramida. Maka cinta yang paling besar, akan menjadi dasar bagi cinta yang lainnya. Yang terbesar, itulah perlambang dari cinta, yang sekaligus dipertuhankan oleh seorang manusia. Karena cinta, adalah konsekuensi dari penyembahan, bukan begitu, Pak Tua Jenkins?”, Zarwan mengurai panjang. Pak Tua Jenkins tersenyum.

“Seperti dhawuh Kanjeng Nabi, bahwa agama seseorang tergantung pada apa yang dicintainya”, kata Pak Tua Jenkins.

Zarwan melanjutkan, “Maka kalau saat ini aku mempertuhankan para wanita yang menjadi ‘hidup dan matiku’, lalu para investor mempertuhankan lembaran-lembaran surat berharga yang ‘memberi mereka makan’, atau bahkan saat para atheis mendewakan logika mereka, itu sudah pancasilais. Yang penting bertuhan, begitu kan, Pak?”

“Haha, kau hidup di era liberal, Zarwan. Terlebih semua itu sudah dijamin kebebasannya dalam landasan konstitusional negeri ini. Sesuai kepercayaan masing-masing, Zarwan. Ingat itu dalilnya. Laa Ikraha fi ad diin..”, Pak Tua Jenkins menimpali.

“Sebenarnya aku bisa saja hidup dengan damai, Pak Tua Jenkins. Aku bisa, amat sangat bisa”, kata Zarwan.

“Lalu?”, tanya Pak Tua Jenkins

“Aku hanya miris jika demi kedamaian dalam kelakar singkat kita sepanjang nafas ini, keabadian siksa mesti jadi kabar gembira bagi kita nantinya. Kebenaran yang mestinya dicari, ditemukan, dan dihayati oleh setiap individu, menjadi terbengkalai, dan dimarjinalkan, oleh kebebasan itu”, jawab Zarwan. Pak Tua Jenkins tersenyum, makin jelas bahwa kali ini Pak Tua Jenkins sedang bermain tebakan dengan Zarwan.

“Akhirat itu kekal, wahai dunia”, kata Pak Tua Jenkins sambil tangan kirinya memegang pundak Zarwan, dan tangan kanannya menengadah ke langit.

“I Just can pray, for ‘em..”, kata Zarwan, sambil tersenyum..

“Haha, that’s good, boi. Dan memang untuk itulah para rasul diutus. Selanjutnya, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab..”

“Humanisme, Pak Tua Jenkins. Humanisme adalah sebuah nilai yang sifatnya relatif. Mengebiri kejantanan pejabat pun pernah dianggap konsekuensi yang wajar, dan manusiawi di Asia Timur”, kata Zarwan.

“Adil dan beradab. Jangan lupakan itu, Zarwan. Kemanusiaan di negara kita punya tolok ukur yang pasti. Dengan kata lain, mutlak bukan?”, Pak Jenkins menimpali sambil tersenyum.

“Lalu bagaimana jika perkara keadilan dan adab sendiri merupakan sesuatu yang dinamis dan relatif, tidak mutlak, Pak Tua Jenkins?” tukas Zarwan.

“Kau tak pernah belajar PPKn, atau Kwn, Zarwan...??”, tanya Pak Tua Jenkins.

Sambil tertawa Zarwan menanggapi ucapan Pak Tua Jenkins, “Haha, segala puji bagi Tuhan, nilai saya dulu selalu jelek, Pak..”

Pak Tua Jenkins tersenyum dan berkata kepada Zarwan, “Kau tentu ingat bahwa relativitas membuatnya unggul, Zarwan. Dia menjadi sebuah ideologi yang terbuka”

“Maka Pantaskah sebuah falsafah hidup yang mutlak, falsafah hidup yang tegas, dapat diorak-arik dan ditafsirkan, hermeneutic, sekenanya demi memenuhi hasrat manusia?”, tanya Zarwan. Pak Tua Jenkins tersenyum.

“Baiklah, Zarwan. Berikutnya bagaimana dengan Persatuan Indonesia? Aha, entah mengapa untuk yang satu ini aku yakin kau sudah mempunyai jawaban yang bagus. Impress me, Zarwan. What do you think?”, kata Pak Tua Jenkins.

“Sederhana, Pak. Apakah aku mesti turut bersatu manakala negeri ini hendak meluluhlantakkan masjid-masjid? Atau meluncurkan misil-misil untuk menghancurkan Ka’’bah?”, tanya Zarwan.

“Haha, ashobiyyah. Begitu huh? Asal kau tahu negerimu ini tidak sebodoh itu, Zarwan”, kata Pak Tua Jenkins.

“Fir’aun juga tidak sebodoh itu, Pak, melihat betapa banyaknya budak Bani Israil yang ia miliki dulu. Kuharap kau tidak bosan, Pak Tua Jenkins, tapi ketaatan, dukungan dan persatuan, tidak mutlak, selain dalam ketaatan, dukungan, dan persatuan dalam millah Tuhan, dan juga Rasulullah”, kata Zarwan.

“Haha, baiklah Zarwan. Selanjutnya, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Bagaimana menurutmu?”, tanya Pak Tua Jenkins.

“Legislasi, Pak Tua Jenkins. Millah Kanjeng Nabi pun memang mengaturnya”

“Jadi menurutmu tak ada maslah, begitu Zarwan?”, tanya Pak Tua Jenkins.

“Mendasarkan segalanya semata-mata pada hasil mufakat, apakah menurut Anda itu baik-baik saja, Pak Tua Jenkins?”, Zarwan balik bertanya.

“Menurutmu?”, tanya Pak Tua Jenkins.

“Segalanya sudah semestinya menjadi introspeksi kita bersama, Pak. Ingatlah apa yang terjadi manakala doktrin Arianisme, tauhid, dimusnahkan dalam Konsili Nicea pimpinan Kaisar Constantine, dalam selisih suara yang tipis”, jelas Zarwan.

“Tidak selamanya orang yang bermufakat adalah orang-orang yang taat tanpa dibumbui kepentingan duniawi..”, kata Pak Tua Jenkins. Zarwan tersenyum mengiyakan.

“Lalu yang terakhir, Zarwan. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.bagaimana menurutmu?”, tanya Pak Tua Jenkins.

“Pak Tua Jenkins, saya sudah mengungkapkannya di pertanyaanmu mengenai butir falsafah kedua. Bahkan keadilan sekalipun merupakan sebuah aspek yang relatif”, kata Zarwan.

“Jadi?”, Tanya Pak Tua Jenkins.

Tidak ada dasar yang mutlak sebagai tolok ukur keadilan, dalam sebuah negeri yang sekuler, terutama”, kata Zarwan. Pak Tua Jenkins tersenyum lega.

“Jadi apa kesimpulanmu?”, tanya Pak Tua Jenkins. Pertanda kuis kecil buatannya sudah hampir rampung.

“Saya tetap pada pendirian saya, Pak Tua Jenkins. Bahwa dia tidak akan menjadi asas tunggal yang final, yang akan mendapatkan kepatuhan mutlak, setidaknya bagi diri saya secara pribadi. Saya memiliki masalah dengan ketaatan mutlak pada relativitas butir-butir filsafatnya, Pak”, kata Zarwan. Pak Tua jenkins tersenyum.

“Jadi kau siap mati, Zarwan?”, tanya Pak Tua Jenkins.

Zarwan menarik nafas dalam-dalam, lalu menjawab, “Agaknya untuk itulah saya hidup, Pak Tua Jenkins”

Namun, sejurus tiba-tiba saja Pak Tua Jenkins menggenggam tangan Zarwan dengan keras. Zarwan terkejut dan bertanya, “Eh, ada apa Pak Tua Jenkins?”

“Ugh, tampaknya, katarak di mataku telah mencapai puncaknya Zarwan”, kata Pak Tua Jenkins lirih.

“Kalau begitu sekarang aku akan membawamu segera ke dokter, Pak Tua Jenkins. Mari..”, kata Zarwan

“Jangan, Zarwan. Bawa saja aku ke telaga istighfar, agaknya semilir angin menidurkan seekor monyet yang bergelayut di pohon. Dan Zarwan, jangan pacu untamu terlalu keras, kau bisa mematahkan punggungnya”, kata Pak Tua Jenkins.

“Astaghfirullah..”

0 Chirping sounds:

Posting Komentar