Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 03 Juni 2011

Potret Taman dan Gigil Diam

Jumat, 03 Juni 2011 11.00 No comments

http://1.bp.blogspot.com/_oSFtiIx363w/TUoxer7gX3I/AAAAAAAAAWw/_z7UBxdg7qg/s1600/UnmaskingHypocrite.jpg

Zarwan duduk di kursi batu taman. Ia diam. Menggigil lebih tepatnya. Ia teringat Tn. Merovingian. Tn. Merovingian adalah “makhluk taman” kedua yang kadang ditemui Zarwan selain Pak Tua Jenkins. Dan pagi ini, mereka, Zarwan dan Tn. Merovingian, sedikit mengalami cekcok yang memanaskan pagi itu.
...


***

Zarwan sedikit ingat ucapan Tn. Merovingian padanya pagi itu, “Bagaimana bisa kau biarkan ia merendahkanmu seperti itu, Zarwan? Mana harga dirimu???”

“Dia pikir dia siapa, Zarwan, ha?? Aduh, Zarwan,..”, Tn. Merovingian terus mengoceh. Sementara Zarwan hanya berusaha menyumbat kedua lubang telinganya..

“Kau kan orang suci, Zarwan. Pantas dia melemparimu dengan kotoran, ha? Pantaskah???”, Tn. Merovingian belum menyerah. Sambil sesekali menawarkan tiket promo melacur.

“Shut the f**k up!”, teriak Zarwan saat ia mulai tak kuat..

“Larilah, Zarwan! Bergerak terus, biar kau tak gigil..!!!”, tiba-tiba Zarwan dengar seruan Pak Tua Jenkins. Dan Zarwan pun berlari. Sambil menahan bibirnya yang membiru. Hypothermia.

***

Sejurus tatapan mata Zarwan menembus keluar taman. Ia membaca lagi, sekalipun ia mesti tahu dengan itu busuk lukanya makin sangit saja. Dilihatnya bocah kecil, usianya kurang lebih empat atau lima tahun, ia menarik-narik lengan baju ibunya sambil berkata, “Lho bu, wong gendeng, bu. Wong gendeng..”

Bocah kecil itu berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah dua orang berpenampilan ala rastafarian yang agaknya tengah ngaso di tengah-tengah mata pencahariannya. Dalam hati Zarwan keheranan, kriteria macam apa yang bocah ini anut tentang orang gila? Dalam hati, Zarwan mulai berkesimpulan bahwa anak kecil itu tak boleh bertemu dengan Pak Tua Jenkins.

“Aku tidak gendeng, Zarwan. Edan, masih mungkin..”, kata Pak Tua Jenkins. Zarwan terkekeh-kekeh mendengarnya. Makin gila saja kemampuan nujum orang ini, pikir Zarwan. Dia jadi berpikir bahwa barangkali Pak Tua Jenkins tidak bercanda waktu dia berkata aku adalah kau, dan kau adalah aku.
“Udara luar makin dingin, Zarwan?”, tanya Pak Tua Jenkins, seperti biasa, melengkapi kemunculannya yang misterius.

“Ya, Pak Tua Jenkins. Makin gigil aku dibuat”, jawab Zarwan sekenanya.

“Bukankah di taman ini kau selalu mampu mengeja namamu dengan lancar? Jangan-jangan takdir Tuhan mulai bekerja padamu, ha? Haha”, seloroh Pak Tua Jenkins.

“Aku tidak tahu. Tapi, apakah menurutmu aku memang terlalu muda untuk membuka kedua kelopak mataku secara utuh?”, kata Zarwan.

Sejenak Pak Tua Jenkins terdiam takzim, lantas ia berkata, “Secara mendasar, tiap orang boleh didatangi maut, Zarwan. Kau tahu kan, yang namanya mati tak kenal korespondensi. Bocah merah pun bisa didatanginya..”

Artificial Intelligence. Manusia seperti sekumpulan Artificial Intelligence. Sang Programmer melengkapi Artificial Intelligence buatannya untuk dengan kemampuan untuk dapat belajar melakukan overwrite, bahkan reprogram. Namun semua itu bukan untuk melawan command-command dasar yang diinput Sang Programmer”, kata Pak Tua Jenkins.

“Pada dasarnya kemampuan itu, lebih ditujukan sebagai fasilitas untuk melakukan reversal action menghadapi serangan virus, selain memungkinkan sang Artificial Intelligence untuk mematuhi command-command virus, di sisi yang lain”, Zarwan menimpali. Pak Tua Jenkins tersenyum.

“Dan perangkat keras dari sang Artificial Intelligence, akan memerlukan beberapa modifikasi dan penyesuaian di sana-sini, seiring dengan akselerasi kemampuan sang Artificial Intelligence”, ujar Pak Tua Jenkins.
“Pelajaran buatmu, Zarwan, kalau kau terus diam, kau akan diserang demam. Sedikit banyak kulihat kau mulai kecanduan melihat”, kata Pak Tua Jenkins. Zarwan sedikit mengangguk mengiyakan. Mengingat apa yang ia alami tadi pagi. Dengan Tn. Merovingian.

“Kau ingat bahasa yang paling global, Zarwan?”, tanya Pak Tua Jenkins.

“Jasad. Amal..”, tukas Zarwan pelan.

Pak Tua Jenkins mengangguk, dan berkata, “Bahasa yang digunakan untuk persaksianmu di akhirat kelak. Dan dasar atas apa yang nanti kau akan diadili dengannya”, kaa Pak Tua Jenkins. Dalam gigilnya Zarwan tampak merenung.

“Kau memang terlahir untuk berjalan, terutama. Bukan hanya membuka mata, membaca, dan mendongeng..”, kata Pak Tua Jenkins. Zarwan tertegun.

“Perhatikan arah sujudmu, Zarwan. Berhati-hatilah. Jangan sembah seruanmu, tapi sujudkanlah seruanmu. Dan oh iya, jangan lupakan namamu. Zet, a er, we, a, en. Zarwan”, Pak Tua Jenkins melanjutkan. Diam-diam Zarwan masih mengigil.

“Tapi barangkali Zarwan, sedikit api boleh jadi obat demammu kali ini..”, kata Pak Tua Jenkins. Zarwan tersenyum. Dan mereka berdua larut dalam orkes dangdut koplo menjelang maghrib.

“Haha, jadi bagaimana, Zarwan, apa kau sudah belajar bagaimana cara melucuti pedang Excalibur?”, tanya Pak Tua Jenkins, seelah berapa lama. Zarwan tersenyum kecil.

“Tapi jangan lepaskan buhul pengaitnya, Zarwan, terlalu berharga ia kau umpankan pada api..”

0 Chirping sounds:

Posting Komentar