Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 05 Juni 2011

Potret Taman dan Diskontinu

Minggu, 05 Juni 2011 11.02 No comments

http://fc02.deviantart.net/fs50/f/2009/284/4/f/Hollow_Ichigo_Wallpaper_by_SirCrocodile.jpg

“Senja ini seperti sebuah status quo antara Tuhan dan iblis..”, kata Pak Tua Jenkins senja itu.

Zarwan diam saja sambil mengamati orang-orang berlalu lalang di sepanjang sungai yang lebam airnya. Bangku taman dan senja yang senyap seperti sebuah ceruk, atau angka nol. Tidak ada bakaran, tentu tidak akan ada luka bakar. Tapi pepasir waktu berjatuhan, dan break even point bukan pilihan yang bagus juga bagi pengusaha. Lama-lama usaha akan tutup juga, ya kan?
...


“Hari ini aku kembali ragu, Pak Tua Jenkins, dalam sepasang kelopak mataku yang terkatup secara kompulsif”, kata Zarwan, setelah jeda waktu yang lama sempat hinggap di antara mereka berdua. Pak Tua Jenkins memunculkan senyum misteriusnya.

Hari ini, entah oleh gempa bumi berapa skala richter, Zarwan kembali lupa bagaimana cara mengeja namanya. Seperti sebuah amnesia mendadak yang misterius, yang membuat Zarwan lupa mengenai siapa namanya. Hanya namanya. Akibatnya hampir seharian ini Zarwan berjalan terserak-serak di sepanjang kota yang ramai dalam keadaan linglung. Namun kemudian, dengan mengumpulkan sekeping demi sekeping kunci, akhirnya Zarwan bisa tiba di taman, dan mengeja namanya dengan benar, Zarwan. Meski belum benar betul, agak cadel, kalau boleh jujur.

“Coba kau ucap syahadat, Zarwan..”, pinta Pak Tua Jenkins tiba-tiba.

Laa ilaaha ila...”, gawat, Zarwan lupa lanjutan syahadatain. Ia bingung. Zarwan coba mencari-cari, mencocok-cocokkan asma, tapi ia tetap tidak bisa mengejanya dengan benar. Tetap saja ia tidak mampu melengkapi miftahul jannah itu. Melihat tingkah Zarwan, Pak Tua Jenkins tersenyum.

Nafi’ Itsbat. Kau sudah paham itu kan, Zarwan?”, tanya Pak Tua Jenkins. Zarwan masih bertahan dalam kekalutannya.

“Atau barangkali bolehlah sedikit aku mengulangnya untukmu, Zarwan”, kata Pak Tua Jenkins. Kali ini Zarwan terlihat mencoba menenangkan diri sambil membuntuti jerejak petuah Pak Tua Jenkins.

“Kalimat tauhid, syahadatain itu, adalah dua deklarasi yang terangkum dalam sebuah kalimat. Deklarasi nafi’, tiada tuhan, penolakan atas ilah-ilah, sembahan-sembahan yang lain, selain Ilaah Al Haq. Dan deklarasi itsbat, sebuah penisbatan uluhiyah kepada Ilaah Al Haq tersebut”, ujar Pak Tua Jenkins. Zarwan masih setia menyimaknya, sebuah penjelasan yang bukannya ia belum paham sebelumnya.

“Tapi bisakah kau bayangkan, Zarwan, manakala kau sudah mengikrarkan penolakan Uluhiyah atas ilah-ilah lain selain Ilaah Al Haq,namun uniknya, di saat yang sama kau belum tahu siapa Ilaah Al Haq itu?”, tanya Pak Tua Jenkins.

“Tiada tuhan, selain..selain..ugh..selainn..arrghh!!”, Zarwan mencoba mengulangi usahanya lagi. Ia nyaris putus asa.

“Maka jadilah engkau atheis, Zarwan. Atau agnostik. Atau deis. Haha”, kata Pak Tua Jenkins. Zarwan terpekur.

“Ingatlah, Zarwan, jika tidak menyelesaikan tahapan evolusi, maka suatu ketika bentuk peralihan itu akan mulai menggerogoti inangnya..”, kata Pak Tua Jenkins sambil menepuk pundak Zarwan.

“Maka teruslah berjalan, Zarwan. Dan ketahuilah, selama rajah lacur itu masih melekat, macam mana kau mengharap Tuhan hadir di altar yang kotor..??”

0 Chirping sounds:

Posting Komentar