Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 19 Juni 2011

Cendekiawan Sebutir Debu

Minggu, 19 Juni 2011 11.54 No comments

http://ronisetiyawan.files.wordpress.com/2010/05/galaksi-alam-semesta.jpg


"..Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.."
(Q.S. At Takatsuur: 1-4)


***


Melihat perang dingin yang selama ini kubaca pada Pak Tua Jenkins dan Tn. Merovingian, di taman Namuh, agaknya aku harus mengisahkan padamu tentang Tn. Vanko, saudara jauh Tn. Merovingian. Barangkali tidak berlebihan jika aku menyebutnya dengan salah satu gelar yang pernah disematkan oleh salah satu jurnal ilmiah internasional sebagai, “ilmuwan paling revolusioner abad ini”. Julukan yang cukup menyilaukan untuk membuat jutaan mahasiswa pintar menuliskannya sebagai ‘people who inspire you’, di Facebook.

...


Tidak mengherankan. Bolehlah kiranya aku menyebutkan dua teknologi yang pernah ia temukan. Yang pertama adalah God of Time XV700, yang menjadi penemuan sukses pertama atas mesin dilatasi waktu, yang, ya, kau tahu lah apa gunanya. Mesin waktu, bahasa gampangnya. Dan yang kedua, The Jumper V.02 XZ, sebuah teknologi yang menyamai jin-jin Nabi Sulaiman, sebuah mesin teleportasi antar tempat dalam sekejap kedipan mata. Ya, seperti mewujudkan pintu ke mana saja milik doraemon. Barangkali jika penemuannya sedikit lebih awal, bisa jadi Fujiko Fujio, komikus Doraemon itu, menamakan tokoh utamanya itu sebagai Vanko, bukan Nobita.


Bisa dibilang manusia yang cukup mujur, tidak hanya dikaruniai otak yang encer, tapi juga doku yang tebal. Maklum, kau pikir bisa berapa banyak kas yang mengalir ke kantongnya dari penggunaan paten miliknya? Bahkan untuk kedua penemuan yang kusebutkan padamu tadi, Tn. Vanko mesti mendebet miliaran rupiah kasnya di bank untuk penelitian itu. Karena itu, kedua mesin itu belum pernah diproduksi masal. Maklum, biaya pembuatannya terlampau mahal.


Yang kuketahui, ia juga pernah menandatangani kontrak dengan menteri pertahanan di negaranya. Sepertinya penemuannya akan dijadikan sebagai salah satu perangkat militer. Peralatan lain untuk membunuh jutaan orang dalam peperangan. Tn. Vanko tak peduli. Selama ia kaya dan terkenal. Selama ia jadi yang terpintar. Barangkali demikian yang ia pikirkan saat itu.


Namun, ia berubah drastis sejak dua tahun lalu. Ia menghilang, setidaknya dari jurnal-jurnal ilmiah, dan liputan-liputan di berbagai televisi sains. Ia juga tidak pernah terlihat lagi di lab. Kata orang-orang terdekatnya, ilmuwan besar itu sudah menjadi rahib. Sehari-hari ia hanya terdengar menangis di bilik kecil rumahnya, sambil terdengar terbata-bata mengoceh dalam bahasa Arab (barangkali ia mengaji), keluar sekedarnya untuk makan dan tidur yang sebentar. Bahkan menurut keterangan akuntan pribadinya, belanja CSR mendominasi pengeluarannya beberapa tahun terakhir. Sangat kontras dengan beberapa tahun lalu, saat ia menjadi ilmuwan besar, yang mana belanja R&D mendominasi pengeluarannya.


***


Ada cerita kecil yang tidak banyak orang tahu, telah menyapa Tn. Vanko sekitar 5 tahun silam. Ya, sebelum ia jadi aneh dan introver, meminjam bahasa media-media yang menggunjingnya. Saat itu, kepongahan Vanko sebagai cendekiawan kelas kakap tengah memuncak. Dan ia seperti punya sebuah obsesi aneh, bahwa selama ia belum bisa mencabut dogma Tuhan di antara masyarakat, belum genap ia menyandang gelar sebagai seorang cendekiawan. Jika ia belum bisa mematahkan seluruh pandangan agamawan yang kolot, konservatif, bicara mati saja, maka belum pantas ia menepuk dada sebagai orang cerdas.


Maka ia berkelana ke seluruh dunia, untuk mendebat para agamawan, yang ia anggap sebagai pengedar candu kepada masyarakat, mirip ungkapan Karl Marx. Yang membuat masyarakat miskin tersenyum hangat, dan membuat orang-orang kaya ragu mendongakkan kepalanya, takut dianggap sombong, terus diazab. Konyol, pikir Tn. Vanko. Dan ternyata, tak kurang 500-an agamawan sudah berhasil ia jatuhkan dalam perdebatan.


“Istighfar, Vanko, Istighfar, kematian itu ada, akhirat itu ada, Vanko..”, sebuah kalimat penutup yang amat klise Tn. Vanko dengar saat lawannya kalah dalam silat lidah.


“Omong kosong!”, kata Tn. Vanko sambil melenggang pergi. Para agamawan yang hanya sanggup menahan luka keimanan, dan aliran do’a memohon ampun di biir mereka, ia anggap telah bertekuk kalah dalam kepecundangan.


Maka suatu hari ia mengunjungi Tn. Merovingian, saat secara kebetulan ia mampir ke kota ini, dalam tour simposium ilmiahnya di 30 kota. Maka ia bercerita tentang keberhasilannya menjatuhkan banyak agamawan di dunia, dan untuk sekaligus ‘berolahraga’, siapa tahu ada agamawan tengil yang Tn. Merovingian kenal di kota ini. Maka dibawalah ia kepada Pak Tua Jenkins. Tn. Merovingian pun merasa senang, karena punya kesempatan menelanjangi Pak Tua Jenkins.


Setibanya ia bertemu Pak Tua Jenkins, tanpa disangka-sangka Pak Tua Jenkins hanya merobek selembar kecil kertas, dan mencoret-coret kecil dengan pulpen yang selama ini tersarung di daun telinganya. Lalu mengulurkan secarik kertas itu kepada Tn. Vanko. Yang rupanya adalah gambar peta.


“Temui Kyai Gesang..”, kata Pak Tua Jenkins, amat singkat, saat itu. Lalu mengacuhkan Tn. Vanko yang melengos dan Tn. Merovingian yang mencecarnya.


***


Maka pergilah ia ke rumah Kyai Gesang yang ditunjukkan Pak Tua Jenkins melalui peta tadi. Kyai Gesang hanya seorang tua zuhud yang tinggal di sudut kota ini. Di rumahnya yang keterlaluan reyotnya. Jika kau bertanya apa pekerjaannya, maka jika mengimami sholat di surau kecil dan mengajar ngaji petang harinya termasuk dalam profesi menurutmu, maka itulah jawabanku.


Tiba di depan rumah Kyai Gesang, ia sekilas ragu apa ia akan membuang waktunya berdebat dengan kyai kampung macam ini. Dengan pengalaman bertemu dengan banyak orang yang ’kolot’, membuat ia agak malas kali ini. Namun apa lacur, sudah susah-susah ia cari rumah ini, apa boleh buat, setidaknya menghargai kakinya yang linu berjalan.


“Kyai Gesang! Hei, Kyai! Keluarlah!”, teriak Tn. Vanko sambil mengetuk pintu rumah itu dengan kasar.


Lalu keluarlah seorang tua itu. Kyai Gesang. Dengan baju koko putih yang sudah bredel bordirnya, dan sarung kotak-kotak hijau yang lawas, tapi terkesan bersih dan rapi. Lalu tersenyum sambil berkata sederhana kepada Tn. Vanko, “Apa universitas bagus di luar sana tidak mengajarkan ucapan salam kepadamu?”


Tn. Vanko sedikit tersentak mendengar jawaban Kyai Gesang. Namun demi menjaga wibawa keilmuannya, ia menjaga diri agar tetap terlihat angkuh. Lalu saat ia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, Kyai Gesang sudah mendahului ucapannya, “silakan, masuk. Kalau kau tidak keberatan dengan kemiskinan..”


Dan Tn. Vanko pun terlihat makin kikuk. Maka ia pun menurut masuk seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Sebuah ruang tamu yang sempit beralas tanah, tapi entah apa yang membuatnya tetap sejuk.


“Sebentar kubuatkan minum..”, kata Kyai Gesang.


“Tak perlu basa-basi, Kyai, aku tak punya banyak waktu”, kata Tn. Vanko. Kyai Gesang pun tersenyum sambil memungut tikar, dan menggelarnya untuk dapat berbincang bersama tamunya.


“Jadi, kau mau membunuh Tuhan, bukan?”, tanya Kyai Gesang. Tn. Vanko sedikit terhenyak, bagaimana orang tua ini dapat tahu maksud kedatangannya.


“Aku ingin tahu seberapa banyak pengetahuan yang kau punya”, kata Kyai Gesang. Mendengar ucapan itu, Tn. Vanko merasa harga dirinya diinjak-injak, diludahi, dilemparkan ke tempat sampah untuk dicabik tikus. Ia mulai panas. Dan terlihat makin mempongah-pongahkan dirinya di hadapan Kyai Gesang.


“Jadi, aku minta kau melakukan satu hal”, kata Kyai Gesang.


“Katakan..”, ujar Tn. Vanko. Masih dengan nada pongah.


“Aku ingin kau menuliskan seluruh pengetahuan yang kau miliki..”, kata Kyai Gesang. Tn. Vanko siap saja mengiyakan semua hal yang diminta Kyai Gesang demi mengembalikan kehormatannya yang diinjak-injak itu.


“Tidak sekarang, tapi kau harus memastikan untuk menulisnya sedetail mungkin”, kata Kyai Gesang.


“Baiklah, lalu kapan aku harus kembali kepadamu orang tua?”, kata Tn. Vanko menyetujui permintaan Kyai Gesang.


“Kembalilah kemari kapanpun, saat kau telah selesai melakukannya. Jika Allah menghendaki Ia akan menurunkan hujjah-Nya..”, kata Kyai Gesang. Dan Tn. Vanko bergegas pergi dengan angkuh. Sambil terbatuk, mata Kyai Gesang menghantarkan kepergian tamunya itu, sampai ia menghilang dari pandangan.


***


Di suatu thulu’ yang masih terasa gigil, di antara kriyep-kriyep cuitan burung gereja, pintu kayu reyot di depan rumah Kyai Gesang yang bobrok diketuk dengan keras oleh seseorang. Ya, dia Tn. Vanko. Sudah 3 tahun sejak hari itu. Ia telah menggenapi janjinya, menuliskan seluruh pengetahuan yang dimilikinya, dan kini hendak mengadu hujjah dengan Kyai Gesang. Lalu keluarlah seorang anak remaja yang masih sangat muda.


Namanya Hussain, cucu Kyai Gesang yang sejak kecil hidup dengan Kyai Gesang. Remaja awal, usianya kurang lebih 12-14 tahun. Namun matanya sudah terlihat tegas, kesusahan hidup sudah menempa jiwa kanak-kanaknya. Orang tuanya telah wafat, dan Insya Allah syahid. Ayahnya wafat saat berangkat bekerja di suatu pagi, saat istrinya tengah mengandung Hussain. Dan ibunya, wafat saat melahirkan Hussain.


“Apakah kau Tn. Vanko?”, ia bertanya kepada Tn. Vanko.


“Aku ingin mencari Kyai Gesang, ke mana dia?”, kata Tn. Vanko.


“Kyai sudah meninggal, awal tahun ini. Tapi ia mewasiatkan sebuah kertas berisi beberapa baris tulisan, yang slah satunya menyebutkan bahwa nanti akan ada seseorang yang mengetuk pintu rumah reyot ini dengan keras. Maka dia adalah Tn. Vanko”, kata Hussain. Tn. Vanko terhenyak. Sia-sia ia pikir selama ini memenuhi permintaan Kyai Gesang, menulis seluruh pengetahuannya itu.


“Lalu kau siapa?”, tanya Tn. Vanko.


“Namaku Hussain. Aku cucu Tn. Vanko. Aku tinggal sendirian di sini semenjak Kyai mangkat..”, kata Hussain.


“Ohh,..”, kata Tn. Vanko. Melengos. Tak ada harapan lagi, ya sudah, pikir Tn. Vanko.


“Apa kau sudah menuliskan seluruh pengetahuanmu?”, Tn. Vanko sudah beranjak pergi saat tiba-tiba Hussain, sambil melirik ke secarik kertas kumal yang dipegangnya sedari tadi, bertanya kepada Tn. Vanko. Tn. Vanko tercengang.


“Di sini tertulis, ‘katakan padanya, jangan pergi dulu, ujianmu belum selesai’, begitu..”, kata Hussain. Tn. Vanko segera mengambil ancang-ancang hendak merebut kertas itu dari genggaman Hussain.


“Tunggu! Di sini tertulis, ‘jangan dulu kau berikan kertas ini sebelum kau selesai membacakannya pada pria itu’. Jadi maaf”, kata Hussain. Tn. Vanko menyerah. Diam-diam ia agak takjub pada kyai.


“Baiklah lanjutkan. Lalu apa lagi yang tertulis di kertas itu?”, tanya Tn. Vanko.


“Berikutnya, ‘minta ia tunjukkan rangkuman pengetahuan yang sudah dibuatnya’. Apa kau membawanya?”, kata Hussain membacakan perintah di kertas itu.


“Aku tidak membawa semuanya. Terlalu berat, kau tahu. Aku sampai membangun sebuah perpustakaan khusus untuk menyimpan rangkuman itu. Aku hanya mambawa 5 bukuan”, kata Tn. Vanko sambil mengeluarkan rangkuman yang dibawanya. Hussain hanya manggut-manggut lugu melihat kertas-kertas tebal itu. Canggih betul orang ini, pikirnya.


“Oh.. Lalu begini, ‘tanyakan padanya berapa banyak tinta yang ia butuhkan untuk membuat rangkuman itu, selama ini’. Jadi berapa?”, kata Hussain.


“Hah? Yang benar saja, mana pernah aku menghitungnya? Yang pasti amat banyak, nak”, kata Tn. Vanko.


“Di sini lalu tertulis, ‘katakan padanya, haha, berapa jumlah tinta untuk menulis pengetahuannya saja ia tak tahu, mau adu pintar melawan Tuhan..’, ehehe”, Hussain membaca itu sambil menahan sedikit tawanya. Tn. Vanko agak kesal, kurang ajar betul Kyai ini, ia benar berharap Kyai masih hidup agar ia bisa menjitak kepala tuanya itu.


“Ada lanjutannya, ‘sekarang bacakan padanya Q.S. Luqman ayat 27’. Apa kau membawa mushaf, Tn. Vanko?”, kata Hussain.


“Kau gila? Apa gunanya aku membawa kitab bodoh itu?”, hardik Tn. Vanko. Hussain lalu berlari masuk ke dalam rumah dan mengambil mushaf.


“..Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana..”, Hussain membaca ayat yang dirujuk oleh Kyai Gesang itu.


“Hahh! Tuhan! Tuhan! Auwloh! Cih! Aku tidak percaya pada Tuhan! Ayo, sekarang kau mau bilang apa! Ha? Aku bilang buku itu Cuma tipuan-tipuan! Tsah!”, kata Tn. Vanko seperti orang gila yang kehilangan wibawa ilmiahnya.


“Selanjutnya, ‘aku tahu, ia tidak akan percaya pada Tuhan. Maka katakan, bahwa ilmunya ternyata tidak seberapa, ilmunya belum mampu menjangkau Tuhan,bahkan sekedar wujud dan keberadaannya saja. Ilmunya tidak ada apa-apanya.. ’ tanggapanmu?”, kata Hussain.


“Sudah kubilang! Aku tidak percaya Tuhan! Ah, mana bisa aku yang tidak percaya Tuhan ini mesti mengetahui wujud Tuhan! Di mana logika Kyai?”, kata Tn. Vanko.


“Ada tulisan lagi, ‘maka jika ia sekedar berkata, bahwa ia tak percaya Tuhan ada sehingga ia tak layak menyebutkan pegetahuan mengenai keberadaan Tuhan, maka katakan, sesungguhnya tak ada bedanya ia dengan anak TK yang mengatakan bahwa pesawat terbang itu tidak ada, hanya karena rumahnya jauh dari landasan pesawat terbang. Tolong katakan, kita tidak punya banyak waktu berdebat kusir dengan orang yang terpelintir oleh logikanya sendiri. Kita tak punya waktu untuk berdebat dengan orang yang lebih primitif dari Nabiyullah Ibrahim ’. Emm..”, kata Hussain. Tn. Vanko tersulut emosinya. Ia hampir saja merebut kertas yang dipegang Hussain dan merobek-robeknya, tatkala kemudian Hussain meneruskan kalimat dalam kertas itu..


“Sekedar menguasai sebutir debu di padang pasir, itulah amsal jika kau telah menguasai dunia”, kata Hussain. Tn. Vanko terhenyak.


“..Sama sekali tak akan membuatmu terpandang di hadapan Tuhan, Sang Pemilik padang pasir. Apalagi jika sekedar menjadi hartawan atau populer, sebutir debu pun bukan milikmu. Meski barangkali kau dipuja oleh mikroba-mikroba..”, Hussain melanjutkan.


“.. Tapi apa dayamu saat pepasir dihamburkan ke arahmu? Di saat kiamat. Pikirkan itu..”, kata Hussain, membaca tulisan di kertas itu lagi. Tn. Vanko membenamkan wajah cendekianya itu dalam ketundukan diam.


“Oh, tunggu tuan, masih ada sebaris kalimat lagi tertulis di sini”, Hussain berseru. Tn. Vanko mendongakkan kepalanya.


“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. (Q.S. Faathir: 10)”, kata Hussain. Tn. Vanko tidak bisa menyembunyikan air matanya.

0 Chirping sounds:

Posting Komentar