Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Senin, 02 Mei 2011

Mengapa Mengidolakan Muhammad?

Senin, 02 Mei 2011 00.37 No comments


An idol can be defined as an image or other material object representing a deity to which religious worship is addressed or any person or thing regarded with blind admiration, adoration, or devotion..” (Wikipedia)

Kutipan di atas adalah definisi dari idol menurut wikipedia. Idol, idola, menurut pengertian harfiah asalnya memang berarti berhala sembahan masyarakat pagan. Namun sekarang, idola lebih ditujukan untuk menyebut sosok seorang manusia yan dikagumi, atau bahkan secara ekstrem bisa dipuja dengan cara yang melebihi kaum-kaum pagan dalam memuja berhala.

Bicara tentang idola, tentu saja dalam pengertian yang diterima secara umum saat ini, mengingatkan saya pada masa muda saya di SMA (melihat tampang saya yang tampak tidak berpendidikan, jangan kira saya tidak pernah sekolah, ya). Dulu, entah dengan cara apa, saya seperti diwajibkan untuk menyebut sebuah nama, Muhammad SAW, jika suatu waktu saya ditanya mengenai siapa idola say...a. Bukan, itu bukan sebuah doktrinasi paksaan dari pihak tertentu. Saya lupa persisnya seperti apa, namun setidaknya dengan itu, pikiran jahiliyah saya menyebutkan bahwa dengan itu saya terlihat lebih ‘saleh dan berprinsip’, lolos lah kalau sekedar QC untuk jadi calon suami idaman.



Oh, saya sedikit ingat, barangkali saat itu saya terpengaruh cerita bapak saya mengenai polling yang pernah diadakan oleh Arswendo hingga membuatnya mesti meringkuk dalam hotel prodeo, mengenai idola masyarakat Indonesia. Dan mirisnya, tersebutlah nama Rasulullah, meski nama beliau berada di urutan belakang. Maka secara kompulsif, nama Rasulullah seperti menjadi sebuah jawaban wajib bagi saya saat ditanya mengenai siapa idola saya. Setidaknya saya berusaha menunjukkan penghormatan saya sebagai pemeluk Islam kepada Rasulullah.

Yah itu pikiran jahiliyah saya dulu. Ber-muqallid tanpa saya tahu kenapa saya harus mengidolakan beliau di luar status Nubuwah beliau. Maka tidak usah heran kalau dulu saya selalu ‘ah-eh’ setiap ditanya terkait siapa idola saya. Sekalipun saya sudah memegang kartu as, jawaban atas pertanyaan itu, namun saya selalu was-was jika si penanya akan mengajuka pertanyaan yang lebih jauh lagi. Karena jujur, saya tidak tahu apa hal istimewa dari beliau yang menancap dalam hati saya hingga saya mesti mengidolakan beliau. Namun bagaimana sekarang? Kita simak ya..

Dakwah Rasulullah itu, adalah sebuah perjalanan hidup yang teramat panjang. Terhitung sekitar 23 tahun, sejak pertama kali beliau menerima wahyu di Gua Hira’ dalam peristiwa nuzulul Qur’an, hingga wafatnya beliau di Madinah dalam usia 63 tahun. Berbicara masalah waktu, saat ini, saya sudah cukup renta (sudah banyak yang memanggil ‘om’ dan ‘pak’), sudah sekitar 19 tahun saya hidup di dunia ini. Dan itu adalah waktu yang teramat lama. Semua setuju, semua bisa merasakannya. Sejak kita masih mengalami evolusi merangkak jadi berjalan, bermain kelereng dan setan-setanan waktu kanak, mulai belajar humor-humor jorok waktu beranjak remaja, hingga hal-hal aneh dan beragam transformasi pemikiran khas remaja akhir setelahnya.

Diam-diam saya membayangkan, bagaimana jadinya apabila dalam waktu selama itu, apalagi dengan tambahan waktu 4 tahun (seperti lamanya waktu pendidikan normal strata 1), saya hidup dalam pengusiran dan peperangan. Subhanallah, mari bayangkan ya, 23 tahun. Misi khatamun nubuwah yang diemban Rasulullah bukan tugas yang 7-8 tahun lantas tuntas. Betapa setia ya Kanjeng Nabi itu pada Allah, jika kita menilik banyaknya perceraian yang dialami pasutri usia 5-10 tahun pernikahan. Betapa sabarnya ya, Kanjeng Nabi itu, jika kita menilik betapa beratnya 8-10 tahun masa kuliah bagi mahasiswa perpanjangan. Inilah poin pertama kekaguman saya terhadap beliau. Entah apakah saya sanggup berada di medan perang selama 23 Tahun. Subhanallah!

Berikutnya, ini adalah salah satu kisah yang mewarnai lembaran riwayat dakwah kenabian beliau. Ini tentang dakwah Rasulullah di Tha’if, yang memang memiliki samudera hikmah yang seolah tak pernah surut. Saya sudah pernah mengutipnya, kali ini saya kutip lagi tidak masalah barangkali. Hikmah memang perlu disampaikan berulang-ulang, begitu barangkali kaidah simpulan dalam hikmah Al Qur’an. Jadi, beliau menetap di Tha’if selama 10 hari, usai seruan dakwahnya ditolak oleh ketiga orang pemimpin Bani Tsaqif, lalu khalayak berkata kepada beliau, “Usir orang ini dari negeri kita dan kerahkan semua rakyat untuk memperdayainya.”

Tidak berhenti sampai di situ, tatkala Rasulullah hendak pergi, orang-orang yang jahat di antara mereka serta para hamba sahayanya membuntuti sambil berteriak mencaci maki beliau. Maka semua orang pun mengerumuni beliau, membentuk dua barisan, dan melempar batu ke arah beliau, diselingi kata-kata cercaan, hingga mengenai urat di atas tumit beliau. Hingga bahkan, terompah yang beliau kenakan pada saat itu, basah oleh lelehan darah. Shalallahu ‘ala Muhammad.

Rasulullah wajar jika marah, Rasulullah pantas mendo’akan azab bagi mereka sebagaimana Rasul-Rasul terdahulu. Maka ‘langit’ seolah memahami hal ini. Maka ketika beliau telah berjalan hingga Qarnuts Tsa’aib, beliau mendengar Jibril menyeru seperti ini, “Sesungguhnya Allah sudah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan apa yang mereka lakukan terhadap dirimu. Allah telah mengutus seorang malaikat penjaga gunung. Agar engkau menyuruhnya berbuat apa yang engkau kehendaki.” Lantas malaikat penjaga gunug itu mengucapkan salam dan berkata kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad, itu sudah terjadi, dan apa yang engkau kehendaki? Jika engkau menghendaki untuk meratakan Akhsyabaini, tentu aku akan melakukannya.”

Apa jawaban Kanjeng Nabi waktu itu? Shalallahu ‘alaa Muhammad, begini jawaban beliau, “Bahkan aku berharap kepada Allah Dia mengeluarkan dari kalangan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” Jadi bagaimana? Inilah salah satu hal yang benar-benar mengagumkan dari beliau. Kesabaran. Tidak membiarkan emosi mengambil kendali, sekalipun terjun ke medan dakwah yang merajam kesabaran.

Karena memang benar ya, seperti dahulu pernah saya bilang juga, sejatinya dakwah, ia dimulai dari teririsnya kalbu, menyaksikan kemungkaran menjadi angin lalu dan doktrin sikap yang turun temurun. Dakwah dimulai dari penolakan batin menyaksikan kebenaran terpinggirkan dan hanya bisa mengangguk pasrah di bawah singgasana kejahiliyahan. Maka jika dakwah dimulai dari kepedulian semacam itu, sudah sepatutnya ia dilakukan dengan penuh kesungguhan, dengan totalitas, dan satu hal lagi, kesabaran yang cukup mumpuni untuk dapat bersikap dengan kepala dingin di segala kesempatan.

Hal ini mutlak, karena medan dakwah yang dipenuhi kejahiliyahan, memang kerap kali mengoyak kalbu dan mudah saja memantik emosi dari sang juru dakwah. Dengan mudahnya ‘konstituen’ dakwah meremehkan hukum-hukum Tuhan, mengesampingkannya dalam pigura sekulerisme, dan menyesatkan masyarakat dengan retorika-retorika manis nasionalisme. Masya Allah, manakala sang juru dakwah terpancing emosinya oleh hal-hal kecil, maka masih akankah ia menggengam kepercayaan dari masyarakat? Hal ini sudah pernah, dialami oleh Rasulullah Musa, yang keluar dari Mesir setelah ia membunuh seorang kaki tangan Fir’aun.

Nah, itu tadi yang kedua. Berikutnya begini. Ada pernyataan menarik yang pernah diceritakan Ustadz Saman, dosen Ushul Fiqh, bahwa, “kalau jaman dahulu orang dimurkai Allah karena isbal (memanjangkan celana melebihi mata kaki) dan menyombongkan diri dengannya, maka sekarang yang dimurkai Allah justru orang-orang yang tidak isbal.” Apa artinya? Jadi ini fenomena ya, introspeksi saja, betapa sekarang ada penyakit yang menjangkiti sebagian besar abid ahli ibadah, atau jajaran ‘ikhwah’ para aktivis penegak dakwah, bahwa mereka , memiliki kecenderungan untuk memandang hina, memicingkan mata pada masyarakat yang banyak dosa, yang hidupnya kering dari agama. Ada kesombongan dalam diri para ‘alim’.

Saya teringat kisah Kanjeng Nabi. Kisah ini sudah sangat umum dikisahkan, tapi tak apalah. Bahwa dulu, semasa hidupnya Rasulullah biasa menyuapi seorang nenek beragama Yahudi yang mengalami tunanetra setiap paginya. Itu saja? Spesialnya, sang nenek ini selalu mencaci maki Rasulullah SAW. Padahal, bisa saja jika Rasulullah ingin memenggal kepala nenek itu, sebagaimana nasib Ka’b bin Al Asyraf, sang penyair Bani Quraizhah yang tewas di tangan para sahabat karena syair-syairnya yang menebarkan permusuhan.

Hingga pada akhirnya, setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar hendak meneruskan kebiasaan Kanjeng Nabi ini. Namun sang nenek bisa merasakan bahwa yang menyuapinya kali ini adalah orang yang berbeda. Manakala ia menanyakan siapakah orang yang biasanya menyuapinya, dan ke manakah gerangan ia sekarang, Subhanallah betapa terkejut sang nenek manakala ia mengetahui bahwa yang biasa menyuapinya adalah Rasulullah, seseorang yang selama ini dicaci makinya, dan sekarang telah wafat. Maka sang nenekpun, masuk islam..

Sudah, begitulah kisahnya. Apa yang begitu penting hinga kisah ini menjadi kisah yang mengena di hati saya? Padahal wajar saja jika beliau berhati mulia, ia seorang nabi, maka ma’shum-lah tabi’atnya. Namun, saya melihat satu fiqhud da’wah yang begitu luhur di sini. Yaitu terkait kelembutan hati bagi seorang mengaku dirinya sedang menyeru pada kebenaran. Kelembutan hati untuk tidak gemar mencibir kemungkarang dengan pongah. Sehingga seorang juru dakwah masih dapat berlaku lembut di hadapan ahli maksiat nomor wahid sekalipun. Mengapa hal ini begitu penting? Karena apa lagi yang bisa menyentuh hati seseorang yang telah tertutup dan buta dari ayat-ayat Tuhan jika bukan akhlaq dan kebaikan perilaku? Mengapa ini penting?

Karena jika tidak, maka coba bayangkan jika dalam sebuah pilpres, ada dua orang calon presiden, yang satu seorang ghairu islam namun berkarakter ‘membumi’, dengan seorang muslim dengan karakter pengutuk, maka siapakah yang akan menang dan menegakkan ideologinya di dalam negara tersebut? Subhanallah ya, memang julukan uswatun hasanah itu bukan julukan yang main-main bagi seorang rasul.

Berikutnya ya, alasan selanjutnya, ada sebuah ayat dalam surah Asy Syuu’araa’ yang banyak diulang sepanjang surah, hampir setiap kali menceritakan mengenai seorang Rasul terdahulu. Inni lakum Rasuulun ‘amiin, sesungguhnya aku adalah Rasul kepercayaan yang diutus kepadamu, begitu bunyi ayatnya. Jadi memang, guru agama kita tidak berbohong, jika dahulu beliau-beliau menyebutkan salah satu karakteristik seorang Rasul adalah amanah. Termasuk Rasulullah, jelas, beliau seperti kita ketahui bersama, memperoleh julukan al amiin, sang terpercaya, di masyarakat Quraisy.

Menariknya ya, dalam Sirah Nabawiyah, sempat diceritakan dialog yang terjadi antara Kaisar Herakhlius sang Raja Romawi yang Nasrani dengan Abu Sufyan yang saat itu masih kafir dan memusuhi dakwah Rasulullah, ketika Kaisar baru saja menerima surat ajakan berislam dari Rasulullah yang dibawakan oleh Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi. Ada kutipan dialog yang begitu menarik, pada ketika itu Kaisar Herakhlius menanyakan hal ini kepada Abu Sufyan, “Apakah kalian menuduhnya berbohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya (islam)?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.” Kaisar Herakhlius bertanya lagi, “Apakah dia pernah berkhianat?” Jawab Abu Sufyan, “Tidak.”

Begitu kemudian percakapan berlanjut, hingga di akhir pertanyaan Kaisar Herakhlius menjelaskan maksud pertanyaan-pertanyaannya tadi. Terkait dengan 2 pertanyaan yang saya kutip di atas, Kaisar Herakhlius berkata, “Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah kalian menuduhnya berbohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya (islam)? Engkau jawab tidak. Memang aku tahu tidak mungkin dia berdusta terhadap manusia dan Allah. Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah dia pernah berkhianat? Engkau katakan, tidak pernah. Memang begitulah para rasul yang tidak pernah berkhianat.” Subhanallah ya, bahkan musuh dakwah beliau masih mengatakan bahwa beliau adalah seorang yang dapat dipercaya.

Apa pentingnya? Di sinilah terletak sebuah kesimpulan, sebuah ibroh, bahwa kepercayaan memang merupakan syarat yang hampir mutlak mesti dimiliki oleh seorang yang ingin menyerukan islam. Maka sebaiknya seorang penyeru harus dapat dipercaya. Karena tidak mungkin, seorang yang hendak menyerukan islam, justru setiap hari mabuk-mabukan di pos kamling tiap malamnya sambil cubit-cubit genit perempuan yang bukan mahram di pos kamling. Dan apakah menjadi seseorang yang dapat dipercaya itu gampang? Siapa bilang? Semua sudah mahfum betapa sulitnya hal itu, ya kan? Shalallahu ‘alaa Muhammad, Allah bukan serampangan asal tuding sambil menutup mata dalam memilih seseorang untuk menjadi Rasul (titik dua kurung tutup).

Kemudian, ini terakhir ya, pamungkasnya. Jadi begini, pada waktu saya membuka wikipedia untuk mencari tentang Hadits, wikipedia mengutip definisi hadits menurut Encyclopedia of Islam yang saya yakin juga diterima masyarakat secara umum. Bahwasannya Hadits disinonimkan dengan Sunnah, yang bermakna segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum. Jadi begitu. Lalu kenapa?

Saya cuma bisa terkagum-kagum pada Rasulullah. Saya membayangkan, jika Hadits itu adalah segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Reza Darmawan yang dijadikan ketetapan ataupun hukum, maka apa jadinya? Saya hanya membayangkan kutipan hadits qauli (perkataan) yang isinya ‘nich orang nyebelind beud cii, gemez dech, pengen quw santet.’ Pertama jelas, santet itu musyrik dan tidak mungkin dicontohkan oleh seorang nabi. Yang kedua, bagaimana orang muslim tidak jadi alay nantinya, hingga hal tidak penting semacam itu mesti diungkapkan? Atau jika hadits fi’liy (perbuatan) yang isinya menceritakan ketika saya nimbrung bareng penghuni kosan yang sedang bercanda jorok waktu nonton sinetron muda-mudi. Masya Allah, ya apa jadinya? Maka sekali lagi, Rasulullah itu luar biasa ya. Bahkan di saat-saat paling down pun, barangkali, kalaupun pernah, beliau masih harus menjadi suri tauladan, Uswatun hasanah. Bukan main-main..

Allahuakbar. Jadi jika sekarang kau bertanya, siapa idolaku? Maka tanpa perlu ‘ah-eh’ ragu-ragu lagi, aku akan menyebutkan nama satu orang,..

Sang khatamun nabi yang ummi, Rasulullah Muhammad SAW!

0 Chirping sounds:

Posting Komentar