Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 22 April 2011

Tanda Tanya bagi Pluralisme

Jumat, 22 April 2011 10.47 No comments


“Rainbows are vision, but only illusion..” (Jason Mraz-Rainbow Connection)

***

April 2011 menjadi bulan yang tidak biasa bagi Hanung Bramantyo. Di bulan inilah, film besutannya yang berjudul “?” (Tanda Tanya), diputar secara perdana di gedung-gedung bioskop di berbagai penjuru negeri. Boleh jadi, ini adalah film dengan judul paling irit sepanjang sejarah perfilman negeri ini, hanya 1 karakter. Namun, dengan judul sesingkat itu, ia mampu menimbulkan kontroversi di berbagai pihak. Bagaimana tidak, mengusung tema pluralisme dalam filmnya, sementara di sisi lain, ada fatwa MUI yang mengharamkan pandangan Sepilis (Sekuleris, Pluralis, Liberalis) bagi umat islam. Maka cukup banyak media-media muslim yang mengkr...itik pluralisme yang didapuk Hanung sebagai tema dalam filmnya ini. Sebutlah beberapa situs ternama seperti Eramuslim.com yang memuat artikel berjudul ‘Film "?" (Tanda Tanya); Pelecehan Sistematis Terhadap Islam’ (14/04/2011) dan Hidayatullah.com dengan artikel berjudul ‘Film "?", Yang Jadi Tanda Tanya!’ (13/04/2011).

Di sisi lain, tema pluralisme yang coba diusung Hanung dalam filmnya kali ini, benar-benar meraih momentumnya, di mana dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, isu-isu keagamaan menjadi sangat sensitif di negeri ini. Sebut saja perampokan yang disinyalir digunakan sebagai pendanaan aksi terorisme, peristiwa Cikeusik, atau yang terbaru peristiwa bom buku yang menyerang beberapa tokoh pengusung paham Sepilis, dan pembakaran beberapa masjid di Sumatera Utara, yang agak memanaskan ketegangan antar pemeluk agama yang berbeda.

Dengan membanjirnya konflik ini, maka tema pliuralisme yang diusung Hanung dalam film kali ini, seakan begitu ‘memihak’ sebagian besar masyarakat yang merasa miris menyaksikan kesan bahwa agama memang ditakdirkan untuk berkonflik satu sama lain. Maka, setiap lisan mulai tergerak untuk mengamini pandangan pluralis ini. Terlebih lagi, dengan tulisan ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang tertoreh di pita putih yang dicengkeram oleh Garuda berbulu sayap 17, tergeraklah organisasi-organisasi berhaluan nasionalis, untuk mengecam konflik-konflik ini, dan semakin menggaungkan pluralisme di masyarakat. Pungut saja satu contoh, kecaman ketua FKUB (Forum Kerukunan antar Umat Beragama) Banten atas aksi pembantaian warga Ahmadiyah di Cikeusik pada Februari 2011 lalu.

***

Kali ini, kita tidak akan membahas isi film itu lebih jauh. Setidaknya, sekarang kita tahu bahwa pandangan pluralisme yang diusung dengan kemasan harmoni nasional, dan sarat akan toleransi dalam menanggapi perbedaan aqidah di antara umat beragama inipun jelas semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Namun, terlepas dari semua itu, ada sesuatu yang perlu kita kaji secara lebih mendalam tentang pandangan pluralisme ini. Yaitu, terkait apakah secara keseluruhan, pluralisme memang sudah cukup terwakili sebagai toleransi antar umat beragama saja, atau malah sebenarnya pluralisme mengandung konsep-konsep lain yang jauh lebih mendalam dari sekedar toleransi? Karena secara analogi, kita tentu tidak bisa menyebut seseorang bernama ‘Ica’ adalah seorang perempuan hanya dengan melihat foto profilnya di Facebook. Kita perlu melihat paham pluralisme secara keseluruhan. Serta, terlepas dari sudut pandang keagamaan yang memang sudah secara tegas mengambil sikapnya –seperti fatwa haram MUI atas Sepilis–, kita akan mencoba mengkaji rasionalitas dari konsep-konsep pluralisme tersebut. Kita akan mengkaji definisi-definisi pluralisme secara istilah. Karena secara umum, definisi tersebut memang sudah menjelaskan ide-ide apa saja yang terkandung dalam pandangan pluralisme.

Secara umum, saya mengutipnya dari Wikipedia, ada empat macam pendefinisian pluralisme secara istilah yang lazim ditemui di masyarakat. Yang pertama, pluralisme sebagai pandangan dunia yang menyatakan bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar.

Cara pandang seperti ini, banyak muncul pada seseorang yang tengah mempertanyakan agamanya, sebelum biasanya, ia memasuki tahap agnostisisme, lalu mengalami konversi (pindah) agama. Namun, pandangan seseorang akan suatu kebenaran, bisa sangat berlainan, dan terkadang bersifat emosional. Seperti misalnya, seorang perampok dapat dilihat sebagai pahlawan oleh anaknya yang menangis kelaparan. Maka tanpa adanya akal sehat seseorang, dan epistemologi yang mapan akan agamanya, cara pandang ini dapat begitu dekonstruktif bagi keyakinan agama pribadinya. Maka sekarang kita tahu, mengapa para islamis liberal, memandang murtadnya seseorang dari islam, sebagai perbuatan yang, sebatas, dibenci Tuhan, namun tidak mereka haramkan. maka menjadi jelas, bahwa dalam dosis yang terlalu tinggi, pandangan ini dapat memberikan penghargaan yang begitu rendah bagi kesakralan agama.

Definisi kedua menyatakan pluralisme sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama. Nah, ada beberapa hal yang dapat kita tangkap dari definisi ini. Yaitu, bahwa berdasar pada definisi ini, maka seluruh klaim kebenaran adalah sahih. Sehingga, kebenaran dipandang relatif dalam ajaran pluralisme, menurut definisi ini. Karena secara gamblang ia menyatakan bahwa setiap klaim kebenaran dari setiap agama, statusnya sama-sama sahih. Inkonsistensi inilah yang menyebabkan kedudukan kebenaran agama dalam pluralisme bersifat relatif.

Hanya itu? Tentu tidak. Lebih jauh, kalimat ini juga mengandung konsekuensi bahwa kebenaran bahkan bisa saja tidak ada, yang secara otomatis menyatakan bahwa Tuhan itu juga tidak ada. Ini dapat dipahami, manakala konsep Tuhan begitu abstrak, maka keberadaannya pun mulai diragukan. Seorang manusia bisa mulai beranggapan bahwa Tuhan hanyalah konsepsi sekedarnya, hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Kutiplah pernyataan filsuf Rene Descartes yang mengindikasikan cara pandang ini, “cogitoergo sum”, aku berpikir, maka aku ada. Karena jelas, di setiap agama Tuhan berada dalam posisi sebagai Kebenaran Tertinggi. Logisnya, Tuhan tidak mungkin salah, tidak mungkin kita mengakui Tuhan, pada sesuatu yang masih bisa membuat salah. Kebenaran Tuhan tidak dapat disangkal. Maka, jika kebenaran Tuhan saja dapat disangkal, melalui pandangan kaum pluralis bahwa kebenaran bersifat relatif, apalagi keberadaan Tuhan?

Maka perlu disadari, konsekuensi dari beragama adalah meyakini bahwa kebenaran sifatnya tunggal. Tidak ada kebenaran lain di samping kebenaran yang hakiki. Apa iya? Tentu. Terkait hal-hal yang prinsip dan tidak dapat dikompromikan, terutama mengenai pendefinisian Tuhan, kita jelas tidak bisa mengatakan sesuatu hal itu salah dan benar di saat yang bersamaan.

Agar lebih jelas, tanpa bermaksud menyinggung dan menyudutkan satu agama, mari kita mengambil ajaran agama Kristen sebagai contoh. Dengan dalil yang pasti dalam agama mereka, umat kristen secara tegas menyatakan bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui keyakinan bahwa Yesus telah mati di tiang salib untuk menebus dosa mereka. Keyakinan ini tentu mengandung konsekuensi bahwa umat agama islam yang tidak meyakini penebusan dosa, tentu tidak dapat memperoleh keselamatan menurut kristen.

Kalau toh, argumen ini dapat dibantah bahwa, oh, sekalipun tidak selamat menurut ajaran kristen, umat islam bisa selamat menurut ajaran islam. Apa bisa begitu? Kalau begitu bukankah kita baru saja melihat betapa tidak adilnya Tuhan? Sementara sebagai seorang yang beragama, kita menempatkan posisi Tuhan sebagai Yang Maha Adil. Tanda tanya bagi pluralisme..

Yang ketiga, terkadang pluralisme juga digunakan sebagai sinonim untuk ekumenisme, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai denominasi dalam satu agama. Nah, sebelum beranjak lebih jauh, ada baiknya kita berbicara mengenai kata kunci dalam definisi ini yaitu ekumenisme. Ekumenisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah, dan meneih yang berarti tinggal, yang berarti dunia yang ditinggali atau didiami. Secara terbatas, definisi ekumenisme sudah dijelaskan di atas.secara lebih luas, ekumenisme memiliki arti inisiatif keagamaan, menuju keesaan di seluruh dunia.

Contoh dari praktek ekumenisme adalah, kita ambil contoh dalam dunia kekristenan, yang sebagaimana kita ketahui memiliki tiga kelompok gereja terbesar yaitu, Katholik Roma, Ortodoks Timur, dan Protestan. Ekumenisme yang dicetuskan pada awal abad ke-20, mencoba melakukan pendekatan untuk mempersatukan tiga skiasma tersebut, dengan membentuk Dewan Gereja-Gereja Sedunia. Itu jika kita menilik penerapan ekumenisme bagi denominasi dalam sebuah agama. Maka dalam konteks yang lebih luas, yaitu ekumenisme atas agama-agama, maka kita jadi tahu arah pembicaraan kita akan menuju pada pendekatan untuk membentuk sebuah agama global.

Maka, setelah penjelasan tersebut, kita melihat konsep pluralisme adalah sebuah konsep yang plin-plan. Bagaimana bisa? Jelas, di poin yang lain, pluralisme menjamin kelestarian perbedaan-perbedaan yang timbul. Namun, di sini kita melihat bahwa pluralisme adalah sebentuk peralihan, untuk menyatukan seluruh agama di bawah payung satu agama global. Lebih jauh, kita melihat bahwa konsep agama global dalam pluralisme mengingatkan kita pada sebuah slogan theosofi purba, “there is no higher religion than truth”. Agama kebenaran, menurut pluralis. Ironisnya, kita telah mendapati bahwa konsep kebenaran dalam pluralisme sendiri masih belum jelas. Satu lagi tanda tanya bagi pluralisme..

Dan yang terakhir, pluralisme sebagai sinonim untuk toleransi agama, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun denominasi yang berbeda-beda. Di antara keempat definisi, agaknya definisi terakhir inilah yang paling bisa diterima secara rasional.

Dalam sudut pandang islam, mari kita menilik kisah Rasulullah SAW yang termaktub dalam kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Shafiyurrahman Al Mubarakfury. Kita mendapati konsep toleransi yang dibangun Rasulullah SAW. Ada satu bab dalam kitab tersebut yang menceritakan mengenai perjanjian yang diikat oleh Rasulullah SAW, saat membentuk pemerintahan islam di Madinah, dengan kaum Yahudi yang juga tinggal di tempat tersebut. Di antaranya, tidak saling berbuat jahat pada pihak yang terikat oleh perjanjian tersebut. Sekalipun ternyata, dalam perjalanannya, perjanjian itu banyak dilanggar oleh kaum Yahudi, di antaranya melalui provokasi Ka’b bin Al Asyraf yang akhirnya menyebabkan ia terbunuh, serta rencana pemberontakan yang juga dilakukan Yahudi Bani Quraizhah pada perang Khandaq. Hingga akhirnya membuahkan keputusan yang cukup tegas dari pihak muslim bahwa kaum Yahudi harus diperangi, dan puncaknya, dieksekusi mati secara massal setelah perang Khandaq. Wajar, karena pengkhianatan tersebut tentu akan membawa dampak yang lebih besar di masa depan.

Dan toleransi, tidak pernah berimplikasi pada pengakuan kebenaran. Hanya pengakuan akan eksistensi semata. Masih dalam kitab Sirah, secara tegas pula hal ini dicontohkan Rasulullah SAW, melalui sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, bahwa ketika Rasulullah tengah thawaf di Ka’bah, beliau berpapasan dengan Al Aswad bin Al Muthalib dan Al Ash bin Wa’il As Sahmi, yang merupakan tetua dari kaumnya. Mereka berkata yang intinya seperti ini, mereka bersedia menyembah apa yang disembah Rasulullah, namun Rasulullah juga harus menyembah apa yang mereka sembah. Rasulullah pun menolaknya. Dan kisah ini, menjadi asbabun nuzul Q.S. Al Kafiruun, surah yang banyak disitir sebagai dalil untuk toleransi antar umat beragama. Itulah toleransi, sekalipun lunak, ia tetap tegas. Yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah, titik.

Nah, setelah kita melihat multidefinisi atas pluralisme ini, akan timbul pertanyaan, apakah cukup bahwa kita menerima definisi bahwa pluralisme adalah toleransi saja, dan menutup mata terhadap istilah-istilah lain dari pluralisme? Mari membuka cakrawala pikir kita, dari belenggu penyederhanaan atas beragam hal. Multidefinisi ini, jelas tidak akan memberikan kepastian kepada kita, apakah pluralisme yang sedang didengungkan banyak pihak adalah pluralisme yang berarti toleransi saja. Bahkan, terbuka peluang yang teramat besar bahwa pluralisme yang sebenarnya dikhotbahkan selama ini adalah integrasi dari keempat definisi tersebut.
Faktanya, mari kita melihat cuplikan film berjudul "?" yang saya singgung di awal. Ada sebuah adegan di mana karakter Rika, seseorang yang diceritakan murtad dari islam, mengutip kalimat dalam sebuah novel : "Setiap manusia berjalan dalam setapaknya masing-masing. Mereka berjalan sendirian. Mereka bersama-sama berjalan kepada satu tujuan, yaitu … Tuhan". Mari kita menilai, apakah pluralisme yang selama ini didengungkan masih sesempit sebuah toleransi belaka?

***

Sebagai penutup, penulis ingin memberikan sebuah analogi yang teramat sederhana. Setiap manusia yang terlahir ke dunia, bagai seorang kurir yang mendapat mandat dari seorang raja untuk menyerahkan sebatang emas kepada seorang pendeta yang hidup berdakwah di pemukiman penyamun. Tidak hanya itu, sang kurir juga merangkap sebagai bala bantuan kiriman sang raja yang hendak membantu langkah dakwah sang pendeta di pemukiman penyamun tadi. Sang raja telah memberikan sebuah petunjuk yang dapat mengarahkan sang kurir untuk langsung menemukan sang pendeta. Maka, tugas sang kurir pun sebenarnya sederhana saja, yaitu menemukan sang pendeta. Namun, dengan sebatang emas yang dipegang sang kurir, bukan tidak mungkin ia akan jatuh pada makar tipu daya penyamun, menjadi budak mereka karena menyangka penyamun yang ditemuinya adalah pendeta, bahkan kemudian justru menjadi bala tentara yang melawan sang pendeta. Maka jika demikian, bukan salah sang raja jika sang kurir layak dijatuhi hukuman.

Seperti itulah hakikat kehidupan manusia. Seorang manusia memiliki tugas untuk menemukan jalan menuju Sang Kebenaran Mutlak, Sang Kebenaran Tunggal, melalui satu agama yang benar. Dan manusia yang diibaratkan sebagai kurir di sini, tidak pantas kemudian, secara semena-mena karena merasa frustasi manakala kesulitan menemukan sang pendeta, lantas ia memilih untuk menahan emasnya, pergi mengingkari titah sang raja. Agnostisisme bukan jalan! Hidup seperti sebuah permainan, dan manusia memiliki keharusan untuk menjatuhkan pilihan. Namun yang pasti, manusia harus mendaraskan pilihannya pada petunjuk Tuhan. Maka ia harus mengkonfrontasikan seluruh persepsinya untuk mendapatkan makna yang tepat mengenai petunjuk Tuhan tersebut. Itulah arti dari sebuah pencarian hidup, pencarian jati diri yang sering dicapkan guru konseling kita semasa sekolah dulu.

Berikutnya, menyerahkan emas adalah lambang keberserahan diri saat manusia telah mampu menemukan kebenaran yang ia yakini. Lalu apakah dengan itu saja sudah cukup? Tentu saja tidak. Sebagai konsekuensi lanjutan, ibarat sang kurir, seorang manusia juga harus turut membela sang pendeta, sebagai simbolisasi dari agama dan kebenaran yang telah kita pilih. Dan bukan tidak mungkin, bahkan sudah pasti, bahwa nantinya ia akan mengalami persinggungan dengan para penyamun, berikut kurir lain yang diperdaya oleh para penyamun. Pertanyaannya, apakah bisa kita membela sang pendeta sekaligus menyemangati sang penyamun? Bisa. Namun pantaskah? Itu menjadi tanda tanya yang kesekian bagi pluralisme. Karena keberserahan diri yang saya jelaskan di awal paragraf, juga berarti seorang manusia akan terikat pada konsekuensi logis bahwa, secara otomatis ia akan menolak kebenaran lain di luar kebenaran yang telah ia yakini. Jelas, ini sudah kita bahas di awal..

Satu Tuhan, satu ajaran, satu kebenaran mutlak. Akhirnya, seperti distorsi yang menjadi bentangan jarak antara kesatuan dalam nama Tuhan, kepada kesatuan di bawah panji setan. Mereka membengkokkan kesatuan yang hakiki dan menciptakan perbedaan-pebedaan, lantas menyerukan kesatuan semu untuk memeluk para manusia yang merasa dikhianati dan lelah oleh perbedaan itu. Itulah lakon yang dipentaskan selama berabad-abad..

Sebagaimana lirik lagu Jason Mraz yang saya kutip di awal, pelangi adalah visi, sekalipun hanya ilusi. Kebenaran bagai cahaya matahari yang berwarna putih. Lalu ada seseorang yang meletakkan prisma untuk membiaskan cahaya matahari itu. Jadilah ia tujuh warna pelangi, serta cahaya putih yang tidak terbiaskan. Seperti itulah agama. Kita tidak benar-benar berbeda, karena kita berasal dari satu Tuhan. Namun apa yang menyebabkan kita berbeda?

Mari memahami bahwa sebenarnya, bukanlah kita berbeda karena Tuhan menurunkan banyak kebenaran di muka bumi. Kita semata-mata berbeda, karena adanya beberapa distorsi ajaran agama yang terjadi sepanjang sejarah. Masa awal dari tiap-tiap agama sudah berabad lampau, itu adalah masa yang lebih dari cukup untuk membalik kebenaran menjadi kesalahan, serta menjadikannya doktrin yang diterima secara umum. Tugas kitalah, menemukan kebenaran itu, melalui studi sejarah, dan perenungan kitabiyah, untuk mendapatkan sebuah epistemologi yang mendalam terhadap agama kita. Mempelajari agama kita dengan hati yang bersih, sembari terus mendo’a kepada Tuhan. Dengan izin Tuhan, kesalahan akan nampak di hadapan hati yang bersih, tanpa hijab, tanpa tedeng aling-aling. Karena, apalah lagi yang kita harapkan, selain daripada kebenaran? (titik dua kurung tutup)


R.D. 2011

0 Chirping sounds:

Posting Komentar