Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Senin, 11 April 2011

buat aku bertanya tentang Tuhan..

Senin, 11 April 2011 02.37 No comments

si A:

buat aku bertanya tentang Tuhan..


si B:

kenapa kau mempercayai eksistensi Tuhan?


si A:

sebelumnya kenapa pula aku harus menyangkal eksistensi Tuhan?


si B:

Segala yang ada adalah materi. Materi adalah segala sesuatu yang menempati ruang dan terpengaruh oleh waktu. Materi tersusun daripartikel-partikel yang terdalam, tidak dapat rusak, kecil, bulat, keras, yangdinamakan atom-atom. Atom-atom tersebut bukan hanya tidak pernah terjadi atom-atom baru. Ini berarti bahwa semua bentuk materi hanyalah merupakan pengelompokan baru atom-atom tad...i, sebagai semula diyakini kebenarannya, hukum kekekalan materi (Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat, hal 88) Alam semesta dan manusia menurut paham ini juga materi. Maka jangan harap kau bisa punya celah untuk berkilah dengan berkata tentang eksistensi udara yang tak terlihat. Udara adalah, bagaimanapun, materi..


si A:

lalu bagaimana dengan perasaan? Kau mengakui eksistensi dari, petiklah contoh sebuah kemarahan, yang merupakan ekspresi emosional, tapi apakah kau dapat menyebutkan wujud materialnya?


si B:

Kau tahu, seorang tokoh rasionalis, Rene Descartes (1596-1650) menyatakan "cogitoergo sum" yang artinya aku berpikir, maka aku ada. Adanya aku, sebagai manusia, nyata ada jika aku berpikir. Dan dengan berpikir, manusia bisa menjadikan segala sesuatunya menjadi "mengada". Tuhanpun menjadi ada, dengan cara dipikirkan. Jika manusia berpikir Tuhan ada, maka jadilah Dia ada. Sebaliknya, jika Tuhan tidak dipikirkan, maka Tuhan tidak ada. Maka aku bertanya kepadamu mengapa Tuhan mesti ada?


si A:

kau tahu, aku malu. Seorang yang hidup berjarak sekian millenium dari sang Abu Tauhid, Ibrahim Alaihissalam, bahkan belum mampu menjawab mengapa Tuhan mesti ada. sementara dia, Ibrahim, yang hidup di jaman yang jauh lebih primitif mampu menjawab mengapa Tuhan mesti ada, bahkan berlanjut ke tahap yang lebih terhormat, bertanya tentang “siapa Tuhan” dan menemukan jawabannya..


si B:

apa maksudmu? Jawab saja! Jangan berceloteh kosong! Tsah! Pasti argumentasi purba! Kau ingin mencoba menggiring agar aku berpikir bahwa semua ini ada asal mulanya kan? Kau ingin bilang bahwa alam semesta berasal dari Tuhan, ya kan? Lalu kita mulai memperdebatkan tentang asal muasal Tuhan, lalu kau akan berceloteh tentang prima causa, dan aku akan memberikan sebuah sanggahan tak terbantahkan mengenai The God’s Delusion, Logical Fallacies: God of the Gaps!


si A:

haha, tentu saja tidak. Kau tahu semua ini bukan tentang muasal, tapi tentang tujuan. Emm, sederhana saja, jika kau bertanya padaku mengapa Tuhan mesti ada, maka ijinkan aku mengajukan sebuah pertanyaan sederhana padamu, mengapa alam semesta mesti ada? Apa tujuan semua ini ada? Atau yang lebih sederhana, apa tujuan dari keberadaanmu? Klise, aku tahu kau pasti akan berpulang pada falsafah Nietzsche, tentang membunuh Tuhan. Segala seluk beluk ilmu pengetahuan hingga yang paling detail ingin kau kuasai semata-mata karena kau ingin menguasai alam semesta yang telah kau konversi ke dalam konsepsi-konsepsi ilmu pengetahuan itu, atau dengan kata lain kau ingin menjadi Tuhan, persis seperti kata Nietzsche! Dan aku tidak menjumpai alasan logis mengapa kau, seorang berintelektual, mesti merendahkan martabatmu seperti seorang Namrudz, mengangkat dirimu sendiri sebagai Tuhan. Karena ironisnya, kau tak pernah benar-benar bisa menciptakan alam semesta, bahkan kau tak bisa menerbitkan matahari dari barat! Tidakkah kau berpikir bahwa bagaimanapun, semua ini, akan berpulang pada Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan dan kebenaran absolut yang rasional? Al haqqu min Rabbik, fa laa takunanna minal mumtariin.Tugasmu untuk berpikir tentangnya, itulah jalan pikir seorang Ibrahim.. (titik dua kurung tutup)


si B:
(monggo diisi..)

0 Chirping sounds:

Posting Komentar