Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 06 Maret 2011

Syahadah

Minggu, 06 Maret 2011 21.18 No comments

"We don't know what kind of people we truly are, until the moment before our deaths..." (Itachi Uchiha)

***

Siang itu, seperti biasa, aku bercengkerama di bale bambu depan rumah Kyai Sanusi. Lelaki tua yang kesehariannya gemar memakai baju yang teramat sederhana, bahkan lusuh, jika kau melihat betapa berhartanya beliau sebenarnya. Barangkali beliau adalah Bob Sadino versi menutup aurat. Yah, singkatnya, kau bayangkan sajalah seorang eksportir sukses, yang sehari-harinya mengenakan baju gamis lusuh panjang berwarna putih tanpa corak, dengan celana kain yang juga berwarna putih longgar tanpa isbal, untuk mengetahui betapa bersahajanya beliau ini. Haha, aku bilang beliau benar-benar Wara’, udah males mikir dunia. Sungguh berbeda dengan pesan yang dahulu sering dikatakan Mbahku padaku saat aku masih kuliah, bahwa jika aku “jadi orang” nanti, aku harus necis, agar aku dihargai orang lain.

Sungguh beruntung, aku dapat sedemikian akrab dengan beliau. Biasanya kami mengobrol banyak tentang aqidah umat, hakikat islam, dan beragam tema spiritual keislaman lainnya. Aku suka beliau. Pengetahuan beliau yang mendalam tentang syari'at-syari'at Islam, dapat beliau sampaikan dengan gaya suf...istik. Sungguh berbeda dengan kecenderungan yang kujumpai di luar sana, bahwa sufisme dan salafiyah adalah sebagai 2 buah partikel bermuatan positif. Yang jika didekatkan, kau pasti tahu apa yang terjadi. Secara ekstrem, aku bilang beliau benar mirip Imam Al Ghazali. Bisa dibilang, beliau adalah telaga dari epistemologi yang komprehensif tentang filsafat islam.


Beliau juga seseorang yang teramat peduli dengan aqidah umat. Satu hal yang paling melegenda dari beliau. sekitar dua dekade yang lalu, pernah ada sekelompok misionaris yang ingin mendistribusikan logistik di daerah pinggiran kampung, yang memang dulu merupakan lokalisasi lapak para pemulung. Akhirnya, beliau ajaklah pemimpin kelompok misionaris itu untuk berdebat dengan beliau, sampai gilanya, kelompok misionaris tadi kocar-kacir, karena pemimpin kelompok misionaris itu, memutuskan untuk menjadi seorang muallaf. Wow.

Itulah, dan tidak berhenti di situ, luar biasanya lagi, selanjutnya Kyai Sanusi dan Bang Raymond, pemimpin kelompok misionaris itu yang sekarang berganti nama menjadi Abdullah Islam, atau Bang Duloh panggilan akrabnya, mendirikan Rumah Zakat di kampung kami. Dan dari Rumah Zakat itu, dimakmurkanlah para proletar yang hidup di kampung kami. Luar biasa, ini konsep miniatur dari negara sosialis non-atheism, boi. Haha, sayang sekali dulu Karl Marx tidak mengenal apa itu Islam, karena Islam di Eropa, telah diberangus oleh tentara Crusades..

Namun siang itu aku iseng menanyakan satu hal pada beliau, "Yaa Syaikh, adakah saat ini engkau mengkhawatirkan sesuatu?"

Kyai Sanusi menjawab pelan, "Aku takut, jika nantinya aku wafat dengan tanpa mengucap dua kalimat syahadat."

***

Aku melihat jam digital di layar ponselku. Jam 11.00, adzan Dhuhur masih lama. Aku melirik elektrokardiogram yang mengukur detak jantung Kyai Sanusi. Mengkhawatirkan, semakin lemah saja dari kemarin. Oh, aku lupa bercerita padamu. Sudah sekitar 3 minggu Kyai Sanusi koma. Beliau mengalami musibah kecelakaan sepulangnya dari mengisi Kajian Zionisme Internasional di daerah Kebon Jeruk Jakarta. Hemm, jangan sangka Kyai sepuh ini tidak peduli dengan isu besar dunia, ya. Yap,tapi beruntunglah beliau masih dapat dibilang selamat dalam musibah itu. Tak perlulah rasanya kuceritakan bagaimana kecelakaan yang beliau alami. Yang pasti di antara 5 orang rombongan mobil yang beliau tumpangi, hanya beliau yang masih ditakdirkan hidup, meski koma.

Dan di sinilah beliau sekarang, terbaring di rumah sakit. Hari ini kebetulan hanya aku yang menemaninya, biasanya aku bersama beberapa warga di kampung beliau tinggal, karena memang bisa dikatakan beliau tak punya keluarga dekat lagi. Istri beliau telah pergi mendahuluinya. Dan putra tunggalnya, adalah salah seorang korban yang wafat dalam musibah tempo hari.

Tiba-tiba beliau tersadar, mata beliau terbuka, saat elektrokardiogram beliau menunjukkan posisi terlemahnya. Aku segera menekan saklar yang biasa digunakan untuk memanggil perawat. Sementara itu Kyai Sanusi seperti terbata-bata mengucapkan sesuatu. Perasaanku tak enak. Aku coba mendengarkan perkataannya.

"Da'wah..Da'wah..Da'wah..Islam..Islam..Islam..", ucap Kyai Sanusi. Lalu elektrokardiogram pun berbunyi panjang tak terputus..

0 Chirping sounds:

Posting Komentar