Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 04 Maret 2011

Peluru

Jumat, 04 Maret 2011 14.45 1 comment
http://www.sivhana.com/images/gunBullet.jpg

“jadi aku benar harus melakukannya, ya?”

***

Jika cengkerama pagi yang ramai itu seperti lautan, aku seperti sedang bersampan atau duduk di tebing pantai yang dimurkai ombak. Mengalirkan beberapa seruput kopi secara perlahan seperti seorang pria kesepian di telenovela. Kedua mataku nanar, jika sendu kurang tepat untuk menjadi gambaran. Yang pasti seperti biasa aku membiarkan otak kiriku menjalar-jalar dan berputar-putar saat ini. Ya, itu teknik konsentrasi yang ku...ramu sendiri saat aku masih muda.

Joseph Kartawijaya. Atau yang oleh peran besar media ia lebih banyak dikenal dengan nama Sugali. Yah, aku yakin kau pasti segera teringat salah satu judul lagu lawas Bang Iwan Fals, saat mendengar nama Sugali. Memang bukan tanpa alasan lelaki yang postur tubuhnya mengingatkanku pada batang pohon jambu di rumah kakekku itu, gelap dan meranggas dimakan takdir, disemati julukan Sugali. Orang itu memang legendaris. Memang betul pas, karakter Sugali itu sebagai blueprint dari si Jose, atau Bang Gali, panggilan akrabku pada pria itu. Masa muda yang indah keluar masuk bui, dar der dor suara senapan yang ia anggap petasan karena, konon ia punya ilmu kebal senapan. Ah, betul mengena!


Menunggu datang peluru yang panas di satu hari nahas
. Barangkali hanya ini bagian dari lirik lagu itu yang tak sesuai dengan Bang Gali. Kalau bukan karena, barangkali ya, ia sudah terlalu tua, dan mungkin lelah ingin mencari tempat beristirahat, bisa jadi sampai saat ini kau masih bisa melihat Bang Gali menari di lokasi WTS kelas teri, dan masih seperti dalam lagu, asik joget sampai lecet, genit gelitik cewek binal paling buset. Amboi, aku heran, apa dia sudah gila atau memang ia ingat janji Tuhan bagi orang yang bertaubat, ujug-ujug di suatu pagi yang misterius ia datang ke markas besar polisi resor kota, dan menyerahkan dirinya dengan santai seperti pulang ke pangkuan emak di kampung. Yah, setidaknya dengan begitu jadi tak ada petinggi kepolisian yang bisa sesumbar atas prestasi karena pengangkapan Bang Gali.

Haha, tapi aku tetap merasa penasaran tentang apa yang merasuki Bang Gali hingga ia merasa harus menyerahkan dirinya pagi itu, tapi aku yakin ia bukannya tak tahu bahwa ia hampir pasti harus berhadapan dengan sanksi pidana terberat di negara ini. Dan ternyata memang iya. Kejutan untukmu, inilah hari nahas itu. Atau, ah apa iya ini hari nahas bagi Bang Gali? Bisa jadi ia termasuk segolongan orang bernama tengah “D”, yang dalam film digambarkan selalu menghadapi hukuman matinya dengan senyum yang teramat lebar hingga kau bisa melihat sebaris gigi depannya yang menguning. Yah, itulah, aku memang tak pernah paham jalan pikir seorang jenius, mendekati sinting.

Tapi satu hal, Bang Gali jugalah yang sebenarnya, dengan izin Allah tentu saja, membuatku berada di sini. Di jajaran kepolisian republik. Bukan, dia bukan ayahku. Paman juga bukan. Kakek? Apalagi. Yah, nanti sajalah kuceritakan. Belasan orang yang ada di ruangan inipun sama tidak tahu. Kalau mereka tahu, mana mungkin aku berada di barisan peminum kopi pagi ini? Yang pasti Bang Gali, dialah yang kubayangkan di setiap malam aku belajar keras saat aku duduk di bangku sekolah menengah, yang menghantarkanku menyabet predikat sebagai lulusan terbaik di sekolah, dan yang membuatku lulus menjalani tes masuk akademi kepolisian tanpa harus lewat cara laknat. Dengan membayangkan wajahnya, wajah yang dulu terlihat flamboyan dengan kacamata hitamnya, aku menjalani semuanya dengan gigih, hampir tanpa jeda, dan satu hal lagi yang tak pernah aku lupakan, dengan kornea mata yang memerah dan tergetar.

***

Itu adalah malam dengan hujan gerimis. Ba’da isya’, aku bersama anak-anak seumuranku, anak-anak labil usia putih-merah, baru saja pulang mengaji Qur’an di surau dekat rumah Engkong Mahader, guru ngaji kami.

“Samlekom..!!!”, biasa, salam bocah jahiliyah saat masuk rumah.

“Wa’alaikumussalam..”, jawab emak diiringi bunyi tertawaan dari acara TV yang sedang ditonton emak. Acara lawak. Untung bukan acara gosip.

Dan aku segera menghambur di seputaran sepanci sup dengan kepulan asap menerobos di celah-celah penutup panci yang terbuka sedikit, yang waktu TK dulu, sering kuanggap sebagai jin botol yang membantu ibuku memasak sup. Aku tidak segera makan. Adat di keluarga kami, selapar apapun, kami akan menunggu bapak datang dulu kalau hendak makan malam. Makan gak makan, asal kumpul, begitu falsafahnyaKeluarga kecil kami benar-benar penuh cinta..

“Mbok ya kamu itu ganti baju dulu, besok bajunya dipake ngaji lagi gitu kok. Ayoh.”, kata emak sambil sedikit mencubit lengan bajuku, ketika tiba-tiba Mas Ajes dengan beberapa teman nongkrongnya menghambur ke depan rumah dengan tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang gaswat.

Sejurus kemudian, emak terlibat pembicaraan serius dengan mereka. Naluri apatisme bocahku membuatku tidak mengerti hal gaswat apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi sayup-sayup aku mendengar nama Sugali, Sugali, Sugali, disebut dalam pembicaraan mereka. Sugali bukan nama yang terlalu mitologis bagi seorang buronan kelas kakap hingga anak SD sepertiku tidak tahu betapa bengis sepak terjangnya. Boleh kau hitung berapa kali seminggu kau dengar namanya disangkutkan kasus pembunuhan atau perampokan di koran-koran dan tipi-tipi, sekalipun tak pernah luput dari embel-embel “buronan”. Tapi apa kaitannya Sugali dengan Mas Ajes? Dengan emak?

Tapi tahu-tahu dengan mata sedikit merah emak masuk ke dalam rumah. Derap langkahnya terburu-buru. Lalu denga senyum yang, saat sudah agak besar aku paham bahwa itu adalah senyum yang dipaksakan, emak menghampiriku sambil mengusap ubun-ubunku lalu berkata, “kamu makan dulu gih, emak mau pergi sebentar, ya? Bapakmu itu lo Gus..”

Aku jadi makin bingung. Sekarang apa lagi hubungan Sugali dengan bapak? Jangan-jangan Sugali mau ikut keluarga kami. Belum sempat pertanyaan itu kuberondongkan pada emak, emak sudah meninggalkan keluar pagar, lalu berlalu diantarkan Mas Ajes dan teman-temannya.

***

Esok paginya, hari hujan. Hujan yang teramat deras. Aku tidak masuk sekolah. Tapi bukan hujan yang menahanku dari berangkat ke sekolah. Aku menatap langit dengan nanar dari jendela kamarku. Aku diam. Memandangi kerja Malaikat Mikail membagi berkah di langit yang mendung, sekaligus mengukir kesenduan di batin bocah kecil sepertiku, yang sudah sendu karena sedari tadi mencuri dengar emak menangis hingga kehabisan suara.

Kau tahu, rumah kecilku sangat ramai pagi ini. Para tetangga dan sanak saudara datang, padahal aku tidak sedang khitan. Kau pasti sudah bisa menebaknya. Bukan, bukan Sugali jadi ikut keluarga kami. Ia musabab berkurangnya salah satu anggota keluarga kami. Ya, bapak meninggal. Sugali pembunuhnya.

Semalam, emak ke rumah sakit setelah mendengar kabar bapak koma usai ditikam Sugali. Ketika itu menurut cerita, bapak mencegah Sugali merampok seorang lelaki tua. Maklumlah naluri amar ma’ruf nahi munkar bapak kadang sukar dikendalikan. Dan, kemarin naluri itulah yang menghantarkannya menemui maut. Aku juga heran bagaimana bisa bapak bertemu dengan Sugali. tapi belakangan aku tahu jika Sugali adalah sahabat kecil bapak. Emak menduga, bapak sering secara sembunyi-sembunyi mengunjungi sahabatnya itu. Ah!

Dan, petir yang berkali-kali mengguntur sepanjang hujan deras kali ini terdengar tidak biasa. Seperti ada yang menyeru kepadaku. Aku harus membunuh Sugali!!!

***

“Regu eksekutor, bersiap!”

Seruan Komandan Zain membubarkan lamunan panjangku. Saatnya regu kami mengakhiri pagi kafein ini. Ada sedikit briefing, seperti sebelum-sebelumnya. Yah, kau tak perlu tahu apa isinya, tak penting juga bagimu, kurasa. Tidak lama, dan kami pun berangkat menggunakan van berwarna biru donker. Van melaju cepat.

Tiba-tiba saja kini aku sudah berada di lapangan eksekusi dengan sebuah senapan laras panjang di tanganku. Kami bersiap-siap untuk eksekusi. Bang Gali belum datang. Suasana eksekusi terbilang sepi. Maklum, eksekusi mati Bang Gali dibuat tertutup dari liputan para kuli tinta. Tapi biar sedikit kuceritakan padamu tentang teknis eksekusi mati ini. Aku adalah salah seorang dari kesepuluh eksekutor Bang Gali. Di antara kami bersepuluh, hanya satu eksekutor yang memegang senapan berisi peluru tajam. Sisanya peluru kosong. Sudah jelas, untuk mengurangi stres terpidana. Kami akan berada di depan Bang Gali, dan menembakkan peluru di saat yang bersamaan.

Itu dia Bang Gali datang. Kami pun bersiap melaksanakan eksekusi. Sejurus aku melihatnya dikawal ke tiang di tengah lapangan eksekusi. Di tiang itu terpidana mati biasanya diikat, tapi tidak dengan Bang Gali. Aku yakin pasti ia yang memintanya. Kemudian tunggu dulu, ia juga tidak mengenakan penutup wajah. Orang ini gila. Tapi aku mencoba menyelami pikirannya, sekian lama bersamanya, aku jadi tahu pola pikir orang tua ini. Barangkali dalam eksekusi ini, ia ingin merasakan derita para korbannya dulu. Selain itu, orang yang senang bermain dengan maut, apa perlu merasa takut pada maut? Tapi di sisi lain, aku jadi bisa menatap mata pembunuh ayahku itu, mata teduh Bang Gali, untuk terakhir kalinya. Dan, inilah waktunya..
“1..2..3..”

***

“Boleh aku menebaknya?”, Bang Gali membuka percakapan, bisa jadi terakhir, kami siang itu. Ya, siang itu, kemarin siang lebih tepatnya, aku menyempatkan diriku menengok Bang Gali. Ada sesuatu yang ingin aku katakan, sekaligus berucap salam perpisahan dalam wujud kata-kata.

“Pasti tujuanmu kemari siang ini, ingin memberitahuku, bahwa kau masuk di regu eksekutorku besok, ya kan?”, aku hanya mengangguk diam mendengarnya.

“Aku yang memintanya sebagai permintaan terakhirku, Argus..”, katanya. Aku tersentak.

“Argus, aku tau bukan tanpa sebab kau sering mengunjungiku kemari..”

“Ayahmu orang baik Argus..”, ia kembali berujar, kali ini matanya berkaca-kaca.

“ia..kalau saja kau..tahu, dia Argus, dia..ayahmulah..satu-satunya korban kebiadabanku, yang menutup mata dengan kalimat syahadat..”, kali ini ia berkata dengan terisak, aku diam menahan diri dari ikut terisak.

“..maafkan makhluk terkutuk ini Gus ..maafkan karena aku telah memasukkan bisa dendam di umurmu yang belia, Argus..”, ucapnya lirih setengah berbisik..

“Dan kau tahu, sejak pertama kali kau mendatangiku, dengan mata merahmu yang tergetar dulu itu, aku sudah tau kau anak Ghazali.”, lanjutnya. Aku masih diam dengan kepala menunduk.

Aku ingat siang hari yang aneh itu. Saat aku mengunjungi LP tempat Bang Gali ditahan, untuk pertama kalinya sejak ia menyerahkan diri. Aneh. Saat itu aku datang padanya, masih dengan mata memerahku yang tergetar, penuh dendam yang kusimpan bertahun-tahun. Lalu aku melihatnya, dan iapun menatapku. Sungguh aneh. Matanya tidak berkaca-kaca, tapi aku melihat keteduhan dan kelembutan yang misterius di sana. Dendamku runtuh, aku melupakannya sesaat.

Ia mengajakku bicara tentang Tuhan. Sungguh aneh, aku seperti melihat iblis yang sedang berdakwah. Kata-kata laknat dan kutuk yang telah kupersiapkan selama bertahun-tahun demi menghadapi pertemuan siang ini menguap, berganti oleh obrolan tentang Aqidah, Akhlaq, dan berbagai lain hal yang sifatnya spiritual. Maka, sejak pertemuan kami siang itu, dalam hati aku mentahbiskannya sebagai guru spiritual keislamanku. Luar biasa. Esoknya, di pekan-pekan berikutnya, aku jadi sering mengunjunginya, seperti siang ini. Sudah sekitar 2 tahun. Yah, aku cukup beruntung karena di negara ini jeda waktu antara vonis dan eksekusi mati seringkali sangat lama. Aku punya kesempatan untuk mengenal Bang Gali cukup dalam.

“Kau tak perlu takut, Argus. Aku bukan Sayyid Quthb. Aku pantas menerima hukuman ini..”,ujarnya, dan aku tersedu.

“Esok, lakukan semua demi Tuhan, Argus..”, ia berkata takzim, dan aku menangis semakin keras..
***
Tak berselang setelah aba-aba, 9 senapan serempak meletus memuntahkan pelurunya, Bang Gali masih belum terkapar. Bukan Bang Gali masih menyimpan susuk kebalnya. Aku tahu aku menahan tembakanku. Dan kesembilan peluru lain itu, adalah peluru kosong. Rupanya akulah, akulah orang yang harus jadi selongsong berisi peluru dalam skenario Russian Roulette kematian Bang Gali. Ya, tepat seperti yang aku cita-citakan. Ya, dulu. Tapi sekarang..

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (Q.S. Al Baqarah: 178)

Aku terngiang-ngiang Firman Tuhan yang dulu pernah dibacakan Engkong Mahader sewaktu kami membahas Fiqhul Qishaash. Saat ini, aku ingin Bang Gali membayar diat saja padaku. Aku ingin. Benar-benar ingin. Tapi peluru, harus dilepaskan demi tegaknya hukum warisan Belanda di negara ini. Sekalipun dengan linang air mata yang deras. Amat deras, seperti hujan pagi itu, dan tangisan emak..

1 komentar: