Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 31 Maret 2011

Jacobian Maide

Kamis, 31 Maret 2011 10.40 No comments
http://www.ideq.net/wp-content/uploads/2011/03/war.jpg
Lelaki muda yang limbung dan tersudut di perempatan pinggir kota debu itu terlihat memutar-mutar cerutu di jemarinya. Cerutu khas isapan para penjudi roulette di kasino-kasino abad 19. Cerutu yang agak gemuk, dengan kertas pembungkus berwarna coklat, yang akhir-akhir ini aku baru tahu kalau pembungkus itu bernama kertas papir, membuatku teringat pada papirus bertuliskan naskah injil yang ditemukan di laut mati. Ia belum menyulutnya. Jika pucuk belum dicinta maka ulam tak perlu tiba. Kadar stressnya masih belum memenuhi syarat untuk diseka dengan cumbuan tembakau kelas berat itu, pikirnya.

Namanya Jacob. Jacobian Maide. Agaknya ia sedang dilanda kegilaan akut karena idolanya, Tn. Karamozov Ivanovitch, seorang fotografer legendaris keturunan Rusia di masa Perang Dunia yang kini menduduki jabatan elit di partai Republik USA, tidak lama lagi akan menggelar pameran foto bertajuk ‘The Barbarian’ di New York. Jacob berpikir, inilah satu-satunya kesempatan di mana ia bisa, setidaknya diketahui bahwa alur nafasnya pernah terjadi, oleh Tn. Karamozov, sang junjungannya itu. Karena itulah ia di sini. Di sebuah negara tropis yang tengah bergejolak oleh invasi NATO. Ia berharap dapat menemukan potret tematik yang benar-benar sentimental dan dramatis itu di tempat ini. Totalitas. Wajar jika seseorang akan jadi benar-benar totalitas demi sesuatu yang ‘dipertuhankannya’.

Mobil-mobil perang itu melintas di depannya, dengan kepala-kepala tak ramah menjulur bersama pucuk-pucuk senapan dari dalamnya. Ia miris, jelas. Sebuah paradoks yang klise memang, jika kebebasan didakwahkan melalui perkosaan. Perkosaan najis terhadap sebuah negara dengan mengatasnamakan dirinya sebagai aksi demokratisasi atau akta liberasi. Di kejauhan ia melihat tambang minyak itu. Ya, ia tahu betul tambang minyak itulah yang sebenarnya menjadi tujuan utama ‘dakwah’ artileri-artileri itu di tempat ini. Terbukti kan, mereka membiarkan ‘harta karun’, tambang emas hitam itu, tetap cantik tak tersentuh. Ia tersenyum kecil.

Sebenarnya sudah banyak potret-potret yang diambil Jacob. Ia telah mengabadikan keberingasan tentara-tentara sekutu dengan amat bagus. Namun kemarin malam ia tersadar, mengkritik pemerintah negaranya, sama saja dengan menaruh nyawanya di rumah gadai. Terlebih seorang Republikan seperti Tn. Karamozov pasti tidak akan mengikutkan hasil jepretannya itu. Tentu saja karena itu sama artinya dengan meruntuhkan citra partai Republik yang selama ini memang mendorong kegiatan-kegiatan invasi di timur tengah. Ugh, lalu garis mati. Ia makin bingung. Ya, beberapa hari lagi ia harus tiba di New York, jika masih ingin beroleh kesempatan emas bertemu Tn. Karamozov, dan berpartisipasi dalam acara berkelas itu. Sekarang ia telah mencapai tingkat stres yang pas untuk menyulut cerutunya.

Ketika ia hampir menyulut cerutunya, ia mendengar serentetan senapan yang meletus dan keributan kompulsif yang menyertainya, dari arah sebuah jalan yang terletak beberapa blok dari perempatan tempat ia duduk berputus asa saat ini. Ia segera bangkit untuk melihat tempat kejadian. Terlihat sekerumunan massa, dan beberapa prajurit yang petantang-petenteng, pongah berdiri menenteng senapan laras panjang di sekitar mereka.

Laknatullah ‘alaik!! Laknatullah ‘alaik!!”, di dalam kerumunan itu ia melihat seorang perempuan tua berteriak-teriak. Ia mengenali perempuan itu. Dia Ummu Ishtaar. Ia menangis meraung-raung penuh kemarahan. Ia memangku jasad seorang pemuda. Seorang pemuda yang dikenalnya juga. Harun, namanya. Terlihat pakaian Harun bersimbah darah oleh 8-9 peluru tajam yang menembus tubuhnya. Seorang lelaki tua bercerita jika Harun sempat melempari prajurit-prajurit itu saat mereka berpatroli sambil menembakkan senapannya ke udara. Karena marah, mereka memberondong Harun dengan senapan yang mereka bawa.

Jacob memandangi prajurit-prajurit itu lekat. Kemudian sejenak, ia mengalihkan pandangannya kepada ibu Harun yang masih terlihat tenggelam dalam kemarahannya. Kutukan demi kutukan seorang ibu yang lara hatinya itu masih terus mengalir di antara pecahan tangisannya. Sejurus kemudian ia teringat sesuatu. Ia mengambil kamera DSLR miliknya yang tersimpan di dalam tas.

***

“Yang pasti, aku ingin merebut kembali negaraku ini, Jacob. Ini tentang kemuliaan Tuhan..”, kata Harun, membuka percakapan kecil mereka malam itu. Malam yang lengang di dalam karavan milik ayah Harun, Abu Ishtaar. Di masa perang seperti ini, keluarga Ishtaar memilih hidup nomaden melalui karavan itu. Rumah mereka telah luluh lantak oleh rudal pesawat tempur NATO. Dan malam itu, Jacob memutuskan menginap bersama keluarga Ishtaar. Setelah beberapa minggu ia selalu menjalani hari-harinya dengan hidup menggelandang di daerah perang.
“Kau tahu, ada dua macam revolusi yang dapat terwujud di sebuah negara. Yang pertama revolusi melalui pena dan tinta para cendekiawan, dan yang kedua revolusi melalui pedang dan darah para mujahid. Tapi kau lihat, negara ini sudah porak poranda!”, lanjut Harun, suaranya terdengar agak bergetar oleh emosinya yang meluap-luap. Sambil menghisap sebatang cerutu, Jacob memperhatikan kata-kata pemuda terjajah itu dengan antusias. “Maka tidak ada jalan lain yang dapat kutempuh melainkan yang kedua. Aku tak ingin melihat Tuhanku dihinakan oleh sekulerisme dan perbudakan yang sedang mereka rancang! Tidak akan kubiarkan itu, Jacob! Tidak akan..”, kata Harun, ia terdengar bersemangat.

Jacob tersenyum kecil. Lantas sambil memahami senyuman Jacob, Harun berkata lagi, “Aku tahu, barangkali kalian menganggap kami bengis karena perlawanan yang kami lakukan ini..”. Harun paham, dengan latar belakang doktrin islamophobia yang endemik di negara asal Jacob, kata-katanya barusan mungkin terdengar agak ekstrem.

“Suatu hari, secara acak aku membuka kitab Sirah Nabawiyah karya Syaikh Mubarakfury, dan jatuhlah aku pada kisah tentang terbunuhnya seorang Yahudi bernama Ka’b bin Al Asyraf oleh kaum muslimin atas perintah Rasulullah. Lantas aku berpikir betapa kejamnya Rasulullah itu. Ironisnya, saat itu aku belum pernah membaca bagian yang menceritakan bagaimana kejamnya fitnah-fitnah yang dilontarkan oleh Ka’b.”, kata Harun.

“Yah, islamophobia itu memang kejam,”, Jacob menimpali. “sungguh ironi bahwa sebuah sentimen anti agama tertentu bisa timbul di negara yang konon menjunjung tinggi kebebasan berpendapat seperti negara kami..”

“Aku harap kau bisa menyempaikan pesanku ini. Teman..”, kata Harun. Jacob tersenyum, lantas mematikan cerutunya..

***

“Biadab. Sudah kuduga mereka memang biadab!”, Tn. Karamozov, secara misterius telah berada di belakang Jacob, mengomentari hasil jepretannya dengan cara yang amat elegan, singkat dan satir. Yah, pada akhirnya Jacob berpartisipasi dalam pameran fotografi di New York itu.

“emm, ya.”, jawab Jacob sekenanya, agak tergagap oleh grogi. Ia melabuhkan matanya pada potret di hadapannya, potret wajah close up seorang ibu yang nampak kejam, murka. Di bawahnya terdapat sebaris tulisan, “Oleh Jacobian Maide: MURKA WANITA DURJANA TIMUR TENGAH”. Lalu mereka berdua larut dalam tawa khas para jutawan ketika sedang bercengkerama di restoran perancis. Sementara air mata Ummu Ishtaar di atas kuburan Harun masih belum kering sepenuhnya. Dan mimpi-mimpi yang diucapkan Harun malam itupun, telah lenyap terkubur bersama jasadnya..


R.D. 2011

0 Chirping sounds:

Posting Komentar