Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 27 Maret 2011

Belum Ada Judul

Minggu, 27 Maret 2011 03.23 , No comments
sementara hitammu itu,
adalah lumur di atas putih..

dan dengarkan aku,
sebelum panggilan itu tiba bagi kita..

***

Ini tentang Dia. De, i, dan a. Dia saja. Sang umat kristus yang amat teguh. Dia adalah seorang pauline, bukan Arian atau Unitarian, apalagi Koptik. Tidak perlu deskripsi fisik yang detail tentang Dia. Yang pasti Dia adalah orang yang membuatku menangis samar-samar saat mendengar para tokoh nasionalis dan muslim liberal berteriak mengusung jargon pluralisme, kerukunan beragama, atau apalah nama bagi topeng gerakan theosofi itu. Berpikirlah sederhana. Aku bukannya kaum separatis yang ingin memberontak pada slogan Bhineka Tunggal Ika di negara ini. Aku hanya ingin Dia selamat, itu saja. Dengan kelembutan hati yang sedikit banyak kukagumi, aku tidak ingin ia menjadi Mother Theressa yang kesekian. Sederhana kan?

Ya, aku adalah seorang fundamentalis muslim. Namun beruntung, karena Dia, aku bukan seorang militan, atau radikal, bukan. Karena aku akan jadi orang yang pertama galau saat mendengar seruan penumpahan darah, karena artinya itu termasuk juga darah Dia. Darahnya tidak boleh tumpah, kecuali jika memang sudah tidak ada lagi pilihan. Namun sebelum itu, aku akan memastikan pedangku terasah tajam-tajam. Begitu tajam hingga barangkali, ia mampu membelah sebongkah bata sekali tebas, dengan muka belahan yang teramat halus. Aku tidak bisa melihatnya terluka, lebih-lebih oleh neraka. Oh, kau tak percaya neraka ya? Maaf, kalau begitu aku baru saja berbicara dengan orang yang salah.


Tentang aku dan Dia. Sebagai sesama makhluk liar di belantara rantau, dan dengan cara yang unik takdir Tuhan membuat kami sedemikian akrab. Akrab, ya kami berdua hanya akrab, itu saja. Hanya itu yang bisa mendeskripsikan kenapa aku sampai bisa berada di ruangan ini bersamanya. Ruangan dengan bau obat pel yang khas. Antiseptik yang ditambahkan dengan kadar tinggi kurasa, hingga baunya seperti obat bius, haha, analisa ngawur. Saat ini Dia terpejam di pembaringan dan aku terduduk gelisah sambil terkantuk-kantuk di sampingnya, jadi tak usah kau berpikir macam-macam. Kista Dia sudah mencapai stadium 4, sudah tidak bisa kujadikan bahan lelucon seperti dulu. Sudah seminggu aku menemaninya di tempat ini. Klise, karena memang hanya aku kerabat jadi-jadian yang ia punya di sini. Yah, aku cuma bisa menemaninya dengan ledekan-ledekan tidak lucu seperti biasanya. Aku sudah menghubungi keluarganya yang memang tinggal di pedalaman, barangkali esok atau lusa mereka telah menginjakkan kakinya di kota ini.

Dalam akuntansi, ada satu keadaan di mana peluang terjadinya kewajiban kontinjensi amat kecil, sehingga ia bahkan tidak memerlukan disclosure dalam catatan atas laporan keuangan. Remote, itu namanya. Dan kata lelaki berjas putih yang rutin keluar masuk ruangan ini setiap harinya, agaknya seperti itulah peluang Dia akan sembuh dari penyakitnya ini. Jika Dia adalah seorang muslimah, maka seperti dhawuh Kanjeng Nabi, aku tak bisa membayangkan lagi berapa banyak dosa-dosanya yang telah gugur oleh penderitaan yang kulihat darinya selama ini. Aku pasrah saja. Tapi, diam-diam aku selalu berdo’a, berharap Tuhan membuat sebuah pengecualian. Aku ingin waktu ajalku ditukar dengan Dia. Aku ingin Dia mendapat kesempatan untuk belajar mengucap dua kalimat syahadat. Itu saja. Irrasional.

Aku baru saja terkantuk, saat secara misterius aku merasakan hawa aneh ini. Aku melihat dengan khawatir ke arah Dia, dan benar saja, detak jantungnya yang terlihat makin melemah. Sejurus aku merasakan cahaya demi cahaya di ruangan ini terdesaturasi. Sepertinya, inilah saat itu. Ajal.

“Tuhan, kabukanlah do’aku..”, aku berujar lirih. Pasrah. Kacau. Tak berbentuk, campur aduk. Sementara desaturasi cahaya itu berubah menjadi sosok dengan 4 wajah.

“aku mohon..Tuhaaannn....”, tanpa sadar aku berteriak, dengan suara yang tercekik. Keempat wajahnya tampak makin jelas. Di kepala, muka, punggung, dan telapak kakinya.

“Tukar ajal kami Tuhan.. Tolonglah.. Aku mohon..”, aku mulai putus asa, saat sosok 4 wajah itu mulai mendekati Dia, menampakkan wajah di punggungnya. Habislah sudah..

Lalu aku mendengar bunyi panjang. Sudah berakhir.

Tiba-tiba ia mendekat kepadaku, menampakkan wajah yang ada di mukanya. Dan tidak lama wajah itu sudah sedemikian lekat dengan mukaku yang coreng moreng keringat. Lalu ia berujar.

“Sekarang giliranmu..”

***

Aku mengerjap. Gemericik air yang sedari tadi kuguyurkan namun hampir tak terdengar mulai meriuh. Aku harus segera menyelesaikan mandiku. Aku belum sholat Asar. Mungkin aku akan mengajaknya seperti biasa. Semoga kali ini Dia mau. Ya, semoga..

0 Chirping sounds:

Posting Komentar