Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 10 Februari 2011

Tentang Jilbab

Kamis, 10 Februari 2011 03.32 No comments

12967277611813588041
Cewek berjilbab itu beda sama cewek pake jilbab.” (Mbak Dewi)

Sudah tidak bisa dibilang sedikit lagi, saya mendengar saudari-saudari saya sesama muslim yang mengungkapkan ketidaksiapannya mengenakan jilbab, sekalipun mengenakan jilbab telah menjadi perintah Allah yang termaktub dalam Al Qur’anul Kariim. Yah, saya paham benar bagaimana pergolakan batin yang terjadi dalam diri saudari-saudari saya tersebut, mengingat bahwasannya jilbab memang merupakan identitas muslimah yang membawa sebuah tanggungjawab moral dan sosial yang benar tidak bisa diringankan. Mereka adalah sampul depan agama Islam, barangkali begitu jika saya boleh mengambil analogi sekenanya. Bagaimana tidak, dengan jilbab, jelaslah mereka telah menegaskan kepada dunia secara bahasa diam, “Lihatlah aku dunia, akulah wanita muslimah!”

Maka sudah menjadi stigma positif yang melekat pada diri wanita berjilbab bahwa merekalah wanita-wanita Islam cerminan, tolok ukur pandangan akan wajah Islam, bahkan secara ekstrem akan dipandang sebagai muslimah kaffah. Dan menjadi Islam kaffah, tentu saja bukan perkara menjadi basah di bawah guyuran air hujan. Susah memang meninggalkan maksiat sebagaimana seorang perokok berat yang mencoba kukut sementara ia hidup di kampung petani tembakau. Alhamdulillah, betapa syukurnya jika memang kita semua telah memiliki pemahaman yang benar tentang perkara ini, dan tidak sekedar taklid agama, terlebih kalau hanya sekedar taklid mode karena barangkali sekarang sedang musimnya bintang layar kaca mengenakan jilbab. Say...a benar mengapresiasi kesadaran akan hakikat tanggung jawab yang muncul dengan menjadi seorang muslimah, atau secara lebih luas sebagai seorang umat yang telah ber-aslamtu ‘Alallah.

Yah, namun saya ingatkan ya, bahwa apa yang tertuang dalam alinea di atas hanyalah beragam bentuk stigma positif. Atau bahasa yang lebih sederhana bisa dijuluki sebagai sebuah ekspektansi, yang bagi Anda semua entah berlebihan atau tidak saya tidak tahu, karena jujur saja saya belum pernah menjadi seorang akhwat. Dan karenanya tentu saja saya tidak pernah merasakan beratnya beban yang mesti dipikul dengan mengenakan jilbab. Jadi di sini posisi saya hanyalah sebagai seorang hipokrit yang berceloteh sekenanya. 

Maka silahklan jika saat ini Anda ingin merajam saya dengan beragam umpatan baik dhohir maupun batin. Namun saya berdo’a semoga kita semua dapat memetik buah-buah hikmah bahkan dari omong kosong seorang hipokrit sekalipun, sehalnya Anda berguru mengenai kelembutan hati pada seorang bos mafia tukang jagal manusia.

Dan sudah pasti sebaris kalimat yang saya kutip di bagian awal tulisan ini memang bukanlah sekedar pepesan kosong peramai suasana. Maka kiranya perkenankan saya sedikit mengutip firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Kariim:

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” {Q.S. An Nuur: 39}

Saya teringat, seorang agnostik pernah mempertanyakan keadilan Tuhan bahwa bila, katakanlah terdapat seorang penggiat sosial namun sayangnya atheis, akan masuk neraka, sementara seorang koruptor muslim, hanya karena ia menyatakan keimanannya dengan bersyahadat menurutnya akan selamat dan masuk ke dalam surga Allah. Maaf jika pembahasan jadi sedikit meluas, bahwa dari sini kita melihat, jika sejatinya hidup tidak hanya sekedar muamalah asal kita berbakti kasih pada lingkungan yang sifatnya riil sementara kita mengesampingkan atau bahkan membelakangkan perkara iman yang sifatnya metafisis, begitu juga sebaliknya. Bahwa ajaran Islam mencakup keduanya, Tauhid dan Muamalah.

Nah, apa saya utarakan di atas hanyalah sekedar analogi. Dan tentu bukan berarti saya mengatakan bahwa tidak akan diterima amal seorang muslimah yang tidak berjilbab, bukan seperti itu. Saya acapkali mendengar pendapat bahwa memakai jilbab secara fisik tidaklah penting jika dibanding mengulurkan jilbab itu sendiri dalam hati sang muslimah. Menjilbabi hati, atau menjaga akhlak dahulu, demikian bahasa ringannya. Namun, sebagaimana analogi saya di atas, saudara, bahwasannya berjilbab secara dhohir, sekali lagi juga merupakan perintah Gusti Allah. Maka akankah kita menjadi kaum yang hanya menjalankan sebagian perintah Allah sedang di saat yang sama kita meninggalkan perintah yang lain, seperti Ahlul Kitab yang menurut kisahnya dalam Al Qur’an menyembunyikan sebagian keterangan dan menyatakan sebagian yang lain? Naudzubillah, semoga kita terlindung dari perkara sedemikian.

Demi mematuhi perintah Allah dan Rasulullah. Ah, saya jadi teringat kisah setelah Rasulullah menyampaikan turunnya wahyu mengenai perintah berhijab (berjilbab) yaitu Q.S. An Nuur ayat 31. Kisah ini saya yakin sudah pernah Anda dengar atau Anda baca dari laman-laman internet. Berdasar riwayat Imam Bukhari bahwasannya Aisyah RA bertutur kisah mengenai kondisi saat itu: “Ketika turun ayat (‘…dan hendaklah menutupkan jilbabnya ke dada mereka…’) maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai hijab” [HR. Bukhari]. Subhanallah, dengan segera. Jujur saja saya mengagumi keimanan para shohabiyyah, yang demi mematuhi perintah Allah, hingga mereka merobek sarung untuk jilbab darurat di kala itu. Begitu cepatnya mereka merespon perintah Allah tersebut. Padahal manakala di saat itu kita memperturutkan anggapan bahwa muslimah yang berjilbab adalah muslimah yang sempurna akhlaqnya, saya rasa hal itu akan menjadi premis universal yang gugur seketika.

Perintah mengenakan jilbab, barangkali tidak jauh berbeda dengan perintah berdakwah yang secara implisit terkandung dalam Sabda Rasulullah, nahnu du’at qabla kulli syai’, setiap orang adalah da’i sebelum menjadi siapapun. Menjadi da’i juga tanggungjawab yang berat, bung, atau neng. Bahkan kita tidak hanya berurusan dengan pandangan manusia, namun juga kebencian di Sisi Allah jika kita tidak melaksanakan isi dakwah kita tersebut. Namun, barangkali merupakan sebuah nasehat yang bijak bahwasannya, tak perlulah rasanya kita terpenjara oleh hal yang saya sebut di atas sebagai stigma positif atau ekspektansi masyarakat tersebut. Learning by doing, begitulah sebuah slogan jawa berujar. Lillahi ta’ala, semoga Allah mempermudah jalan kita semua.

Namun jujur saja, saya tetap menghargai jika sampai detik ini Anda kukuh pada pandangan bahwa dengan berjilbab, atau mengenakan jilbab, seorang muslimah akan didaulat untuk menjadi seorang muslimah yang kaffah, atau paling tidak menjaga perilakunya. Yah, saya paham betul bagaimana beban yang muncul bersamaan dengan itu. Sekali lagi memang berat bukan buatan. Tapi, bukankah memang kita sekalian tengah menuju ke sana? Menuju pada keislaman yang kaffah, jika memang kita termasuk umat yang aslamtu ‘Alallah, serta menuju akhlak yang mahmudah sesuai tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad? Namun ya sudah, saya paham benar, betapa 14 abad yang terhitung sejak akhir zaman kenabian memang sudah lebih dari cukup, untuk sekedar membunuh Tuhan dari kehidupan manusia..

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” {Q.S. Al Ahzab: 59}

0 Chirping sounds:

Posting Komentar