Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Sabtu, 12 Februari 2011

Tentang Islam dan Ibrahim Tiga Satu

Sabtu, 12 Februari 2011 14.24 No comments
http://api.ning.com/files/PxA7b3rWag*BjD*s9GX6Ulr0yPhtVOOZRopFQtO6BZFT6Ix*PgKcZXX8kGC9LxbmQVf5e6KOtDvHMbHRIhLJErUclC9uUP*i/thIslamPeace.jpg

Katakanlah (Muhammad)kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan..” {Q.S. Ibrahim: 31}

Barangkali tulisan ini hanyalah sebuah klise di antara ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan klise yang menghadang mata kalian sepanjang hidup. Haha, tapi tenanglah, kupikir bukanlah sebuah kesalahan membiarkan seorang gila yang berceloteh sekena pusarnya..

Sebelumnya, sebagai sebuah intro, saya ingin mengatakan bahwasannya Al Qur’an betul-betul Kitabullah yang unik. Isi ajaran di dalamnya seakan dijelaskan secara gamblang, secara telanjang, dalam tiap-tiap ayatnya. Kita mungkin tak perlu sampai berkontemplasi saat membaca Al Qur’an sehalnya saat kita membaca syair-syair kontemporer karena saking melangitnya bahasa yang digunakan. Tapi kalau begitu sayang betul, kita jadi belum bisa menikmati, memaknai, sebuah firman secara utuh. Apalagi jikalau kita hanya membaca ala kadarnya, bertadarrus, sambil, barangkali menanti waktu adzan. Sungguh sayang, kita mungkin mendapat pahala, tapi kita mungkin tidak merasakan estetika dari apa yang kita baca. Mungkin ada bagusnya sesekali kita coba mengamati secara jeli tiap jengkal ayat dalam Al Qur’an. Secara detail, layaknya merenungi puisi, tentu tanpa bermaksud mempersamakan derajat firman Allah Yang Agung ini dengan lembah-lembah syair. Kita akan menemukan banyak maksud tersembunyi yang coba Tuhan sampaikan.

Baiklah, kembali pada topik, ada satu bagian yang teramat menarik saat saya membaca ayat ini. Benar-benar menarik. Coba kalian amati, Allah menjelaskan mengenai sebuah hari, yang ditafsirkan sebagai hari kiamat, atau hari akhir, sebagai hari yang tiada berarti lagi jual beli dan persahabatan. Mungkin secara gamblang kita sudah bisa mahfum, oh, memang dahsyat betul kiamat itu. Itu saja? Mungk...in bukan itu saja yang Allah ingin kita tahu. Karena bukan tanpa alasan Allah mengambil jual beli dan persahabatan sebagai perumpamaan di sini. Allah selalu punya maksud, sehalnya Allah dalam tiap cobaan-Nya. Yah, saya memang bukan seorang ulama tafsir, bahkan bukan seseorang yang menekuni bidang studi ilmu tafsir Qur’an. Jadi barangkali bukan kapasitas saya untuk bicara yang muluk tentang tafsir satu ayatpun dalam Qur’an. Tapi perkenankan saya membagi perspektif tentang pesan apa yang saya pahami dari ayat ini.

Saya jadi teringat tentang stigma-stigma negatif yang diberondongkan kaum orientalis terhadap Islam. Bagaimana Islam digambarkan sebagai barbarian yang haus pertumpahan darah. Dan slogan damai Islam hanyalah jargon taqiyya, bualan kosong. Yang paling sederhana saja, saya pernah menonton sebuah film yang berjudul The Kite Runner. Dalam film tersebut kita dapat melihat bagaimana stigma terhadap Islam itu dibentuk. Digambarkan dalam salah satu adegan dalam film tersebut, tentu saja melalui penggambaran yang ngawur, bagaimana biadabnya syari’at Islam berupa hukuman rajam diterapkan di Pakistan. Maka tentu saja muara dari semua ini sudah dapat ditebak, mereka hendak menggiring pandangan mayoritas masyarakat kepada sikap islamophobia atas nama kemanusiaan. Dalam arti, Islam harus diberangus karena ia jauh dari sifat humanis jika hendak dianut sebagai paradigma dasar untuk mewujudkan tata nilai kemasyarakatan yang harmonis.

Selain itu, kita dihadapkan pada kenyataan bagaimana praktek riba dijalankan secara bebas di bawah payung legal hukum negara. Seperti misalnya bunga atas pinjaman yang diberikan bank, ataupun bunga dalam surat obligasi yang diterbitkan negara. Hal yang klise, mungkin, tapi itu telah memasukkan bara api neraka ke dalam perut-perut masyarakat yang terciprat riba. Lantas mengapa pemerintah tidak serta merta menghapus sistem riba yang telah mengakar dalam struktur perekonomian negara ini? Kita kembali dibenturkan pada kenyataan bagaimana peran strategis riba dalam kebijakan keuangan yang dijalankan di negeri ini. Sebagai contoh tingkat bunga dari obligasi yang diterbitkan pemerintah untuk menutupi defisit anggaran dan mengontrol peredaran uang, serta peranan tingkat bunga bank, yang juga menjadi perantaraan praktek riba, dalam menjalankan kebijakan moneter yang ditujukan untuk mengendalikan iklim investasi sekaligus mengendalikan peredaran uang di negara ini. Dan sayangnya, hal inipun kian langgeng, karena para mahasiswa yang memfokuskan studinya di bidang keuangan, mendapatkan doktrin secara tidak sadar melalui apa yang mereka pelajari di bangku kuliah bahwa, mau tidak mau, sistem ini harus tetap dijalankan. Demi keberlangsungan roda perekonomian negara, atas nama kesejahteraan masyarakat.

Maka, dari sedikit apa yang saya uraikan di atas, setidaknya kita beroleh sebuah gambaran, bukan tanpa alasan Allah mengambil perumpamaan persahabatan dan jual beli dalam ayat tersebut. Karena kebanyakan, pengingkaran akan hukum Allah di dunia ini, dilakukan atas dalih kemanusiaan,atau yang dalam ayat yang saya kutip di awal disimbolkan melalui persahabatan, serta kesejahteraan yang disimbolkan sebagai jual beli. Allah mencoba mengingatkan bahwa, he boi, kedual hal itu tidak dapat dijadikan sebagai tolok ukur mutlak bagi penerapan sebuah hukum. Kita tidak boleh semena-mena melanggar “SOP” yang ditetapkan semata-mata hanya berdalih kemanusiaan dan kesejahteraan umat. Karena di hari kiamat, kedua hal itu tak berguna lagi, yaitu hari saat manusia hanya bisa mendongak pasrah ke langit menanti keputusan Allah, mengharap syafaat dari Allah.

Lantas, dengan demikian apakah umat islam tidak mengenal kata manusiawi? Tidak mengenal istilah kemakmuran? Tentu tidak demikian. Maka di ayat yang sama pula Allah menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban tersebut terletak pada perintah Allah yang menjadi salah satu poin utama ayat ini. Yaitu perintah menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan. Melambangkan apakah perintah ini? Kalau seorang anak SD diberi pertanyaan tersebut dan disuruh memilih di antara 2 pilihan jawaban, antara kebiadaban, atau kemanusiaan, tentu dia sudah tahu harus menjawab kemanusiaan. Bahkan jika kita mau mengaitkannya secara lebih jauh dan bebas, tentu saja, tujuan dari perintah ini sudah gamblang, untuk pemerataan kesejahteraan. Namun sebetulnya, jika kita berbicara tentang kesejahteraan, tentu bukan perkara yang dapat seenaknya saja dikaitkan di sini. Poin utama di sini adalah, orientasi utama dari ajaran agama, bukanlah kesejahteraan duniawi, yang sifatnya jasadiyah. Karena jika agama berorientasi pada kesejahteraan jasadiyah, perlu diingat kembali bahwa manusia dapat melakukan apapun demi memperoleh kesejahteraan itu, bahkan sampai saling bunuh, tak usah ditanya lagi. Maka jika demikian, agama justru akan bertentangan dengan kedudukannya sendiri. Namun agama, mengatur batasan aktivitas yang dilakukan manusia dalam meraih kesejahteraan tersebut.

Lebih jauh, kesejahteraan, sama sekali tidak merefleksikan level spiritual (ketaqwaan) seorang hamba terhadap Tuhan. Karena soal kesejahteraan duniawi, seperti jamak diketahui, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, maka Allah mengaruniakannya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Tidak peduli ia kafir atau beriman kepada Allah. Ingatkah bagaimana kesejahteraan kaum ‘Aad digambarkan dalam Al Qur’an, sekalipun kaum ‘Aad adalah kaum yang durhaka?

“Apakah kamu tidak melihat apa yang rabbmu pada (kaum) ‘Ad? (Penduduk) Iram yang memiliki bangunan-bangunan tinggi yang belum pernah diciptakan negeri seperti itu sebelumnya. Dan Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan Fir’aun yang memiliki pasak-pasak yang berbuat sewenang-wenang di negeri itu; maka dia berbuat banyak kerusakan.” {QS Al Fajr 6-11}

Maka siapakah yang tahu jikalau kesejahteraan itu hanyalah sekedar istidraj atas mereka. Mari kita lihat firman Tuhan dalam ayat lain yang termaktub dalam Al Qur’anul Kariim.

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." {Q.S. Al An'aam: 44}

Kita tidak dapat sekenanya mengaitkan kesejahteraan dan ketaatan seseorang terhadap Tuhan. Spiritualitas. Kembali pada sebuah quotes yang cukup populer, bahwa sejatinya kita bukanlah makhluk-makhluk duniawi yang mengalami pengalaman spiritual. Namun kita adalah makhluk-makhluk spiritual yang mengalami pengalaman duniawi. Maka pada hakikatnya, dunia ini layaknya game online. Akan jadi lucu jika kita saling membunuh karena terlalu serius memainkan game tersebut. Kita mesti ingat, ada dunia yang lain di luar game tersebut. Yakni hidup kita sebagai seorang Abdullah.

Dan satu hal lagi sebagai penutup, ilusi terbesar yang tercipta di dunia ini adalah ilusi tentang dikotomi dan perbedaan. Ilusi yang menyebabkan manusia yang merasa dirinya bukan bagian dari orang lain dan orang lain bukan bagian dari dirinya. Karena sejatinya setiap manusia saling terhubung satu sama lain, maka kita tidak dapat mengesampingkan hubungan naluriah tersebut. Maka tidak lantas karena kita hidup sebagai seorang hamba Allah, lantas kita menganut paradigma antisosial. Inilah barangkali mengapa seperti pada ayat di atas, Allah banyak menggandengkan perintah sholat dengan perintah menafkahkan rizki.

Subhanaka Allahuma wa bihamdika. Asyhadu an laa ilaaha ila Anta. Astaghfiruka wa atuubu ilaik..

0 Chirping sounds:

Posting Komentar