Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 10 Februari 2011

Si Ai En Ti Ei

Kamis, 10 Februari 2011 02.59 1 comment


Adalah menjadi fithrah bagi manusia untuk diliputi beragam cinta dalam kehidupannya. Beragam cinta yang dimiliki manusia, tersusun dalam diri manusia itu seperti sebuah bangunan pyramid yang merupakan satu kesatuan cinta. Maka cinta yang terkuat dan terbesarlah yang akan menjadi dasar bagi yang lainnya.

Saya teringat sebuah kisah, di suatu hari manakala cucu Rasulullah SAW dari sahabat Ali bin Abi Thalib Kharamallahi Waj'a dan putrinya Fatimah RA, Husain, mengajukan beberapa tanya pada ayahnya.

Husain bertanya, "Apakah engkau mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya".

Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya".

Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya".

Husain kecil kembali bertanya: "Apakah engkau mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya".

Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?"

Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kakek dari ibumu (Nabi Muhammad Saw.), ibumu (Fatimah RA) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah".

Dan apapun itu, cinta akan menjadi tempat kembali bagi setiap manusia. Karena itulah, banyak orang-orang yang menyebut nama kekasihnya dengan hembusan nafas terakhirnya. Rasanya sudah tidak perlu diperdebatkan bukan, kekuatan dari sebuah cinta jika ia terlanjur merasuk dalam kalbu manusia, walaupun ia sebesar setengah biji zarrah. Maka sudah selayaknya kita menemukan sesuatu yang hakiki dan sesuatu yang benar pantas untuk kita cintai. Sesuatu yang menjadi pondasi terkokoh bagi bangunan piramida cinta kita, dan tempat kita merujuk pada akhirnya. Dan rupanya, adakah kita menemukan tempat kembali yang baik selain daripada haribaan Allah? Maka cinta kepada Allah pun menjadi satu-satunya cinta yang hakiki, yang sepatutnya. Wajarlah Syaikh Ibnu Qayyim menempatkan cinta kepada Allah sebagai yang tertinggi dalam maratibul mahabbah, di atas kecintaan pada Rasul, sesama mukmin, sesama muslim, sesama manusia, dan hal keduniawian yang lain.

Iqra'. Dan biarkan ilmu memandu kalbu. Cinta kepada Allah-lah juru selamat kita itu. Syafa'at bagi kita dalam segala bencana di Yaumil Akhirat, karena memang milik Allah-lah segala syafaat. Jika saat ini kita masih menanyakan apa alasan yang kita punya untuk mencintai Allah, maka ketahuilah bahwa cinta memang tak bersyarat, sementara Allah telah mengaruniakan segalanya bagi kita. Wajar, bila cinta memang tak bisa dipaksakan, karenanya cinta adalah anugerah. Maka marilah kita bersama mendo'a semoga shalat kita, ibadah kita, hidup kita serta mati kita hanya terpersembahkan bagi kekasih dan tempat merujuk kita yang hakiki, Allah Azza wa Jalla. Dan semoga kita mampu mencintaiNya melebihi cinta kita ke atas apapun jua di dunia ini, karena memang Dia-lah yang pantas untuk itu. Amiin.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Q.S. Ali Imran : 14).

1 komentar: