Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Sabtu, 12 Februari 2011

Komet Sozin

Sabtu, 12 Februari 2011 15.18 No comments
http://danyalmim.files.wordpress.com/2010/11/dajjal-black1.gif
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” {Q.S. Al Kahfi: 1-3}

***

Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik..

Aku membuka kedua kelopak mataku dari pelipuran tidur, yang aku sendiri tak tahu berapa lamanya. Jangan kau tanya bagaimana aku bisa tetidur ya, karena aku lebih tidak tahu lagi. Ugh, sindr...oma bangun dari tidur, tetap saja. Tak ubahnya seperti mayat seorang shinobi legendaris yang dibangkitkan secara paksa melalui jurus rahasia Impure World Ressurection dalam cerita di komik naruto yang dulu suka kutadabburi waktu masih bocah.

Ah boi, sudahlah. Rupanya aku baru sadar kalau di sebahagian wajahku ada beberapa memar yang, pantas saja, membuat perasaan bangun tidur kali ini agak sedikit tidak lazim. Dan saat aku meraba tempatku merebah, lebih-lebih saat kedua mataku telah melihat apa yang menjadi atapku secara sempurna, aku jadi agak tersentak. Oh, jadi..ehm. Boi, ini adalah tanah yang lembab berbau amis, yang ya, kau pasti tahu bau apa itu kalau kau adalah seorang mahasiswa kedokteran dan telah memperoleh materi kuliah praktek tentang pembedahan. Agak gelap juga, hanya ada segaris kawanan foton yang tampak iseng menerobos dinding batu dengan permukaan kasar sebagaimana kau jumpai di dinding-dinding gua. Atau mungkin ini gua? Ya mana aku tahu, bisa mengingat penyebab memarku saja sudah bagus. Tapi satu hal, aku memang secara misterius selalu berada di tempat ini setiap kali aku mengalami kejadian yang membuatku memar seperti ini. Yah, memar seperti ini sih masih bagus, ah, sudahlah, kalau aku berkoar lebih jauh lagi, kurasa Allah jadi berkenan menghapus pahala kesabaranku, ya kan?

Aku mencoba menatap ke sekeliling. Senyap. Ya, senyap. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, dan tak menjumpai Abdullah. Abdullah secara harfiah, bukan nama seorang ikhwan. Oh, yah, rupanya aku memang sedang sendirian sekarang. Dulu di sini ramai, boi. Banyak sekali kawan-kawan sebayaku yang juga secara misterius menjadi penghuni tempat ini sepertiku. Yah, sejak aku lulus dari bangku kuliah di tahun 2012.

Dunia berubah secara mengejutkan. Aku pernah membuat status di Facebook seperti ini, “kebangkitan sang antikristus itu seperti kematian. Saat ia tiba, adakah kau siap menghadapinya?”, tanpa sedikitpun menyangka bahwa itu sudah teramat dekat. Yah, jadilah aku dan kawan-kawanku itu di tempat ini, awalnya.

Namun secara bergantian dan rutin kami dibawa ke tempat pelebaman itu. Yah, sehari rata-rata tiga kali, atau kalau kau beruntung bisa hanya sekali meski itu seharian penuh. Oh, mungkin bukan hanya pelebaman, tapi juga pendarahan. Seumur hidupmu kau mungkin pernah membaca di ensiklopedi, atau di kaskus mungkin, tentang alat penyiksaan apa saja yang paling biadab. Guillotine, kursi listrik, gatling gun, atau tiang salib lengkap dengan mahkota duri untuk membuat skenario krusifiksi mungkin? Kurasa mereka punya semuanya. Maka hilanglah satu-satu kawanku, entah mati, atau entah apa lagi yang terjadi dengan mereka. Tapi yah, mati saja masih bagus boi, masih ada peluang menjadi syuhada.

Tentang tempat ini boi, hemm, kau takkan pernah bisa membayangkannya, sambil mengunyah sepotong daging ayam yang gemuk berlumur mentega dan kecap. Untuk mungkin sesudahnya, kau biasa tertawa bersama wanita-wanita bermata birahi yang menggelayutimu seperti seorang papa pada dermawannya, haha. Dunia boi, dunia. Ini juga dunia, tapi kalau hidupmu sebagaimana telah sedikit kusinggung barusan, bisa saja kau tidak percaya kalau kubilang aku sedang hidup di dunia, di planet bumi tepatnya.

“Terpujilah Engkau..
Yang telah menurunkan Al Kitab atas hambaMu,
yang takkan Kau adakan kebengkokan
di dalamnya..”

Kidung cinta di pembuka gua. Lebih agung rasanya ketimbang syair penuh gairah yang konon diucapkan oleh Raja Solomo, dan dinamai sebagai Kidung Agung, seperti dulu pernah kubaca termaktub dalam bibel punya ibuku. Yah boi, apalagi? Saat badan telah terbekas belah jadi dua, dan gigil di atas tanah yang lembab oleh darah. Apalagi orgasmus injuri. Yang rasanya sudah sebilang sekian mili saja, untuk terbulatkan pada mati..

Tidak lama tiba-tiba aku mendengar suara gembok pagar dibuka secara kasar, hingga menimbulkan bunyi gemerincing aduan baja yang cukup berisik. Lalu seperti biasa ada derap langkah gesit seseorang, yang dari bunyinya saja sudah terdengar tidak sabar. Ugh, sejurus saja pria sangar itu sudah berdiri di hadapanku, menutup cahaya matahari yang menelusup sedikit tadi. Hingga suasana kini benar-benar jadi kelam oleh bayangan tubuh gelap gempalnya menyerupai anak Genderuwo yang dulu pernah kusaksikan di Mall kota kelahiranku, pada suatu pameran misteri.

Matanya yang tampak haus darah, seolah berkata, “hei orang udik, sudah waktunya kau di-bully!! Menangislah selagi bisa!! Siapa suruh kau keras kepala menggenggam aqidah agama bodohmu itu!! Bikin susah kau saja kan?”, lalu membuka terali besi ruanganku dengan tangkas. Lalu ia menyeret kasar tubuhku yang penuh luka. Ugh, cara dia menyeret jauh lebih menyakitkan ketimbang kata-kata kasar yang aku bayangkan barusan.

“Ayo cepat!!”, hardiknya seperti orang bakhil yang dilaknat dalam Al Qur’an kepada seorang bocah difabel yang kebetulan nasibnya kurang beruntung dan harus menjadi peminta-minta. Yah boi, sepertinya ini saatnya aku menghadap sang dewa matahari untuk bersaksi..

***

Lelaki tadi melemparku sampai tersungkur dalam ruangan yang berlapis emas di mana-mana, yang dengan memasukinya membuatmu merasa mandi cahaya, lebih gemerlap dari panggung konser Rihanna yang hampir selalu banjir lampu sorot. Dan benarlah, aku mesti menghadap dia lagi. Ah, dan ia tetap memicingkan satu matanya seperti biasa, entah menghinaku atau apa. Orang ini, roman mukanya sejenis tokoh dunia yang termasyhur dengan quotes terkutuknya, “either you’re with us, or you’re with the terrorist..”, yah kau tahu lah siapa dia, sebut saja dia Bunga. Hanya orang ini memang sedikit, ah tidak, sangat bin amat jauh lebih menyebalkan dari si Bunga. Apalagi, seperti sudah kubilang kan, picingan di mata kanannya itu, ihh, benar-benar membuatku gemas, lebih gemas dari saat aku dahulu melihat fitnah-fitnah keji kaum orientalis terhadap segenap muslim lewat runtuhnya WTC. Yah, konyol memang mengingat agama demokrasi yang mereka dakwahkan sendiri bahkan tidak memberikan pilihan. Kebebasan yang disebarkan melalui sentimen terhadap salah satu agama seperti itu tidak lebih baik dari rezim otoriterian. Yah, setidaknya sekarang kita tahu, slogan-slogan mereka tentang kebebasan ternyata hanya omong kosong yang parau..

Ini seperti altar kematian yang kesekian. Aku teringat akan para tukang sihir pharaoh, yang dikisahkan di Surah Thaaha. Dan mereka memang tak pernah bosan, merayuku memohon kematian. Ya, kematian yang kekal, mungkin, di neraka. Entah permainan macam apa lagi yang akan mereka suguhkan. Dalam gatling gun, rajaman, guillotine, kapak, dan tiang salib sekalipun, ah, setahuku mereka bukan Tuhan..

“itulah bimbingan yang lurus,..
untuk memperingatkan siksaan yang teramat pedih
dari sisiMu sendiri..”

“Kau tahu anak muda..”, aih, ia terdengar berbasa-basi, sebuah hal yang teramat langka. Ia tidak langsung membunuhku dengan cara yang tidak membuatku mati, seperti biasanya.

“Aku tuhan!”, ia berseru.

“Aku juga maha pemurah seperti Tuhan Yang kau seru itu!!”, katanya. Memuakkan. Aku tersenyum saja.

“ Maka kali ini aku akan memberikanmu pilihan..”, dan aku bertanya-tanya, perbendaharaan tak tenilai macam apa yang ia punyai untuk membeli aqidahku..

Dan seperti pintu jackpot di kuis-kuis TV milik kaum kapitalis saja. Ah, perempuan-perempuan jelita itu rupanya, mereka muncul dari belakang singgasana si picik. Dengan gaun merah yang tersingkap di paha dan sebagian dadanya. Aku membayangkan wanita-wanita itu seperti sekawanan bohai dewi persik yang menari-nari erotis di hadapanku sambil mendesah-desahkan kata “diam” secara berulang-ulang, masih dalam suasana erotis, seperti dalam video klip duetnya bersama Ahmad Dhani yang judul lagunya, apa ya, aku lupa. Diam-diam secara iseng, aku paham juga bagaimana bisa nenek tua dari suatu daerah itu bisa bergelar Mak Erot, ada hubungan linguistik yang lumayan menggelitik rupanya.

“Bagaimana?”, si picik itu bertanya.

“Aku tahu, kau adalah pemuda masjid yang kesepian dari cinta. Melewatkan malam-malam yang dingin secara mengenaskan tanpa belaian wanita, hanya karena Tuhanmu mengharamkannya. Cih, nestapa dirimu pemuda, nestapa..”, lanjutnya makin persuasif.

Nah, nah, sekarang mereka makin mendekat kepadaku secara intim. Ugh, kau bayangkan betapa halus telapak tangannya, boi. Bayangkan saja Lin Ke Tong atau IGO secantik apapun yang pernah kau bayangkan lah, sedang membelai manja robekan kering panjang di perut dan punggungmu. Atau jangan pernah bayangkan desahan nafasnya yang wangi saat ia tempelkan segelas rum yang segar di pipimu yang camping..

“Ikutlah..”, katanya..

“.. sebagai satu berita gembira
kepada orang-orang beriman, dan
mengerjakan amal saleh, bahwa mereka..
..akan mendapat pembalasan yang baik..”

Sejenak kupejamkan mataku takzim. Biar syahidlah aku menantikanmu, wahai Putera Maryam. Dan biar syahidlah aku menantikanmu wahai keturunan Ishaq, dan Ishmael..

“Hai kau!”, seruku lirih dan sedikit serak. Si picik itu tampak diam, meski aku sempat sekelebat menangkap perasaan kaget dari matanya.

“Asal kau tahu, aku takkan melacur lagi padamu, sayang!”

“jadi, kepalamu masih terbuat dari batu, ya?”, untuk kesempatan yang teramat langka ia tersenyum..

“Hahahh..”, aku mentertawakan sesuatu, entah apa itu. abstrak..

Lalu hening..

“Dan marilah sematkan lagi siletmu itu selintang jasadku!”


***


Antara kesatuan dalam nama Tuhan, kepada kesatuan di bawah panji setan. Mereka membengkokkan kesatuan yang hakiki dan menciptakan perbedaan-pebedaan, lantas menyerukan kesatuan semu untuk memeluk para manusia yang merasa dikhianati dan lelah oleh perbedaan-perbedaan itu. Itulah lakon yang dipentaskan selama berabad-abad. Dan ini mungkin tak akan jadi sebuah lakon perang kolosal, dengan zirah dan kuda perang yang gagah. Sementara keniscayaan adalah derita para Rasul, yang akan jadi sepi tanpa darah. Hahahh, memang bodoh jika bemimpi menyapa Ridwan hanya dengan amalan cangkir-cangkir jangkung wine, whiskey, atau jack daniels,..


R.D. 2011

0 Chirping sounds:

Posting Komentar