Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 10 Februari 2011

hujan-hujanan

Kamis, 10 Februari 2011 11.56 No comments

http://sweetrabbit.files.wordpress.com/2008/11/hujan.jpg


Itu adalah hujan yang rintik, saat melalui seutas jalan, yang mungkin tidak lagi memenuhi prasyarat untuk disebut sebagai jalan. karena ia lebih mirip “tegalan” yang dilipur beberapa helai rumput dan uraian sampah sebagai alat bantu pijak saat tanah merah menjadi becek seperti bumbu ketoprak. Ah sudahlah, kau baru saja membuang beberapa detik untuk membaca ala kadar deskripsi yang tak berfaedah..

***

“kadang aku bingung, man..”

“bingung apaan man?”

“yah, aneh lah, remeh juga sebetulnya. Tapi, hujan-hujan macam begini, aku bisa nekat berbuat apapun, bahkan menerobos hujan deras yang tetesan airnya alamak macam terapi akupuntur, agar bisa berangkat kuliah, atau sekedar berlari ke warung saking laparnya. tapi untuk memenuhi seruan Tuhan, mesti dipikir masak-masak macam dijod...ohkan dengan seorang janda anak lima..”

“yah, kalau makan dan kuliah kan mendesak, boi..”

“tapi..”

“memang kenapa? Hidup ini dibuat sederhana sajalah..”

“ish, sesederhana kau terpeleset ke jurang neraka, man. Itu mau kau bilang..??”

“ehm..”

“kadang aku jadi berpikir, man. Sebenarnya Tuhan kita siapa sih? Dosen killer? Perut yang banjir asam lambung?”

“ya, ya..Allah lah man..”

“gombal,..”

"..."

“aku jadi bingung sebenarnya Tuhan itu apa sih??”

“em..”

“yah, bukan bermaksud kurang ajar menganalogikan Tuhan dengan makhluk sih, man..”

“ya, kenapa man?”

“tapi kadang Tuhan jadi macam Dermawan yang dikurung dalam kandang bernama masjid, yang selalu siap siaga dengan sekantung emas untuk diberikan pada dhuafa macam kita saat mengetuk pintu-Nya. Tapi saat Dermawan itu mengundang kita, untuk sekadar bersilaturrahim, kita melenggang menyepelekannya. Entah kerana upin-ipin, ato ada aja lah, alasan antah berantah tu..”

“ehem..”

“Tuhan memang kelewat Dermawan, ah ya seh, Tuhan memang Dermawan kan..”

“iya..”

“tapi brengsek betul kita. Macam tak tahu adat lah. Sekalipun kita dengungkan tetek bengek apa lah kearifan lokal, etika, soft control, ash, apa aja lah, tapi di hadapan Tuhan, kita macam begundal yang tak tahu terima kasih, tak punya sopan santun..”

“iya sih man..”

“yah, Tuhan Penyayang betul man..”

“hehem..”

“biar kata tiap hari di pesbuk ada ajalah kaum-kaum gak jelas yang mengatai-Nya setan lah, Dzat yang tak bisa apa-apa lah, beragam satwa lah, atau bahkan dinisbikan karena udah merasa gagah dengan sains, tapi ya tetap saja, Tuhan tidak lantas mengeluarkan Undang-Undang yang mengatur tarif oksigen per mol, ya karena bisa saja Tuhan dongkol. Tapi, ugh, Penyabar betul lah Allah tu..”

“yah..”

“ehm..”

“...”

“ahahahh!! Diisi apaan ajaaa ya man otak kita selama ini oleh para kaum orientalis sekuler brengsek tu?? Hoish..”

"hihih.."

"ya, mau apa kita di hadapan Dajjal nanti, ya? jika cinta saja kita tak punya.."

***

Titik dua kurung tutup dalam Bella-Luna yang tak kutahu artinya, tapi rasanya sudah cukup syahdu menutup tulisan ini dalam gerimis. Oh iya, dan Tuhan, percaya janji-Nya, Ia setia..

0 Chirping sounds:

Posting Komentar