Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Sabtu, 20 Februari 2010

Satu Fragmen Tanpa Nama, Sang Wanita Terakhir

Sabtu, 20 Februari 2010 16.10 , No comments
-Rangkaian keping memorabilia, sebilah kisah singkat

In Memorian: Cahyaningtyas Sari H. (28/01/92-24/10/09)
—Sidoarjo, 16 Juni 2009, sebuah permulaan, tentang kisah hujan, Sejenak Saja,....

Sejenak saja,...
Dan sekerlip euforia pada keceriaanmu mesti sirna
Berganti pada deru petang shubuh, dan lusuh hening bangunan asing
Sembilu sunyi pilu

Belum jua kubuang diriku
Mengapa pula keping-keping salju itu begitu tajam menghujam?
Aku tak tahu

Ahh, sejenak saja...
Segala, seperti biasa...

—Malang, 12 Juli 2009, Episode kesakauan, gerbang kebekuan, Senandung Elegi Abnormal

Eksistensimu adalah nukleus bakkutou yang menerus menggerus perjiwaku

Mencemburui tiap liku histori romantismemu yang begitu kental...
aku sadar, air mata itulah yang telah mengukuhkan kekaisaranmu...
Tak terhitung sudah,sesi-sesi netralisasi
Namun sayang,dinamika sandiwara pengharapan ini begitu menawan
Meski monolog-monologku itu terus saja menohokku dalam pola sinus...
itulah candu...
Dan aku hanya pecandu yang menikmati tiap ujung jarum suntik kemanjaanmu,
Yang barangkali semu,...
—Mana peduli aku? Hingga nurani ini kian mati oleh celetuk-celetuk api—

...
Ahh, mungkin ini saatnya aku pergi...
Meski nampaknya hanya sebuah sesi lembah...
dan akan selalu begitu,entah sampai kapan...
hingga aku mampu membuang diriku, dan segala kesakauan atas wujudmu...
...

—Di satu kereta, 27 Oktober 2009, 3 hari pasca, sebuah ironi penghujung

Meresapi warna dunia yang memudar dalam denting elegi akustika...
Lukisan kesunyian yang begitu pekat terhantarkan...
Dan rajam sembilu rindu abadi,...
Bergetar lirih dalam luruh renyuh ironi tanpa suara...

Dan di kala dunia mulai tertawa,
izinkan aku mencuplik memorabilia tawamu yang terbingkai.
Menggetarkan akustika euforia sunyi gerimis....

...
Cinta kita,...
Tak hendak terlukis pada canda tangis kita mengarungi masa yang tersisa...
Bukan pula pada senyum bahagia putra-putri kita menatap ayah bundanya...

Namun cinta kita,...
Membeku pada senyap batu nisanmu...
Dan pada do’a yang tak henti menggetar dari bibirku...

Allahummaghfirlaha, Warhamha, Wa’aafiha, Wa’fuanha,...
Amiin,...
...


R.D. 2009

0 Chirping sounds:

Posting Komentar