Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 03 September 2009

Perbandingan Sistem Bisnis Sang Negara Nippon Raksasa dengan Indonesia, Terkait tata Kelola BUMN Indonesia

Kamis, 03 September 2009 22.03 No comments
By UcRz-WonkEdhyann-SI’09
Sistem bisnis. Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam pembahasan mengenai perbandingan sistem bisnis negara kita tercinta dengan sang negara nippon raksasa,jepang, kurang afdol rasanya jika kita tidak terlebih dahulu menyamakan presepsi kita mengenai definisi dari bisnis itu sendiri, dan juga tentu saja definisi sistem bisnis. Sebuah situs ternama, wikipedia mendefinisikan bahwasannya bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Sedangkan sistem bisnis merupakan prosedur dan mekanisme pelayanan kepada pelanggan dalam pasar tertentu.

Berikutnya,mari kita mulai Jika kita mulai berbicara perihal sistem bisnis yang berlaku di sebuah negara,tentu saja hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah analisa mengenai sistem ekonomi negara tersebut. Terlebih dahulu mari kita menilik sistem ekonomi yang diterapkan di Indonesia. Secara teoretis, Indonesia adalah sebuah negara yang menerapkan sistem ekonomi Pancasila. Dimana yang kita ketahui secara teori bahwasannya sistem ekonomi ini yang membatasi aktivitas dominasi swasta, sekaligus mengerem kekuasaan pemerintah atas kegiatan ekonomi demikesejahteraan rakyat.

Namun dalam prakteknya, kita dapat merasakan eksistensi paham liberalisme yang akhir-akhir ini banyak didengungkan media dengan julukan neolib. Dengan tidak bermaksud melakukan sentimen terhadap suatu pihak, eksistensi neolib memang terasa dengan adanya kasus-kasus swastanisasi BUMN atau yang lebih sering kita dengar sebagai privatisasi BUMN. Dapat kita amati contohnya, yaitu penjualan saham semen gresik oleh pemerintah pada tahun 1991 sebesar 35% yang berlanjut pula pada tahun 1998, lantas penjualan saham PT Indosat sebesar 35% pada tahun 1994 dan kemudian akhirnya dijual secara total kepada swasta pada tahun 2002. Dan bila diukur rata-rata, sebagian besar BUMN yang mengalami privatisasi mengalami kemajuan pesat jika dibandingkan saat pengelolaan dilakukan oleh negara. Meskipun privatisasi dilakukan dengan alasan pengurangan beban negara danusaha restrukturisasi ekonomi negara, ini menimbulkan sentimen negatif masyarakat yang tentunya telah kita ketahui yaitu munculnya anggapan bahwa “perusahaan apapun yang dikelola oleh negara cenderung rugi”.

Dari sini, dapat kita tarik sebuah fakta penting bahwasannya tata kelola atau sistem bisnis yang dijalankan oleh pemerintah atas BUMN dinilai kurang efektif. Yang menjadi pertanyaan besar adalah, di mana letak kesalahan sistem bisnis tersebut? Atau dengan bahasa yang lebih spesifik, apa yang menyebabkan BUMN kurang berkembang dengan tata kelola pemerintah? Mari kita mencoba memecahkan permasalahan tersebut dengan menganalisa sukses strategi bisnis Jepang, misalnya kerjasama Japan Inc.

Jepang. Negara Matahari Terbit ini mengadopsi sistem ekonomi kapitalisme semenjak era meiji. Dan Jepang, pernah mengalami peristiwa yang dikenal sebagai “keajaiban ekonomi jepang” terkait pertumbuhan ekonominya yang begitu pesat pada periode sekitar 1960-an hingga1980-an. Bahkan pada periode 1980-an Jepang mengalami masa keemasan terkait ekspor otomotif dan elektronik ke wilayah Eropa dan Amerika.

Salah satu strategi bisnis yang dinilai sebagai faktor utama penentu kesuksesan bisnis beberapa perusahaan Jepang terutama di luar negeri adalah keiretsu. Keiretsu adalah strategi perkongsian antar beberapa perusahaan besar di Jepang. Diantaranya yang paling dikenal adalah Japan Inc. yang merupakan kerjasama antar perusahaan-perusahaan jepang yang dimotori oleh 6 perusahaan besar Jepang diantaranya Mitsubishi,Mitsui, Dai-chi Kangyo, Sumitomi, Sanwa dan Fuyo. Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk jaringan usaha yang sangat kokoh dalam hal operasional perusahaan, pengadaan bahan baku, pendanaan, hingga distribusi dan pemasaran. Dan bentuk kerjasama ini telah terbukti mampu memberdayakan ribuan perusahaan dari berbagai sektor di Jepang.

Jika saja efektivitas penerapan sistem Keiretsu diterapkan di Indonesia dengan BUMN sebagai lokomotifnya, maka BUMN dapat terorganisir dengan baik dan hampir dapat dipastikan mampu memberdayakan banyak perusahaan dari berbagai sektor. Meski memang sebelumnya di Indonesia pernah terbentuk sebuah korporasi besar dengan nama Indonesia Inc. Namun patut disayangkan bahwasannya korporasi ini hanya menjadi bangunan yang rentan oleh krisis, dan selain itu memang pembentukannya ternyata hanya menguntungkan sebagian kecil kelompok dan memarginalkan kelompok mayoritas termasuk usaha kecil. Dengan kata lain terkesan bahwa Indonesia Inc. hanya menjadi lembaga monopoli ekonomi yang dibentuk atas dasar kebersamaan yang dipaksakan dan bersifat unfair. Maka pembentukan BUMN Inc. diharapkan tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti pada pembentukan Indonesia Inc.

Hal yang patut diperhatikan sebelum realisasi BUMN Inc. adalah bagaimana upaya restrukturisasi BUMN. Tentu saja selain daripada langkah privatisasi yang seperti kita ketahui bermasalah dengan konsep nasionalisme. Yang dapat dilakukan adalah usaha ketat untuk menciptakan BUMN sebagai lembaga korporasi atau perusahaan yang independen (tidak ditunggangi kepentingan politik), terciptanya good corporate government, dan tidak adanya penyalahgunaan wewenang. Dengan kata lain, BUMN harus berubah dari sekedar lembaga birokrasi menjadi lembaga korporasi yang profesional,dan tentu saja kita harapkan nantinya menjadi perusahaan kelas dunia seperti Petronas di Malaysia.

Maka, sistem bisnis Keiretsu yang telah teruji efektivitasnya membentuk usaha berkelas dunia di Jepang, manakala nantinya telah diterapkan di Indonesia, tentu saja kita harapkan mampu mengubah wajah BUMN kita menjadi tidak hanya sekedar lembaga pemerintah yang hanya merelakan diri menjadi sapi perah untuk beragam kepentingan politik. Namun saatnya berorientasi menjadi korporasi tangguh yang tidak selalu berakhir pada privatisasi.

0 Chirping sounds:

Posting Komentar