Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Selasa, 15 April 2008

Selasa, 15 April 2008 13.38 No comments

Some Assumptions

Mind

Baru-baru ini, peristiwa yang cukup mengusik pikiran kembali menghampiriku. Akhir-akhir ini, sepertinya aku menjadi seorang yang sangat emosional. Bahkan, aku menjadi seseorang yang hampir-hampir tidak peduli dengan keadaan keluargaku sendiri. Penutup lubang pembuangan air kamar mandi yang belum tertutup, debu yang melekati meja komputer, alat-alat sholat yang berserakan, dan banyak hal-hal “rumahan” lain menjadi sesuatu yang lumrah untuk terabaikan. Aku menjadi sangat bingung. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Suatu hari (13/4), dalam sebuah keheningan usai Subuh aku merenung sejenak. Mengendus sesuatu yang salah dalam perkembangan kehidupanku akhir-akhir ini. Akupun lantas mencari aspek hidup yang meracuni sebagian besar kapasitas otakku. Sebuah kata terlintas. BLOG. Yah, akhir-akhir ini aku terlalu banyak mencurahkan pikiranku untuk blog. Lantas aku berpikir, apa yang salah jika aku terlalu banyak memikirkan blog.

Sejenak pun melayanglah pikiranku memutar waktu membuka hikayat perjalananku di masa silam. Tidak terlalu panjang, 1 tahun yang lalu. Saat minipolitik masih pekat mencemari pemikiranku. Saat itu, hampir sama seperti sekarang. Aspek-aspek lain dalam kehidupanku menjadi terabaikan. Presentase “saham pikiran” minipolitik saat itu memang menduduki peringkat puncak. Aku banyak menghabiskan waktu mengejar karir dalam minipolitik.

Tiba-tiba aku teringat satu nasehat bijak dari seorang ustadz dalam majelis CPM yang tentu sudah sering kita dengar bersama. Bahwa, “Kalau kita hanya mengejar dunia, kita hanya akan memperoleh dunia (jika kita berhasil). Namun kita tidak meraih akhirat. Kalau kita mengejar akhirat, dunia pun pasti ngikut (turut kita peroleh)”. Artinya, jika kita banyak menginvestasikan waktu kita untuk Allah SWT urusan dunia pun secara otomatis akan dikaruniakan kemudahan. Dalam hal ini, dapat juga dianalogikan, jika kita terpaku pada satu urusan, maka urusan lain akan terabaikan.

Lantas, aku mencoba menghubungkan kedua hal itu. Mencoba mencari filosofi baru bagi kehidupan dunia. Akupun jatuh dalam suatu kesimpulan. Bahwasannya, otak sebagian besar manusia hanya mampu berkonsentrasi pada satu hal. Sehingga secara otomatis, pada saat itu pula aspek-aspek lain akan terabaikan. Kita akan kehilangan kepedulian-kepedulian pada aspek selain hal yang mendominasi “saham otak” kita tersebut. Dari sinilah, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya jika kita terlalu memikirkan satu urusan dunia maka urusan lain akan terabaikan.

Lantas, bagaimana dengan urusan akhirat yang konon katanya dapat memperlancar atau bahkan menggelincirkan urusan dunia. Jika kita membicarakan mengenai urusan akhirat, maka kita dapat berbicara mengenai urusan ketaatan kita kepada Allah SWT. Jika kita taat kepada Allah SWT, maka kita akan menjadikan Al Qur’an sebagai tuntunan hidup kita. Al Qur’an mendidik kita untuk menjadi seorang khalifah (pemimpin) yang bijak di muka bumi. Dan, ingatlah bahwasannya perbedaan seorang pemimpin dan penguasa terletak pada kepedulian yang dimilikinya. Jika kita menjadi seseorang yang peduli pada setiap urusan kita, maka Insya Allah kita akan memperoleh kesuksesan.

Selain itu, dengan memikirkan urusan akhirat, kita dididik untuk menjadi seseorang yang memiliki prespektif ke depan. Sehingga kita akan selalu waspada terhadap apapun yang kelak akan menghadang kita.

Subhanallah…

0 Chirping sounds:

Posting Komentar