Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Kamis, 10 April 2008

Kamis, 10 April 2008 14.42 No comments

Some Assumptions

About Brain’s Mysteries

Pada suatu malam, aku mengalami suatu kejadian yang cukup unik. Malam itu, saya sulit sekali menyerah pada rasa kantuk hingga tengah malam. Saat itupun lantas kuputuskan untuk melanjutkan menghafal Al Qur’an untuk ujian besok. Dan, di tengah kantuk yang sebenarnya melanda dan sulit sekali tertahankan, aku membaca suatu ayat. Setelah itupun, tanpa sadar aku merapalkan ayat tersebut dengan sangat lancar dalam kondisi setengah tidur dan hampir terlelap. Padahal, sebelumnya aku merasa kesulitan menghafalkannya. Bahkan aku dikenal sebagai seorang penghafal yang tidak cukup mahir.

Tertarik untuk membawanya dalam sebuah forum, suatu hari, lantas kubawa fenomena itu ke dalam sebuah diskusi bersama seorang kawan sesama blogger (Pakdhe Ryan Deidara). Kami pun lantas melakukan rerembug untuk melakukan pengkajian berdasarkan teori-teori dan pengalaman-pengalaman terdahulu. Dan opini-opini yang saling kami lontarkan ditemukan dalam sebuah asumsi bahwasannya:

“Manusia memiliki dua otak yang saling berkaitan satu sama lain. Otak kiri yang berfungsi menganalisa ‘data-data’ numerial, logika-logika serta analisa-analisa yang menjaga gelombang otak kita agar tetap stabil dalam gelombang gamma. Otak kanan bertugas mengkoordinasi imaji-imaji seseorang, ingatan-ingatan jangka panjang, bahkan kesenangan demi kesenangan seseorang serta pembangun konsep kreativitas dan nalar seseorang. Bahkan saat seseorang merasa linglung (larut dalam imajinasinya), saat itulah otak kanan memegang kendali atas dirinya.

Saat seseorang berada dalam keadaan mengantuk, umumnya seseorang berada dalam keadaan gelombang alpha(atau lebih dikenal kondisi hypnosis), atau bahkan dalam gelombang teta yaitu saat seseorang tersebut telah takluk dalam mimpinya. Pada kondisi gelombang alpha, kerja otak kiri berkurang. Terbukti dengan kemampuan melakukan analisa-analisa yang semakin berkurang. Akhirnya, otak kananlah yang melakukan dominasi atas pemikiran orang tersebut. Saat itulah, kemampuan menghafal seseorang akan meningkat.

Itulah, dimana menurut fakta yang sering terdengar bahwa generasi Islam terdahulu banyak yang merupakan seorang Tahfidh (penghafal Al Qur’an). Dari sini timbul analisa atas cerita yang pernah didengar dari seorang Ustadz bahwa dulu memang lumrah sekali bagi umat Islam untuk bangun pada malam hari dan beribadah malam seperti Sholat Tahajjud bahkan membaca Kitab Al Qur’an.”

Dari sinilah pembicaraan kami berkembang hingga terhubung pada sebuah permasalahan baru yaitu apakah mungkin otak kanan dan otak kiri bekerja bersamaan. Dari sini, lantas kami menghubungkan pada suatu aspek yaitu matematika, dimana menurut pendapat seseorang yang pernah diungkapkan dalam artikelnya di surat kabar bahwasannya sebuah pembelajaran matematika yang benar adalah menggunakan penalaran. Dari sini, kami mencoba merumuskan jika nalar atau yang dekat dengan imajinasi adalah “bawahan” otak kanan. Sedangkan otak kiri berusaha mengembangkan sebuah konsep yang telah disusun otak kanan berupa penalaran tersebut. Artinya, kami berasumsi bahwasannya otak kanan dan otak kiri suatu saat dapat melakukan suatu kerjasama dan hal itu merupakan suatu hal yang lumrah dimana otak kanan diibaratkan sebagai pembuat konsep sedangkan otak kiri bertugas mengembangkan konsep tersebut.

Lantas, setelah itu kami membicarakan masalah baru yang menyeruak di tengah kami. Yaitu, bagaimana dengan seseorang yang dalam kenyataannya mengalami suatu kesulitan mengkombinasi kemampuan otak kanan dan otak kiri. Saat itu kami mengambil contoh konkret yaitu diri saya pribadi yang memiliki suatu anugerah kemahiran dalam menjalankan taktik hitung-menghitung matematika namun kurang mahir dalam hal melakukan teknik hafalan. Dan kami pun terlibat dalam obrolan yang cukup serius, mengeluarkan hipotesa demi hipotesa mengenai hal ini.

Kami pun mulai mengibaratkan otak kanan menguasai 2 elemen yaitu kayu dan api sedangkan otak kiri menguasai 2 elemen yaitu air dan udara. Suatu saat 2 fragmen ini dapat saling mendukung dengan mudahnya seperti hubungan yang terjadi antara angin dan api. Dimana angin dapat membuat api semakin besar. Namun ada kalanya hubungan keduanya berlangsung secara sulit. Seperti hubungan antara air dan api. Mereka akan cenderung untuk saling bertarung. Air memadamkan api, atau panas api menguapkan air. Jarang sekali menemukan keselarasan mereka dalam bentuk setitik air hangat. Namun, kami tetap berpendapat, bahwasannya sesuatu yang saling berlawanan harus dapat berlaku seperti yin dan yan. Mereka berbeda, namun dapat membentuk sebuah keselarasan dalam satu lingkaran, dan mereka peduli satu sama lain, terbukti dengan adanya titk hitam di bagian putih dan sebaliknya.

Selain itu kami juga memiliki asumsim lain mengapa seseorang yang mahir dalam bidang perhitungan (bidang otak kiri) lemah dalam bidang hafalan (bidang otak kanan) dan mungkin sebaliknya. Kami berasumsi bahwa orang yang mahir dalam bidang perhitungan atau dengan kata lain terbiasa menggunakan otak kiri, akan menggunakan otak kiri saat menghafal. Logikanya, belum tentu seorang yang memang membidangi pengembangan konsep mampu untuk merancang konsep. Demikian yang berlaku pada otak.

Setelah itu, obrolan kami beranjak kepada suatu masalah baru, yaitu pengalaman pribadi mengenai kebiasaan kami yang terlihat lumrah pada saat sedang berpikir. Dimana kami sering melakukan gerakan menjentikkan jemari kedua tangan kami, atau menggerakkan kaki kami. Dan, pada saat itulah, kita lebih mudah melakukan kegiatan berpikir keras. Kamim pun lantas memulai pengembangan hipotesa kami dengan menghubungkannya pada aspek asupan tambahan pada otak. Dimana saat otak kiri bekerja lebih keras untuk melakukan analisa-analisa dan pengembangan konsep logika, secara otomatis ia akan memerlukan asupan nutrisi lebih banyak. Dan dengan gerakan kaki atau jentikan jemari, aliran darah akan lebih lancar. Termasuk aliran darah ke otak.

Nah, keluar dari permasalahan inilah, ‘otak kanan’ kami mulai membicarakan permasalahan yang sifatnya lebih ‘menjerumuskan’. Kami mulai membicarakan mitos mengenai seseorang yang terlalu banyak melakukan (maaf, selanjutnya akan disebut dengan “aspek X”) onani akan menjadi bodoh. Atau dengan kata lain linglung, kata teman saya itu. Kami pun memulai konsep hipotesa kami dengan satu pendapat bahwasannya saat melakukan “aspek X”, banyak bagian tubuh seseorang yang mengalami kontraksi. Selain itu, otak kanan kita akan bekerja lebih keras menyiapkan “materi-materi”. Akibatnya, asupan makanan melalui darah pada otak kiri akan berkurang karena aliran darah terbanyak akan dipusatkan pada bagian-bagian tubuh yang berkontraksi serta otak kanan kita.

Satu sesi obrolan baru dibuka kembali oleh pertanyaan teman saya itu, yaitu mengenai seseorang yang mengalami gangguan jiwa. Awalnya saya berpikir hal itu berkaitan dengan psikologis seseorang. Namun setelah saya pikirkan ulang, hal itu memiliki kaitan dengan permasalahan otak kanan dan otak kiri. Sebagian besar orang yang menderita gangguan jiwa, awalnya dipicu oleh masalah yang bagi seseorang tersebut terlaru berat sehingga iapun jatuh dalam depresi yang berlebihan sehingga ia mengalami sakit jiwa. Nah, jatuhnya seseorang dalam depresi, sebagian besar dikarenakan seseorang tersebut terlalu memikirkan suatu permasalahan tanpa berusaha menyelesaikannya. Artinya, otak kanannya terus berimajinasi atau dengan kata lain terus menyusun konsep, tanpa ada pengembangan konsep dari otak kiri. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan antara kerja otak kanan dan otak kiri secara berlebihan. Sehingga terjadi gangguan pada otaknya terutama pada otak kirinya.

Dari sini, obrolan semakin ‘menggila’ oleh beraksinya otak kanan. Ini dimulai dari kisah kawan saya mengenai suatu kejadian dimana suatu hari ia melihat ada seorang yang menderita gangguan jiwa dan ia tengah melakukan “aspek X” di tepi jalan sambil tertawa. Gila, bukan? Dari sini kami mulai merumuskan asumsi baru bahwasannya otak kanan orang yang mengalami gangguan jiwa tidak memiliki masalah pada otak kanannya. Karena itu, menurut kami seorang therapist kejiwaan melakukan bantuan penanganan psikologis untuk otak kirinya (karena kami mengasumsikan masalah utama ada pada otak kiri) dengan bantuan otak kanannya yang masih berfungsi dengan baik. Karena menurut asumsi dasar kami mengenai system kerja otak, bahwasannya otak kanan bertugas menyusun konsep-konsep dasar pemikiran dan otak kiri melakukan pengembangan-pengembangan.

Namun, masalah yang belum terselesaikan adalah bagaimana bentuk metode yang dapat digunakan para therapist kejiwaan untuk memberi bantuan psikologis bagi orang yang tengah mengalami masalah dengan kejiwaan mereka. Jika anda memiliki pendapat, silahkan posting comment ke blog ini.

Yaa Allah, Subhanallah… Walhamdulillah… Walaailahailallah… Huallahuakbar…. Betapa sempurnyanya engKau Yaa Allah. Maha Pandai engKau Yaa Rabb….

0 Chirping sounds:

Posting Komentar