Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Jumat, 25 April 2008

Di Ujung Jalan

Jumat, 25 April 2008 13.20 No comments

By: Reza Darmawan
“ … Berita terkini. Tadi siang sekitar pukul 09.00 sekretariat organisasi IYC atau Islamic Youth Community diluluhlantakkan oleh sebuah ledakan bom bunuh diri yang diduga dilakukan oleh salah seorang oknum dan diduga menyamar sebagai pengunjung. Hingga kini belum diketahui apakah pengeboman ini ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa pengeboman sebelumnya yang dilakukan komplotan St. Yohanes…”

***

Seorang pria berperawakan tinggi besar terlihat serius memperhatikan berita itu. Layaknya seorang pengamat lukisan yang tengah mengamati lukisan Pablo Picasso. Sangat serius. Ia seolah tak mendengar lagi suara Mpok Iyem yang tengah mengaduk kopi. Ataupun suara mang Aris dan pak Anto yang sedang bermain remi dengan sesekali diselingi “kata-kata mutiara” dan “panggilan-panggilan mesra”.

Namanya Daroji Sukarta. Orang-orang sering memanggilnya Bang Karta. Baru tiga minggu yang lalu ia menetap di kampung ini. Kampung Kircon. Ia mengontrak rumah di kontrakan milik Haji Nasir, juragan kontrakan paling beken di kampung. Dia memang orang yang hidupnya nomanden (berpindah-pindah tempat tinggal). Maklum, ia sering berpindah-pindah tugas. Menurut ceritanya, sekarang ia dipindahtugaskan di salah satu cabang perusahaan tempat ia bekerja yang terletak di sekitar daerah kampung ini. Perusahaan apa, ia tak pernah cerita. Ia tak mau cerita.

“Itu privasi.”, begitulah jawabannya selalu, layaknya seorang artis kala menghindari gossip, manakala kami mengajukan pertanyaan tentang bidang profesinya. Hhhh…

Tapi walau ia adalah seorang newcomer, sumbangsinya terhadap kampung ini sangat besar. Ia adalah salah seorang aktivis gereja yang cukup perhatian dengan kondisi para pemuda di kampung itu.

“Bang, nih tehnya. Silahkan diminum”, kata Mpok Iyem membuyarkan konsentrasi Bang Karta.

“Eh iya Mpok. Matur nuwun.”, Kata Bang Karta.

“Ih Bang, kalau ngeliat beritanya jadi ngeri banget ya Bang.”, kata Mpok Iyem.

“Ya sih Mpok. Tapi yang paling saya sesalkan adalah pelakunya. Ia masih muda. Dan dari namanya, kita tahu bahwa ia orang beragama. Apakah dia sadar bahwa tindakannya dapat mencoreng nama agamanya? Itulah yang membuat saya prihatin dengan anak muda sekarang.”, Bang Karta berasumsi.

“Ya sih!”, ujar Mpok Iyem sembari diiringi anggukan kepala pertanda bahwa ia sependapat dengan ucapan bang Karta.

“Bang, di Indonesia sih, yang kayak gituan udah sering terjadi. Indonesia tuh, kalau boleh dibilang surganya para teroris.”, kata mang Aris

“Iya Bang. Aduh, rasanya udah puyeng kepala aye mikirin yang gituan.”, sahut pak Anto yang hanya dibalas dengan secarik senyum oleh bang Karta.

“He, yang paling disayangkan tuh, IYC kan organisasi islam yang sumbangsi dakwahnya sangat tampak di negara ini. Bahkan jika dibandingkan denngan partai-partai yang notabene muslim sekalipun.”, Cak Tono, yang sedari tadi menunjukkan ekspresi diam membatu tiba-tiba ikut urun rembug.

Bang Karta meneguk teh pesanannya barang tiga teguk saja. Masih terlihat uap teh yang seolah ingin mengusir dinginnya udara malam yang menyelimuti diri Bang Karta. Masih terlihat kekosongan dalam raut wajah bang Karta. Ia seolah tengah muram memikirkan sesuatu. Sesuatu entah apa itu.

Setengah jam kemudian bang Karta pergi meninggalkan warung Mpok Iyem. Tentunya setelah ia membayar teh yang diminumnya. Iapun berjalan pelan menyusuri jalanan yang lengang. Masih terasa kehangatan teh yang ia minum tadi. Lebih hangat dari jaket wol sekalipun.

Ia pun kembali teringat berita itu. Senyum simpul terlihat menghiasi raut wajah bang Karta. Secarik gumam terselip dalam hati bang Karta. Apa itu. Entahlah. Tanyakan saja padanya.

***

Tiba di kediamannya bang Karta segera menuju meja di seberang ruang tamunya. Ia segera merenggut gagang telepon dan menekan nomor seseorang yang ingin ia hubungi. Ia duduk menyandarkan hati dan dirinya. Tatapnya menyapu seisi ruangan. Semua terlihat rapi meski penghuninya hanya satu orang laki-laki.

“ Dokter Handy, saya Karta. Saya ingin anda bersiap untuk operasi bulan depan. Baiklah, terima kasih.”, ia meninggalkan pesan dikarenakan Dokter Handy-seseorang yang ia hubungi-tidak berada di tempat.

Sejenak ia membuka laci di bawah meja. Terlihat potongan-potongan kabel sisa proyeknya. Ia pun memungut gunting yang akan digunakannya untuk memotong serat kain bajunya yang keluar. Sejenak tatapnya melabuh pada tumpukan kardus yang hampir menutupi jendela teras rumahnya. Sehingga, tak heran jika dilihat dari luar, rumah itu terlihat seperti gudang.

“Ah, hanya barang-barang produksi perusahaan. Saya mengkoordinasi pemasarannya. Dan karena gudang perusahaan sudah penuh, ya, terpaksa saya bawa pulang. Biarlah, walau merepotkan. Loyalitas, Pak.”, yah, hanya sekelumit kata-kata itu yang memberitahu kami tentang kardus-kardus itu. Dasar Bang Karta.

Ia lantas menuju ke teras rumahnya. Menatap kemilau langit malam. Begitu indah gelap ia rasakan. Namun entah mengapa malam ini terasa begitu sepi baginya. Dan seketika resah merajut kalut dalam nurani bang Karta yang tak hentinya bergejolak. Entah resah apalah mungkin hanya bang Karta yang tahu. Dengan sederhana nurani bang Karta berpuisi:

Dingin yang menjengkal kayu yang
Melekati sekujur raga yang penuh luka
Jiwaku tergetar mengikuti ketaatan
Untuk mulai menggerakkan kedua belah tangan

Satu demi satu kegelapan berguguran
Diiringi gugur remah-remah dedaun kering
Tanpa sanggup terbayar oleh panggilan surga
Maupun larik-larik simfoni berlapis embun

Kulukis kubah kehitaman ini
Dalam seutas palung yang terpendam dalam
Sekelebat bayang mengumbar firasat
Aku, seberkas nama, hanya

Hanya sepi yang nikmat kulahap
Segalanya begitu pengap

Sejenak ia merasakan desah nafas-nafas malam membelai raganya. Membawanya terlarut melayangkan pikirannya. Semakin larut…larut…dan ia terhanyut dalam kegelapan pekat.

***

Kini ia melayang. Melayang tinggi. Di suatu tempat yang mirip surga. Ia dapat menatap arak awan yang seolah menyambut kedatangannya ke dunia itu. Ia pun melayang jauh layaknya peri surga. Mengepakkan sayap semunya. Menuruti desau angin yang berlarian. Sembari membelainya pelan. Terlihat olehnya pepohonan menari menggeliatkan gairah kehidupan. Juga ilalang-ilalang bergoyang riang seakan ungkapkan inginnya tuk melayang.

Sejenak kemudian, tatapnya menjerat padang tumbuhan bunga yang menghampar. Aroma semerbak merayu indra penciumannya. Ia pun lantas melayang rendah dan turun dengan maksud untuk merenggut salah satu bunga tersebut. Sudah terbayang kala kelopak lembut bunga-bunga membelai syahdu jemarinya.

Namun, tatkala ia menginjakkan kaki, ia merasakan tanah yang diinjaknya meretak. Seolah tak rela gelimangnya dalam syahdu surgawi mimpi. Dan ia lantas terjatuh ke bawah. Ia pun terjerembab. Saat ia bangkit, ia merasakan bahwa ia berdiri diatas sebuah tempat yang hampa. Dan sejauh mata memandang ia hanya mampu menatap kabut yang pekat.

“Di mana aku sekarang? Di mana?”, ronta bang Karta lirih.

Hanyalah keheningan yang seolah menjadi jawaban atas ronta bang Karta. Bang Karta mencoba bangun namun ia tak sanggup. Tiba-tiba, dari kepungan kabut muncul sesosok makhluk tinggi besar yang mengenakan jubah bertudung hitam.

“S..sss….siapa kk..kau?”, tanyanya.

Sosok yang dingin itu hanya membisu. Ia terus saja melaju mendekati bang Karta. Tiba-tiba ia berhenti. Kini ia berada sekitar 30 cm di hadapan bang Karta.

“A..apa mm…maumu?”, tanyanya sambil terus berusaha membangunkan dirinya sendiri.

“Diam Kau!!!”, akhirnya ia mulai berbicara, meski aku yakin itu bukan kalimat pembuka yang bagus.

“Kau diam dan saksikan ini!”, lanjutnya.

Tiba-tiba terlihat suatu pemandangan yang mampu membuat bang Karta hanya bersimpuh dan membisu. Pemandangan yang membuatnya bergetar dilingkup sesal. Ia melihat “murid-muridnya” merangkak ke arahnya. Mengerang bagai sekumpulan fakir memohon belas kasih seorang saudagar. Ia melihat mereka semua. Ia mengamati wajah mereka satu per satu. Ia masih mengenalinya. Naosy, Michael, Jean, Paul, dan yang baru saja tewas tadi siang, muridnya yang berasal dari Jogja, Frans. Meski kini ia melihat wajah mereka telah cukup hancur.

“Tolong kami!!! Toooloongg! Aahhh!”, teriak salah satu dari mereka sembari mencengkeram kaki bang Karta yang masih dilingkup getar.

“Mana surga yang Kau janjikan pada kami selama ini? Maaanaa?”, teriak salah satu yang lain sembari mencoba meraih raga bang Karta.

“Tiiidaaakkk! Pergi kaliaaan! Pergi! Siapa kalian! Aku tidak mengenal kalian!”, teriak bang Karta sambil mengibaskan cengkeraman mereka dari raganya.

“Kau lupa pada kami? Kau lupa pada pengorbanan kami manusia biadab?”, teriak salah satu dari mereka yang dikenalinya bernama Frans.

Dan kemudian muncul sesosok insan yang wajahnya seolah akrab dengannya. Ia pun teringat! Itu adalah dirinya dengan wajah aslinya. Yah, memang selama ini selain hidup nomanden, ia selalu merubah-rubah wajahnya dengan bantuan Dokter Handy untuk mengelabui Polisi. Sesaat sesudahnya, ia merasakan wajahnya meleleh. Mencair. Uhh…

“Oooaaaahhhh!!!”, ia meronta kesakitan.

“Rasakan itu! Ingatlah apa yang kau lakukan!”, kata ‘dirinya yang lain’ tersebut.

“Hai manusia laknat! Apa Kau sadar dengan apa yang kau lakukan selama ini?”, sosok bertudung itu menggelegarkan sekelumit kata yang dengan segera memecah kekalutan batin Bang Karta.

“Baiklah! Aku mengakui semuanya! Aku memang melakukan semua ini! Tapi kau bisa apa? Hah! Aku sama sekali tidak takut denganmu!”, kata bang Karta.

“Masih sombong juga, ya? Dasar manusia! Baiklah jika kau yang minta!”, ucap makhluk bertudung itu.

Tiba-tiba sebuah kegelapan pekat bertiup berusaha membawanya. Ia pun berusaha terbangun dari mimpi itu. Namun ia seolah terjebak. Terbelenggu. Dan tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ia menyerah dalam pasrah. Dan bang Karta pun semakin terbawa…melayang… pada kegelapan yang sesungguhnya.

***

“…Berita terkini, dini hari sekitar pukul 00.05, sebuah ledakan terjadi di sebuah rumah yang berlokasi di daerah Kampung Kircon. Diduga ledakan ini dipicu oleh bom-bom rakitan yang disimpan di rumah ini. Baru-baru ini diketahui, rumah yang menjadi TKP atas kejadian ini adalah rumah kontrakan yang ditempati oleh buronan polisi untuk kasus-kasus terorisme yang akhir-akhir ini terjadi, St. Yohanes alias Daroji Sukarta…”
Ah, Bang Karta…

0 Chirping sounds:

Posting Komentar