Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Sabtu, 25 Agustus 2018

Perilaku dan Identitas

Sabtu, 25 Agustus 2018 02.48 No comments
Apakah ada hal kecil saja yang bisa kita lakukan untuk mencegah konflik horizontal? Mungkin ada. Setidaknya satu. Jaga perilaku. Mind our attitude. Dalam masyarakat di mana sentimen identitas menjadi teramat kuat, masing-masing orang akan dipaksa menjadi etalase berjalan atas identitas yang melekati pribadinya. Apakah itu ras, agama, afiliasi kelompok, atau apapun.

Kegagalan seorang individu yang membawa identitas tertentu dalam menjaga perilakunya, tak pelak akan memberikan tamparan sangat keras pada identitas yang dipanggulnya. Tamparan stigma. Akan gampang sekali menemukan tudingan-tudingan semacam, "katanya agama damai, tapi kalau di jalan raya aja ngawurnya gak ketulungan, gak punya etika", ketika di jalan raya ketemu ibu-ibu jilbaban yang naek motor sepulang pengajian, ga pake helm, lewat di atas trotoar pula. Apalagi motornya matic dengan lampu sein nyala kiri tapi belok kanan. Nais.

Dan yang terbaru, kita belajar dari kasus penabrakan pengemudi motor di Solo tempo hari. Kasus ini terbilang sadis dan di luar nalar, terlebih hingga menelan korban jiwa. Pelaku yang berasal dari ras, agama, juga kelas sosial tertentu sudah pasti juga akan mendaratkan bogem mentah kepada identitas yang melekat pada dirinya. Bisa dicek kolom komentar di media yang memberitakan peristiwa ini. Komentarnya ya seputar, "wah dasar kelakuan aming dan ameng, mentang-mentang tajir melintir, dikira bisa seenaknya ngilangin nyawa orang gitu aja, terus beli hukum pake duit."

Begitu saja. Dan stigma yang berangkat dari generalisasi ini akan menggelinding terus seperti bola salju liar yang makin membesar seiring waktu. Padahal tidak semua orang, siapapun itu yang hendak ditembak dengan sebutan 'aming dan ameng', punya perilaku seberangasan pelaku penabrakan di Solo. Tapi butir peluru terlanjur lolos dari larasnya. Merobek lalu melesak ke jantung mangsa. Dan kesalahan kita berperilaku adalah pelatuknya.

Begitulah kura-kura. Menjaga perilaku, memperhatikan hak-hak sesama sebagai bagian dari kesatuan komunal, setidaknya mengurangi bahan bakar yang di era media sosial ini bisa dengan gampang dituang ke dalam sekam sosial yang menghangat oleh bara sentimen yang berdiang di tumpukannya. Sa juga masih belajar ini. Belajar banget. Banget.

Minggu, 10 Juni 2018

Suramadu

Minggu, 10 Juni 2018 02.53 No comments
Perjalanan dari bandara Juanda ke rumah tadi, kami diantar oleh driver taksi bandara yang berasal dari madura. Hampir saya tidak percaya bapak driver ini orang madura karena beliau bicara bahasa jawa krama inggil fasih sekali. Apalagi sebelum menjalani profesi saat ini di surabaya, beliau sempat malang melintang selama 7 tahun menjadi supir angkot di kota seribu angkot alias buitenzorg. Dengan unggah ungguh sebagus itu, dugaan saya bapak ini adalah alumni pondok.

Menjadi driver taksi bandara di Juanda, seringkali beliau dapat order mengantar penumpang hingga ke ujung Madura, Sumenep atau Pamekasan misalnya. Nah karena bapak driver ini asli Pamekasan, alias orang tua dan sanak keluarganya banyak bermukim di sana, kesempatan mengantar penumpang ke daerah sekitar kampung halaman jelas tidak akan disia-siakan tanpa menyempatkan diri bersilaturrahim. Kesempatan-kesempatan seperti inilah yang agaknya saya tangkap membuat beliau merasa ayem menjalani profesinya saat ini, jika dibandingkan petualangannya mbabat alas di bogor dulu.

Jika mau ditelisik lebih jauh lagi, maka tidak dapat dipungkiri bila konektivitas Pulau Madura dengan saudara seprovinsinya di Pulau Jawa ini adalah andil dari didirikannya Jembatan Suramadu. Jembatan yang menjadi jembatan terpanjang di Indonesia ini, mampu menggantikan fungsi kapal feri yang dulu menjadi satu-satunya alternatif moda transportasi untuk keterhubungan kedua pulau. Fyi, waktu balita dulu saya pernah diajak Bapak naik kapal feri nyeberang ke Madura ini, dan hasilnya Ibu di rumah jadi kzl karena aing pulang dalam keadaan geliseng kaya ubin bengkel, ngahaha. Lha sekarang, kalau situ niat iseng sekadar ingin mbolang dari surabaya ke madura terus balik lagi, naik motor aja jadi, asal kuat bayar dan kuat menahan arus angin laut biar ndak terpental miber waktu nyetir.

Konektivitas, bagi wilayah ekonomi berbasis kepulauan, tak pelak memang hal yang tidak bisa ditawar pentingnya. Isu ini pernah diangkat oleh Eiichiro Oda melalui karakter bernama Tom si manusia ikan, ketika ia mengisahkan petualangan topi jerami di pulau Water 7. Water 7 adalah pulau di perairan Grand Line dengan komoditas perekonomian utama berupa konstruksi kapal.

Malangnya, pulau yang mengingatkan kita pada kota Venesia di eropa ini, harus menelan keganasan perairan Grand Line berupa Aqua Laguna, badai besar tahunan yang membawa ombak ganas raksasa. Ganasnya Aqua Laguna mampu menaikkan level permukaan air laut di pulau Water 7 setiap tahun hingga pulau ini terancam musnah terbenam sebagaimana legenda Atlantis. Aqua Laguna juga menghajar habis-habisan perekonomian Water 7 oleh karena transportasi kayu dari pulau lain sebagai bahan utama produksi kapal turut tersendat. Akhirnya, enam dari tujuh galangan kapal yang menjadi ujung tombak perekonomian Water 7 harus tumbang. Kecuali satu, yakni galangan kapal milik Tom si manusia ikan, Tom's Workers.

Tom's Workers bertahan dengan satu mimpi besar: konektivitas antar pulau. Ia ingin merancang sebuah moda transportasi alternatif, untuk menggantikan kapal yang mudah tumbang jika diterjang Aqua Laguna. Tom, bersama kedua murid pekerja di galangan kapal miliknya, Cutty Flam dan Iceberg, ingin menciptakan kereta api yang mampu melaju kokoh menembus ganasnya Aqua Laguna. Sebuah kereta api yang melaju di atas air! Tom bersikukuh menekuni mimpinya ini dengan nafas terengah-engah sembari menahan desakan dari pemerintah dunia yang terus merongrongnya karena dianggap punya catatan kriminal sebagai pembuat kapal laut milik Roger, sang raja bajak laut. Oleh karena Tom sadar, jika keterhubungan antar pulau tidak segera diupayakan, maka Water 7 juga pulau-pulau di sekelilingnya akan tumpas begitu saja oleh sebab kelesuan ekonomi, bahkan sebelum dilumat tenggelam oleh Aqua Laguna.

10 Juni 2018 ini, tepat 9 tahun sejak Jembatan Suramadu dulu diresmikan oleh Pak SBY. Tepat di tahun politik 2009 yang menjadi masa transisi menuju dua periode pemerintahannya. Yang baik tetaplah baik, dan kini jembatan ini menjadi infrastruktur monumental tidak hanya karena kemampuannya menjembatani pulau dan pulau, namun juga mendekatkan hati dan hati~

#TerimaKasihPakBeye

Minggu, 20 Mei 2018

Surat Bertanda Tanya

Minggu, 20 Mei 2018 22.47 No comments
Aku ingin bercakap denganmu sebagai manusia. Sementara aku terpenjara dalam jasad yang fana. Dan tubuhmu telah tercerai berai menyisakan tanda tanya. Di sepanjang jalan berlumur cerca dan prasangka. Menuju mahkamah kesejatian yang tak menyisakan ruang bagi dusta dan sandiwara.

Minggu, 22 Oktober 2017

Menumpang Gerbong Kereta

Minggu, 22 Oktober 2017 03.23 No comments

lelaki berpakaian lusuh,
dengan bebat yang terikat
meredam laparnya
bermodal sekena receh di sakunya
berdesakan menumpang gerbong kereta

aku melihat matanya,
tulus berbinar penuh percaya
aku tak hendak menyapa,
sebab aku
di sela-sela jam kerja
menyapu gerbong kereta

yang mulia pandita nan bijak bestari
berseru lantang di gerbong depan
belakang lokomotif
tentang keadilan dan mimpi-mimpi
cerah di hari depan

tentu tak lupa
sepotong kue hidangan di meja
dan sekian lembar tiket percuma
sebagai imbal jasa

aku mencatat,
dan membuat sedikit perhitungan-perhitungan
ala kadarnya
di sela-sela jam kerja
menyapu gerbong kereta

ke mana kereta melaju?
aku berpikir sambil lalu
di tengah himpitan dunia orang dewasa
tagihan-tagihan, daftar hutang, dan batas-batas mati
di sela-sela jam kerja
menyapu gerbong kereta


R.D. 2017

pic credit: Steve Shreve - unsplash.com

Senin, 13 Februari 2017

Pulang

Senin, 13 Februari 2017 02.12 1 comment
pic: Maxwell Young - unsplash.com


sementara kita, hanyalah seutas tanaman jalar
yang tak semestinya tercerabut dari akar

adalah gugur detak detik jam
melabuhkanmu ke entah berantah
berpilin dan bersipagut dengan rupa-rupa takdir

masa lalu bukanlah hantu
dengan suara berderit derit yang menggapai gapai namamu
menebus lunas jarak itu
adalah tentang menghirup kembali denyar denyar kemanusiaanmu



R.D. 2017