Dunia tidak berhenti berkelana, sebab manusia sebagai penunggangnya tak berhenti mencari. Jadi, apa yang kamu cari?

Minggu, 20 Mei 2018

Surat Bertanda Tanya

Minggu, 20 Mei 2018 22.47 No comments
Aku ingin bercakap denganmu sebagai manusia. Sementara aku terpenjara dalam jasad yang fana. Dan tubuhmu telah tercerai berai menyisakan tanda tanya. Di sepanjang jalan berlumur cerca dan prasangka. Menuju mahkamah kesejatian yang tak menyisakan ruang bagi dusta dan sandiwara.

Minggu, 22 Oktober 2017

Menumpang Gerbong Kereta

Minggu, 22 Oktober 2017 03.23 No comments

lelaki berpakaian lusuh,
dengan bebat yang terikat
meredam laparnya
bermodal sekena receh di sakunya
berdesakan menumpang gerbong kereta

aku melihat matanya,
tulus berbinar penuh percaya
aku tak hendak menyapa,
sebab aku
di sela-sela jam kerja
menyapu gerbong kereta

yang mulia pandita nan bijak bestari
berseru lantang di gerbong depan
belakang lokomotif
tentang keadilan dan mimpi-mimpi
cerah di hari depan

tentu tak lupa
sepotong kue hidangan di meja
dan sekian lembar tiket percuma
sebagai imbal jasa

aku mencatat,
dan membuat sedikit perhitungan-perhitungan
ala kadarnya
di sela-sela jam kerja
menyapu gerbong kereta

ke mana kereta melaju?
aku berpikir sambil lalu
di tengah himpitan dunia orang dewasa
tagihan-tagihan, daftar hutang, dan batas-batas mati
di sela-sela jam kerja
menyapu gerbong kereta


R.D. 2017

pic credit: Steve Shreve - unsplash.com

Senin, 13 Februari 2017

Pulang

Senin, 13 Februari 2017 02.12 1 comment
pic: Maxwell Young - unsplash.com


sementara kita, hanyalah seutas tanaman jalar
yang tak semestinya tercerabut dari akar

adalah gugur detak detik jam
melabuhkanmu ke entah berantah
berpilin dan bersipagut dengan rupa-rupa takdir

masa lalu bukanlah hantu
dengan suara berderit derit yang menggapai gapai namamu
menebus lunas jarak itu
adalah tentang menghirup kembali denyar denyar kemanusiaanmu



R.D. 2017

Kamis, 21 Juli 2016

Berbicara

Kamis, 21 Juli 2016 22.32 No comments
Menarik bahwa ada yang menyebut media sosial sebagai suatu medan bagi perang ide. Benarlah, sebab tidak lain dalam peperangan yang ada hanyalah melempar serangan, serangan dan serangan. Tidak ada sedikitpun ruang untuk mendengar, nyaris tidak ada ruang untuk mengoleksi serpihan fakta yang utuh demi mencapai rekonsiliasi.

Bahwa di media sosial, banyak manusia dipaksa mengangkat senjata oleh karena gambaran parsial tentang seekor gajah. Alih-alih menjadi identitas prinsip yang luhur, ragam warna manusia seolah-olah menjelma penghalang, yang menihilkan keadilan sejak dalam pikiran.

Dan manusia dipaksa bicara, meski hakikat belum menampakkan batang hidungnya. Pun manusia dipaksa bicara, dengan sebuah pertaruhan atas keberadaan azasi dirinya. Locutus sum, ergo sum. Aku berbicara, oleh sebab itu aku ada.

Kamis, 31 Maret 2016

Melihatmu Terlelap

Kamis, 31 Maret 2016 01.32 , 1 comment

Aku tidak ingat berjanji,
apatah lagi bersepakat
untuk membunuhmu,
untuk mematikan kamu

Aku ingin membawamu terbangun
Sehingga kita berdua terbang
di antara udara
malam berkunang kunang
di dahan dahan pilang

Melahirkanmu kembali seperti
malam yang mendedahkan
bulir bulir embun di penghujungnya
Mengurapi semesta
di semurni murni keterjagaannya


R.D. 2016


pic: Gold Fireflies by Yuki Karo